JAKARTA, BISNISTODAY – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengungkapkan angka resmi terbaru mengenai perang AS-Israel melawan Iran sebesar US$37,5 miliar atau hampir setengah triliun rupiah.
Hegseth mengkonfirmasi angka tersebut selama sidang di hadapan komite anggaran Senat pada Selasa (21/7/2026) waktu setempat. Sebelumnya, ia dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine mendapat cercaan pertanyaan terkait permintaan mereka untuk anggaran pertahanan AS sebesar US$1,5 triliun, termasuk hampir US$70 miliar untuk perang dengan Iran.
Namun demikian, angka tersebut jauh lebih rendah daripada perkiraan lain, terutama yang mencakup biaya tidak langsung bagi konsumen AS. Sebagai contoh, Moody’s Analytics memperkirakan biaya domestik perang tersebut mencapai hingga US$150 miliar, dengan memperhitungkan faktor-faktor seperti kenaikan harga energi AS.
“Perkiraan yang kami miliki hingga hari ini adalah US$37,5 miliar,” kata Hegseth saat ditanya oleh Senator Demokrat Dick Durbin, seperti dilansir Al Jazeera.
Hegseth menambahkan bahwa harga tersebut mencakup beberapa biaya operasional dan pemeliharaan hingga akhir September, tetapi tidak memberikan rincian spesifik.
Angka terbaru ini sekitar US$8 miliar lebih tinggi daripada angka sebelumnya yang dirilis oleh pemerintahan Presiden Donald Trump sebesar US$29 miliar pada bulan Mei.
Hegseth hadir di hadapan komite saat pertempuran antara AS dan Iran terus berkobar, setelah nota kesepahaman (MoU) yang telah menghentikan serangan Sejak 17 Juni, dilanggar pekan lalu.
Pada Senin, menjelang malam ke-10 berturut-turut serangan AS, Trump mengatakan serangan itu merupakan balasan terhadap Iran atas tewasnya dua tentara AS pada akhir pekan lalu.
Selama pekan lalu, Trump mengancam akan menargetkan pembangkit energi dan jembatan di Iran; mengirim pasukan darat untuk merebut Pulau Kharg Iran; dan mengebom situs bawah tanah yang terkait dengan fasilitas nuklir yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe.
Sejauh ini, serangan itu menargetkan situs-situs yang digunakan Iran untuk menegaskan pengaruhnya atas Selat Hormuz, titik pengaruh utamanya dalam konflik tersebut.
Balasan Iran
Sementara itu, Iran bersumpah untuk terus menyerang aset AS di wilayah Timur Tengah. Serangkaian serangan terbaru menyebabkan pabrik desalinasi dan pembangkit listrik terbakar di Kuwait, serta lokasi lain yang terkena serangan di Bahrain dan Yordania. Kelompok Houthi di Yaman, sekutu dekat Iran, juga telah mendeklarasikan blokade maritim terhadap Arab Saudi.
Dalam pernyataan pembukaannya, Hegseth menyinggung tekanan pada persediaan senjata AS akibat perang, yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari.
Ia mengatakan pendanaan dibutuhkan untuk memperluas jalur produksi dan mempercepat pengiriman amunisi yang sangat dibutuhkan. “Kita berbicara tentang motor roket padat, JDAM [Joint Direct Attack Munition], hipersonik, dan kemampuan anti-drone,” ujarnya.
Senator Demokrat Patty Murray mempertanyakan permintaan tambahan anggaran tersebut, yang juga mencakup permintaan pendanaan untuk pengerahan Garda Nasional di Washington, DC, operasi AS terhadap terduga penyelundup narkoba di Karibia, dan patroli militer di perbatasan AS. “Jadi, saya akan terus terang, sejujurnya, permintaan Anda tidak masuk akal,” katanya.//






































