JAKARTA, Bisnistoday – Masyarakat mengeluhkan adanya lonjakan harga beras di pasaran bahkan di beberapa area mengalami kelangkaan. Wajar saja, beras merupakan barang yang menjadi sasaran kampanye para kontestan pemilu 2024.
“Beras mahal dan bahkan mengalami kelangkaan di beberapa tempat. Karena beras, merupakan bagian komoditas yang menjadi sasaran untuk bahan kampanye. Beras di minimarket banyak yang langka,” kata Ketua Umum Komite Ekonomi Rakyat Indonesia (KERIS), dr. Ali Mahsun Atmo, MBiomed, di Jakarta, Senin (12/2).
Ali mengatakan, didalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum sendiri, pemberian apapun kepada masyarakat tidak diperbolehkan, terkait pemilu 2024. Hanya saja, para kontestan sendiri tidak kalah akal, dengan cara mengharuskan masyarakat untuk menebus ala kadarnya.
“Ini sebenarnya tidak boleh diberikan, untuk mempengaruhi rakyat, tetapi syaratnya harus ditebus, bisa Rp5.000 per bungkus, atau Rp10.000 per bungkus,” tuturnya.
Sedangkan efek bencana alam atau pengaruh iklim, lanjut Ali Mahsun, yang mempengaruhi ketersediaan stok beras hanya relative kecil.” Memang ada pengaruhnya, seperti banjir yang menghambat distribusi, tetapi rasanya kecil pengaruhnya,” tegasnya.
Ali Mahsun mengatakan, kelangkaan harga beras ini harus segera ditangani sesegera mungkin ditengah waktu menjelang pencoblosan Rabu, 14 Februari 2024. Kelangkaan beras bisa menjadi pemicu amarah para pendukung paslon yang kalah, versi quick count, waktu pencoblosan.
“Kami meminta Presiden Jokowi segera lakukan tindakan, dengan perintahkan Kapolri, Mendag, Bapanas, maupun Bulog melakukan antisipasi dan distribusi kelangkaan beras agar terjangkau. Apalagi situasi yang panas secara politik, bisa memicu chaos,” tegasnya.//







































