JAKARTA,Bisnistoday: Langkah diplomatik mengejutkan terjadi di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tiba-tiba menarik kembali ancamannya untuk melancarkan serangan dahsyat terhadap Iran, kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan, Selasa (7/4).
Trump mengaku ia menunda ancaman serangannya terhadap jembatan, pembangkit listrik, dan target sipil lainnya di Iran, karena Teheran telah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dan pembukaan kembali Selat Hormuz, kawasan yang selama ini menjadi jalur distribusi seperlima minyak dunia.
Pihak Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan telah menerima proposal gencatan senjata tersebut secara bersyarat jika serangan terhadap Iran dihentikan.
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan jalur melalui Selat Hormuz akan diizinkan selama 2 minggu ke depan di bawah pengelolaan militer Iran.
Perundingan dengan AS akan diadakan pada 10 April 2026 di Islamabad, Pakistan. Namun, Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pembicaraan dengan AS ini tidak berarti berakhirnya perang.
10 Poin
Iran juga mengajukan 10 poin sebagai syarat dalam perundingan ini. Menurut media pemerintah Iran, sepuluh poin tersebut mencakup sejumlah syarat yang sebelumnya ditolak oleh AS.
Guardian menyebutkan di antara 10 syarat tersebut adalah transit terkontrol melalui Selat Hormuz yang dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata Iran dan penarikan semua pasukan AS dari pangkalan regional.
Rencana tersebut juga akan mensyaratkan pencabutan semua sanksi primer dan sekunder, pembayaran kompensasi penuh kepada Iran, dan pelepasan semua aset Iran yang dibekukan.
Media pemerintah Iran juga mengatakan bahwa rencana 10 poin untuk mengakhiri perang akan mengharuskan Washington untuk menerima program pengayaan uraniumnya, yang sebelumnya ditentang oleh pemerintahan Trump.
Menurut para pengamat politik Timur Tengah, diterimanya 10 poin ini menunjukkan posisi Trump yang lemah dalam perundingan ini.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Trita Parsi, dari Quincy Institute, mengatakan perang AS-Israel yang lebih luas dengan Iran akan merugikan Trump.
“Dia banyak bicara tentang langkah-langkah eskalasi, tetapi semua orang di kawasan itu tahu bahwa jika Anda menyerang sumber daya energi dan pembangkit listrik Iran, mereka akan membalas terhadap negara-negara sekutu AS di Timur Tengah dan kita akan mengalami krisis energi yang jauh lebih buruk daripada sekarang,” kata Parsi.//



















![Seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke hutan yang terbakar di wilayah Lege-Cap-Ferret, Prancis barat, pada 24 Juli 2026 [Caroline Blumberg/AP]](https://bisnistoday.co.id/wp-content/uploads/2026/07/Karhutla-680x533.jpg)


















