JAKARTA, Bisnistoday – Arab Saudi dan pejuang militan Houthi yang pro-Iran saling melancarkan serangan di tengah eskalasi terbaru selama perang regional antara Amerika Serikat dan Iran. Saudi yang menjadi sekutu AS menyerang Kota Hodeidah di Yaman yang dikuasai Houthi.
Serangan tersebut terjadi setelah pertahanan udara Saudi mencegat rudal balistik yang menargetkan kilang minyak di Yanbu, sementara Houthi juga mengklaim serangan terhadap kapal tanker minyak Saudi.
Menurut Al Jazeera, eskalasi ini telah menimbulkan kekhawatiran baru atas keamanan Selat Bab el-Mandeb, titik penting jalur maritim untuk pengiriman minyak antara Timur Tengah, Eropa, dan Asia.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dialog antara Washington dan Teheran terus berlanjut dan ancaman serangan besar-besaran mungkin tidak perlu, meskipun AS tetap siap siaga.
Akan tetapi, di lapangan pasukan AS Amerika terus melakukan operasi militer terhadap Iran, sementara Teheran telah melancarkan serangan terhadap target AS dan sekutunya di kawasan tersebut.
Fakta yang bertentangan dari Washington dan Teheran telah membuat pasar sangat sensitif terhadap indikasi apa pun bahwa diplomasi dapat berhasil atau gagal. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan Teheran tidak takut akan ancaman atau menyerah pada tekanan.
Kemungkinan konfrontasi yang lebih luas tetap menjadi risiko besar bagi pasar energi global, terutama karena konflik tersebut telah mengganggu pengiriman di sekitar Selat Hormuz. Pembatasan lalu lintas lebih lanjut melalui selat tersebut dapat berdampak jauh lebih besar pada pasokan dan harga minyak global.
Fluktuatif
Pasar minyak telah bereaksi tajam terhadap eskalasi tersebut. Pada Kamis, 23 Juli, minyak mentah Brent ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, mencapai US$100,69 setelah naik 7% dalam satu sesi. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada US$92,19.
Harga minyak turun pada Jumat seiring munculnya laporan bahwa Tiongkok mendorong dimulainya kembali pembicaraan damai AS-Iran. Brent mengakhiri pekan di sekitar US$96,78 per barel dan WTI di US$89,31, tetapi kedua patokan tersebut masih mencatat kenaikan mingguan yang kuat. Brent naik sekitar 9,9% untuk pekan ini, sementara WTI naik sekitar 8,3%.
Kekhawatiran utama bagi pasar minyak tidak lagi terbatas pada potensi kerusakan fasilitas produksi. Para pedagang semakin fokus pada keamanan dua jalur pelayaran penting: Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Ancaman Houthi terhadap pelayaran Saudi dapat mengganggu aliran minyak melalui Laut Merah, sementara gangguan berkepanjangan di Hormuz akan menimbulkan ancaman yang jauh lebih besar terhadap pasokan global. Arab Saudi memiliki jalur ekspor alternatif, tetapi kapasitasnya terbatas dibandingkan dengan volume yang biasanya bergerak melalui Teluk.
Jika konflik meluas dan baik Selat Hormuz maupun Selat Bab el-Mandeb menghadapi gangguan yang berkepanjangan, Brent dapat tetap di atas US$100 per barel dan berpotensi naik secara signifikan. Sebaliknya, gencatan senjata yang kredibel atau kesepakatan diplomatik antara AS dan Iran dapat dengan cepat meredakan kekhawatiran pasokan dan mendorong harga lebih rendah.
Oleh karena itu, dalam jangka pendek, harga minyak kemungkinan akan tetap sangat fluktuatif. Setiap serangan militer, insiden kapal tanker, dan terobosan diplomatik mampu menggerakkan pasar beberapa dolar per barel.//






































