www.bisnistoday.co.id
Jumat , 1 Mei 2026
GagasanOPINI

Ruang Hidup

Suroto
Social Media

“Dinnn!!!…dinnn!!!!…dinnnn….!!!! demikian bunyi beruntun klakson  mobil mewah Toyota Alphard yang sangat keras itu.

“Bangsat kamu! Kenapa kamu parkir motor seenak perutmu sendiri??!, untung belum gue tabrak itu motor butut elo!”, hardik laki-laki bertampang klimis dengan potongan cepak semi militer dari balik mobil Alphard mewahnya itu.

“Iya pak, maaf pak..iya..maafkan saya pak….”, jawab laki laki kurus jangkung yang kaget mendengar suara klakson itu sembari menggeser motornya.

“Maaf-maaf! gue gaplok baru tahu loe!!”, hardik laki-laki cepak itu lagi.

Ketika klakson meraung, laki pemilik sepeda motor tadi sedang makan sup bersama saya di warung tenda pinggir jalanan.  Dia terlihat sangat ketakutan, dan itu tersirat dari wajahnya yang kuyu dengan dahi hitamnya yang penuh kerutan menebal yang seakan gambarkan beban berat hidupnya.

Saya lirik isi mobil itu ketika pintunya terbuka. Aku pastikan bukan sopir mobil itu. Kalau bukan bosnya, mungkin ajudannya. Atau apa siapa saja. Barangkali gedibal boss-nya. Tidak penting.

Itulah bunyi kekerasan yang saya lihat dan saya dengar setelah seharian hanya berkutat di kamar sempit flat saya. Seperti malam-malam sebelumnya, saya selalu keluar untuk mencari makan di pinggir-pinggir jalan. Mengisi perut  ala kadarnya.

Di luar bunyi-bunyi kekerasan tadi,  saya juga lihat ada yang berbeda dari deretan warung tenda depan flat saya. Ada yang jual martabak, kebab, ayam goreng, sup, sate, bakso, dan lain lain.

Warung-warung tenda itu terlihat bertambah banyak saja. Kondisinya masing-masing sepi. Mungkin karena gerimis. Tapi bisa jadi juga karena daya beli rakyat sedang memburuk akibat krisis ekonomi di masa pandemi. Mereka mungkin mengirit makan malam dengan nasi garam dan sayur bening buatan sendiri di rumahnya saja.

Dari deretan warung tenda itu juga saya lihat ada yang jualan ayam goreng baru. Betapa sebelahnya juga terlihat jualan ayam goreng yang sama. Wajah penjual ayam goreng yang baru terlihat cuek dengan penjual ayam goreng sebelahnya. Mereka terlihat riil sedang “perang dingin”. Dalam hati si penjual ayam goreng yang baru mungkin bilang “peduli amat!, ini Jakarta, siapa yang mau berikanku makan kalau tak jualan seperti ini”.

Saya tahu, mereka yang jualan itu juga sebetulnya bukan pemilik dari warung-warung tenda itu. Tapi mereka kebanyakan hanya pekerja. Mereka rata-rata punya bos. Hanya sedikit yang dikelola sendiri. Juragan atau majikan yang menyuruhnya jualan. Mereka digaji saja. Berapapun omsetnya, gajinya sama. Tentu di bawah upah minimum Jakarta.

Warung-warung itu juga sering saya lihat disambangi oleh rentenir. Para pekerja itu ternyata juga korban rentenir harian yang mencekik.  Pinjam 100 ribu, bayar harian dengan bunga mencekik hingga 30 persen. Pinjaman 100 ribu, terima uang 90 ribu dan mengembalikannya diangsur hingga 120 ribu baru lunas. Mengambil untuk kebutuhan beli pulsa buat WhatApp (WA)-an dengan pacar atau istri atau suaminya di kampung Tasik, Grobokan, Madura, Banyumas dan lain lain.

Mereka umumnya memang bukan orang dari kampung ini (Jakarta). Orang-orang Betawi jarang yang jualan, biasanya mereka memilih jadi satpam, atau sopir. Mereka hidupnya juga lebih baik karena masih punya kamar kos-kosan yang berupa petak-petak sempit.  Dan para pengekosnya adalah buruh proletaar dari daerah-daerah. 

Jakarta ini memang begitu padat dan berisik. Bunyi Toa Mesjid-nya juga lebih banyak. Orang menegang begitu senggolan di jalan. Di daerah yang tinggali sekarang ini bahkan sering terjadi tawuran jalanan dari anak-anak muda yang perebutkan kapling “pak ogah” (puteran mobil). Bahkan sering tawuran sampai meregang nyawa dan beberapa terkena bacokan clurit panjang  di dada, di kepala, di punggung.

Ruang-ruang hidup rakyat bawah (miskin) ini telihat begitu berdarah darah. Mereka sudah tak peduli lagi dengan hidup orang lain. Berebut peluang dan berebut sesuap nasi dan nyawapun mereka pertaruhkan.

Sembari menyelesaikan makan sup tetelan tulang- tulang sapi, saya merenung. Betapa beratnya hidup rakyat kecil di bawah. Mereka kadang membuat hati saya bergetar dan getir.

Betapa tidak, para elite penguasa dan konglomerat di atas hidup penuh kemewahan dan mereka merampok uang rakyat begitu mudahnya dengan hanya melakukan kongkalikong dan memainkan teken. Sementara rakyat di bawah ruang hidupnya terus dirambah dan dikeruk dan diperas.

Mereka (para elite penguasa dan konglomerat)  asik merampok uang rakyat di tengah pandemi dengan istilah-istilah yang sulit dimengerti rakyat bawah, seperti Dana Penempatan, Modal Penyertaan, Write off,  Holding Ultra Mikro, Domestic Price Obligation, dan lain lain.

Tak hanya itu, ruang-ruang hidup rakyat yang sempit dan  jadi sumber  penghasilan mereka dengan ketrampilan dan mod terbatas dengan  jualan kebutuhan hidup sehari-hari seperti jualan mie, kopi dan teh pun mereka rampas dengan menjamurnya cafe-cafe lux yang tak lagi memperhitungkan untung rugi karena mereka sekedar melakukannya demi hobi.  Agrrhhh….!!!/

Oleh Suroto: Pengamat Koperasi dan UMKM

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Related Articles

HUT ke-6 Bisnistoday.co.id
IndepthOPINI

Enam Tahun Perjalanan Bisnistoday.co.id Menjaga Muruah Jurnalisme

JAKARTA, Bisistoday - Perkembangan dunia digital telah mengubah cara masyarakat dalam mengakses...

Kopdes Merah Putih
Gagasan

Barang Subsidi Mesti Didistribusikan Melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

DALAM perspektif teori ekonomi, barang bersubsidi pada hakikatnya merupakan bagian dari barang...

Selat Hormuz
Gagasan

Setelah Hormuz, Ketegangan Geopolitik Bakal Beralih ke Selat Malaka

DINAMIKA geopolitik global tengah bergeser dari Teluk Hormuz menuju Selat Malaka. Kegagalan...

Aktifitas Tambang
Gagasan

Harga Komoditas Mulai Melonjak, Indonesia Butuh” Windfall Tax” Agar Penerimaan Tidak Terlewat

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah sebaiknya segera mengevaluasi ulang serta memberlakukan aturan baru...