DINAMIKA geopolitik global tengah bergeser dari Teluk Hormuz menuju Selat Malaka. Kegagalan blokade Donald Trump di masa lalu justru memicu strategi baru yang lebih agresif, menjadikan Selat Malaka sebagai titik nadir eksistensi China. Melalui doktrin Sea Power A.T. Mahan, Amerika Serikat memahami bahwa siapa pun yang menguasai jalur komunikasi laut (SLOC), ia menguasai nasib bangsa lain. Bagi China, Malaka adalah “cekikan” (Malacca Dilemma), mengingat 80% pasokan minyak mereka, termasuk dari Iran, bergantung pada celah sempit ini.
Secara teoritis, AS beralih dari strategi Sea Denial (menghalangi musuh) menuju Sea Control (penguasaan penuh) dengan skema Air Blanket yakni sebuah payung udara dan koridor maritim di wilayah kedaulatan negara pantai. Apabila Indonesia, Malaysia, dan Singapura memberikan “restu” atau akses ini, geofisika kawasan akan berubah total. Ini bukan sekadar latihan militer, melainkan persiapan blockade total untuk melumpuhkan ekonomi Beijing.
Dalam perspektif Sun Tzu, ini adalah strategi “mengepung tanpa menyerang langsung,” memaksa lawan menyerah karena kelaparan energi. Namun, PLA (Tentara Pembebasan Rakyat China) tidak akan tinggal diam. Mereka akan menerapkan konsep Fleet in Being, mempertahankan armada sebagai ancaman konstan di Laut China Selatan guna mencegah AS melakukan dominasi mutlak. Deployment pasukan akan melibatkan kapal induk kelas Fujian di sisi timur, sementara Sekutu (AUKUS) akan memperkuat pangkalan di sekitar Selat Malaka untuk mengunci pintu masuk.
Secara eskatologis (akhir zaman) atau teori nubuat (wahyu atau pesan Illahi), ketegangan di perairan timur ini sering dikaitkan dengan “Perang Besar” di akhir zaman. Sejarah mencatat betapa membaranya Laut China Selatan saat Inggris berjaya dan kini, api yang sama siap tersulut kembali. Posisi Indonesia berada di persimpangan krusial.
Menjaga Netralias Kawasan
Apabila Indonesia gagal menjaga netralitas aktifnya, kedaulatan kita bukan lagi soal tanah, melainkan soal mejadi saksi bisu bagi benturan dua raksasa yang memicu kiamat geopolitik.Indonesia berdiri di ambang sejarah di mana arus laut tak lagi sekadar membawa kapal, melainkan membawa takdir peradaban.
Sadarilah, bahwa kedaulatan bukan diberikan oleh restu kekuatan asing, melainkan direbut melalui ketegasan menjaga setiap jengkal air kita. Ketika Selat Malaka bergolak, hanya bangsa yang memiliki kemandirian jiwa dan kekuatan armada yang akan tetap tegak berdiri di tengah badai api akhir zaman. Ini bukan lagi soal politik, ini adalah soal bertahan hidup di tengah nubuatan yang menjadi nyata.
Dalam lanskap peperangan modern, geometri konflik tidak lagi hanya diukur melalui koordinat peta, melainkan bergeser ke arah asimetris dan hibrida yang melenyapkan batas antara garis depan dan garis belakang. Indonesia kini memasuki era Perang Kognitif, dimana medan tempur utamanya adalah otak manusia. Melalui Information Warfare, Selat Malaka tidak hanya akan diblokade secara fisik oleh kapal perang, tetapi juga diblokade secara persepsi melalui narasi sistematis yang melumpuhkan daya juang lawan sebelum peluru pertama ditembakkan.
“Psychological Warfare”
Filosofi peperangan ini mengandalkan Psychological Warfare tingkat tinggi yang menyerang fondasi kepercayaan masyarakat dan pengambil kebijakan. Dengan menggunakan algoritma dan disinformasi, musuh berusaha mengubah cara pandang kita terhadap kedaulatan, membuat pengkhianatan seolah-olah terlihat seperti kerja sama strategis, dan penyerahan kedaulatan udara dirasa sebagai langkah keamanan yang logis. Inilah esensi dari geometri peperangan baru: sebuah serangan yang tidak terlihat namun menghancurkan mentalitas bangsa.
Indonesia dan negara-negara pantai harus menyadari bahwa kekuatan militer tradisional (kapal dan pesawat) tidak akan cukup jika ketahanan kognitif bangsa ini runtuh. Indonesia harus mampu membedakan antara manuver geopolitik yang nyata dengan fatamorgana informasi yang dirancang untuk memecah belah persatuan regional. Kemenangan sejati dalam perang masa depan bukan terletak pada siapa yang menghancurkan kapal paling banyak, melainkan siapa yang mampu menjaga integritas pikirannya di tengah badai manipulasi global./
Jakarta, 18 April 2026
Oleh: Salim M. Phil, Ketua Dewan Pakar KPPMI (Kesatuan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Pesisir Indonesia), Kandidat Doktor Universitas Airlangga.




