JAKARTA, Bisnistoday – Forum G-20 yang akan digelar di Bali pada pertengahan November 2022 harus mampu menghasilkan komitmen kesepakatan perdamaian dunia. Forum para pemimpin dunia ini, bagitu genting ditengah kondisi dunia dilanda dampak perang Rusia dan bakal meluas. Kendati dalam forum G20 tidak merupakan agenda utama dalam pertemuan para kepala negara.
“Perang Rusia harus sedapat mungkin dihentikan. Sebab, apabila dibiarkan, akan terjadi suasana semakin membesar dan sulit dikendalikan. Kahadiran di PBB juga tidak efektif untuk menyelesaikanya karena yang berkonflik memiliki hak veto. Rusia, Cina, AS, Inggris, Perancis,” ujar Prof. Hikmahanto Juwana, Presiden AsianSIL & Pakar Hukum Internasional saat Acara Gelora Talks : Babak Baru Perang Rusia-Ukraina dan Apa Dampaknya bagi Dunia? di Jakarta, Rabu (9/11).
Menurut Hikmahanto, jalan yang paling strategis adalah mempertemukan para kepala negara yang berkonflik dalam sebuah forum seperti KTT G20 di Bali. Disini, seluruh kepala negara dan pemerintahan hadir. “Kalau penyelesaian di PBB, paling tinggi mengutus perwakilan. Jadi pertemuan G20 ini bisa langsung bawa keputusan. Dan forum apa lagi yang bisa mempertemukannya?” cetusnya.
Hikmahanto mengharapkan, Presiden Rusia Vladimir Putin bisa hadir di G20 Bali. Seharusnya, pemerintah Indonesia berupaya sekuat mungkin menghadirkan Putin di G20 nanti. Perang dunia III, menurutnya, sudah diambang pintu dan kehadiran para kepala negara dalam pembahasan ini akan efektif.
Sekarang ini, lanjutnya, dampak perang sudah meluas seperti krisis energi, seperti di Jerman mengimbau untuk warganya mempertebal baju jaketnya dan juga di Inggris juga mengalami hal serupa. Sedangkan di para pengungsi sekitar Ukraina terus meningkat.
Suasana panas, ketika kongres AS datang ke Taiwan, sedangkan Cina juga merapat ke Rusia. Seolah, negara besar tersebut sangat sensitif dan memanas. Kedatangan Ketua Kongres AS ke Taiwan seolah konfirmasi dukung kemerdekaan Taiwan, dan Cina merespon negatif.
“Ini moment dan pertemuan besar, dan negara harus memfasiltasi berbagai pertemuan para kepala negara ini. Pertemuan ini mesti mengedepankan upaya perdamaian. Berbagai negara berkembang sudah mengalami dampak dan bukan hanya negara besar saja. Setidaknya, harus ada kesimpulan komitmen tak gunakan kekerasan, itu saja sementara,” ujarnya.
Eskalasi Perang Meningkat
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Partai Gelora Indonesia Henwira Halim mengatakan, ekskalasi perang Rusia dan Ukraina terus meningkat. Rusia kini, melakukan strategi baru memerdekakan untuk empat negara, dengan membentuk dukungan jejak pendapat warga setempat.
Disaat inipun, lanjut Wira, Eropa akan dilanda musim dingin sehingga membuat kekhawatiran sendiri karena pasokan gas terganggu. Isu lainnya seberapa besar AS membantu Ukraina yang diperkirakan hasil pertengahan pemilihan umum.”Suasana cederung memperlihatkan situasi memanas,” terangnya./



