JAKARTA, Bisnistoday- Kinerja PT Bank Sahabat Sampoerna sepanjang tahun 2025 tetap terjaga ditengah kondisi global kian tidak menentu. Sedangkan, Dana Pihak Ketiga (DPK) terus melimpah mencapai Rp13,44 triliun guna mendukung pemberdayaan UMKM.
“Situasi ini tentu tidak mudah, terutama di tengah kondisi global dan domestik yang masih dipenuhi tantangan serta perlambatan permintaan di dalam negeri yang tercermin dari moderasi konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan kredit yang lebih terbatas, khususnya pada sektor UMKM,” ungkap Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra di Jakarta, Selasa (14/4).
Namun begitu, lanjut Hengky, Bank Sampoerna memberikan dukungan UMKM, baik melalui pembiayaan maupun pendampingan, serta berkolaborasi dengan mitra-mitra strategis. “Komitmen ini tercermin dari komposisi penyaluran kredit UMKM yang mencapai 57,16% dari total kredit yang disalurkan per Desember 2025,” ujar Henky.
Ia mengatakan, UMKM memiliki peran strategis dalam keseluruhan ekonomi nasional. Apabila terjadi perlambatan ekonomi yang menggerus pelaku UMKM, dampaknya akan terasa secara menyeluruh. Oleh karena itu, Bank Sampoerna terus berupaya untuk memberikan dukungan melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan pada sektor UMKM.
Kondisi NPL Terjaga
Hengky menambahkan, Bank Sampoerna kembali menitikberatkan penyaluran kredit yang berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Pada akhir tahun 2025, Bank berhasil menjaga rasio Non- Performing Loan/NPL Gross sebesar 3,79% dengan NPL Net sebesar 2,28%, lebih baik dari posisi akhir tahun 2024.
Guna mendukung penyaluran kredit UMKM, Bank Sampoerna menghimpun komposisi dana pihak ketiga naik menjadi Rp13,44 triliun dengan mencatat komposisi dana murah (CASA) mencapai 22,73% dibandingkan dengan akhir tahun 2024 sebesar 16,12%. Peningkatan tersebut berkontribusi untuk memperkuat komposisi rasio dana murah korporasi, yang mencerminkan meningkatnya kepercayaan nasabah.
Adapun, total aset Bank Sampoerna juga mengalami peningkatan sepanjang tahun 2025 sebesar 2,69% menjadi Rp18,2 triliun. Pertumbuhan ini juga diiringi dengan penguatan di sisi permodalan, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 29,72%, mencerminkan kesiapan modal untuk pertumbuhan secara berkelanjutan.
CEO Bank Sampoerna, Ali Yong menegaskan, adopsi teknologi dalam sistem perbankan menjadi hal yang esensial. Pihaknya mendukung penguatan digitalisasi sistem korporasi dengan menyediakan infrastruktur yang andal berbasis Bank as a Service (BaaS).
“Dalam menjangkau nasabah dan pelaku UMKM secara lebih luas, kami menyadari tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karena itu, kami terus membuka peluang kolaborasi guna memberikan nilai tambah bagi nasabah hingga ke pelosok negeri. Melalui layanan BaaS, saat ini sudah lebih dari 50 perusahaan fintech, multifinance, koperasi, dan institusi keuangan lainnya yang terlibat untuk menjembatani nasabah masuk dalam ekosistem keuangan digital,” ungkapnya./










































