www.bisnistoday.co.id
Minggu , 26 Juli 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Geopolitik Global Dinilai Beri Tekanan Jangka Pendek, Indonesia Diminta Waspada
Ekonomi & Bisnis

Geopolitik Global Dinilai Beri Tekanan Jangka Pendek, Indonesia Diminta Waspada

Pelabuhan
CRANE Memindahkan kontainer di perlabuhan./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Ketegangan geopolitik dunia kembali menjadi sorotan para analis. Lonjakan risiko, terutama yang berkaitan dengan energi, dinilai berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi, meski diperkirakan hanya bersifat sementara.

Analis Ekonomi PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai dinamika global, termasuk tensi yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela, perlu dicermati ketat karena berdampak langsung pada harga minyak dunia.

“Dampak negatif risiko geopolitik dan energi sebagai pengubah permainan potensial tidak berlangsung lama. Namun, perkembangan ini tetap memerlukan pemantauan ketat,” ujar Novani.

Indonesia sebagai net importir minyak berpotensi menanggung konsekuensi lebih besar jika harga minyak melonjak. Defisit migas bisa melebar dan pada akhirnya menggerus surplus perdagangan yang selama ini menjadi bantalan ekonomi.

Surplus Masih Bertahan

Dalam laporan terbaru, Indonesia masih mencatat surplus perdagangan USD 2,7 miliar pada November, memperpanjang rekor positif menjadi 67 bulan. Namun fondasinya dianggap melemah karena lebih didorong oleh turunnya impor, bukan meningkatnya ekspor.

Ekspor justru tercatat turun baik secara bulanan maupun tahunan, imbas normalisasi harga komoditas serta permintaan global yang melambat.

“Ekspor November berada di level terendah sejak Mei 2025. Ini menandakan berakhirnya front-loading menjelang penerapan tarif, di tengah moderasi permintaan global,” tulis laporan tersebut.

Tantangan Ke Depan

Ke depan, para analis memperkirakan surplus masih bertahan hingga 2026,  tetapi ruangnya makin sempit. Impor non-migas diperkirakan meningkat karena konsumsi jelang Lebaran, percepatan proyek pemerintah, serta menggeliatnya aktivitas produksi.

Di sisi lain, ekspor komoditas tidak lagi mendapat “durian runtuh” dari lonjakan harga seperti beberapa tahun terakhir. Akibatnya, peran surplus perdagangan sebagai penyangga terhadap gejolak global akan berkurang.

Stabilitas nilai tukar dan transaksi berjalan pun diperkirakan semakin sensitif terhadap arus modal dan sentimen risiko global.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Agrinas Palma Jajaki Kerja Sama dengan Ashok Leyland Untuk Kendaraan Perkebunan

JAKARTA, Bisnistoday - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menerima kunjungan perusahaan otomotif...

TransNusa
Ekonomi & Bisnis

TransNusa Bersama Singapore Tourism Board Tawarkan Tarif Penerbangan Spesial dan Promo Fly-Cruise Terbaru

JAKARTA, Bisnistoday - Wisatawan Indonesia akan segera memiliki lebih banyak alasan untuk...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop Pastikan Arah Penguatan Koperasi Saat Dialog dengan Penggerak Koperasi di Pamekasan

PAMEKASAN, Bisnistoday – Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono memberikan arahan sekaligus berdialog...