JAKARTA, Bisnistoday – Ketegangan geopolitik dunia kembali menjadi sorotan para analis. Lonjakan risiko, terutama yang berkaitan dengan energi, dinilai berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi, meski diperkirakan hanya bersifat sementara.
Analis Ekonomi PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai dinamika global, termasuk tensi yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela, perlu dicermati ketat karena berdampak langsung pada harga minyak dunia.
“Dampak negatif risiko geopolitik dan energi sebagai pengubah permainan potensial tidak berlangsung lama. Namun, perkembangan ini tetap memerlukan pemantauan ketat,” ujar Novani.
Indonesia sebagai net importir minyak berpotensi menanggung konsekuensi lebih besar jika harga minyak melonjak. Defisit migas bisa melebar dan pada akhirnya menggerus surplus perdagangan yang selama ini menjadi bantalan ekonomi.
Surplus Masih Bertahan
Dalam laporan terbaru, Indonesia masih mencatat surplus perdagangan USD 2,7 miliar pada November, memperpanjang rekor positif menjadi 67 bulan. Namun fondasinya dianggap melemah karena lebih didorong oleh turunnya impor, bukan meningkatnya ekspor.
Ekspor justru tercatat turun baik secara bulanan maupun tahunan, imbas normalisasi harga komoditas serta permintaan global yang melambat.
“Ekspor November berada di level terendah sejak Mei 2025. Ini menandakan berakhirnya front-loading menjelang penerapan tarif, di tengah moderasi permintaan global,” tulis laporan tersebut.
Tantangan Ke Depan
Ke depan, para analis memperkirakan surplus masih bertahan hingga 2026, tetapi ruangnya makin sempit. Impor non-migas diperkirakan meningkat karena konsumsi jelang Lebaran, percepatan proyek pemerintah, serta menggeliatnya aktivitas produksi.
Di sisi lain, ekspor komoditas tidak lagi mendapat “durian runtuh” dari lonjakan harga seperti beberapa tahun terakhir. Akibatnya, peran surplus perdagangan sebagai penyangga terhadap gejolak global akan berkurang.
Stabilitas nilai tukar dan transaksi berjalan pun diperkirakan semakin sensitif terhadap arus modal dan sentimen risiko global.//








































