JAKARTA, Bisnistoday – Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia menyatakan, hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan namun harus tetap dijaga agar tidak mengakibatkan kesehatan memburuk. Pengendalian tekanan darah bagi yang hipertensi bisa dilakukan dengan perubahan gaya hidup serta terapi obat.
Hal tersebut diterangkan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (Indonesian Society of Hypertension /InaSH), dr. Erwinanto, Sp. JP(K), FIHA kepada media secara daring dalam Peringatan Hari Hipertensi Dunia, Kamis (12/5).
Berdasarkan pusat pembiayaan jaminan kesehatan, hipertensi paling banyak mengakibatkan penyakit kardiovaskuler, sekitar 49% sedangkan kanker sebesar 18% dan penyakit lainnya adlah stoke dan gagal ginjal.
Erinanto menjelaskan, kasus di Amerika Serikat hipertensi merupakan penyakit yang menjangkiti mayoritas penduduk. Setelah hipertensi, penyakit lainnya faktor obesitas, disusul hipercolesteroemia, baru terakhir dengan jumlah yang cukup besar adalah diabetes.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Elvieda Sariwati mengatakan hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, hipertensi yang tidak terdeteksi jumlahnya terus meningkat.
Elvieda menyebutkan, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes 2018 tentang prevalensi hipertensi di Indonesia ditemukan kejadian hipertensi di Indonesia sebesar 34,1% tahun 2018 dengan prevalensi tertinggi di provinsi Kalimantan Selatan sebesar 44,13%, dan terendah di Papua sebesar 22,2%.
Dari data yang sama, Elvieda mengutarakan, hanya sebesar 8,8% penderita hipertensi yang terdiagnosis dan hanya 50% yang minum obat secara teratur. Hal ini didukung oleh data Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) tahun 2022, penderita hipertensi yang berobat secara teratur sebesar 27,15%.
“Ini menjadi tantangan buat kita semua untuk menanggulangi hipertensi. Alasannya kenapa tidak minum obat teratur karena masyarakat merasa sehat karena tidak memiliki gejala,” terangnya./









































