JAKARTA, Bisnistoday – Pada September 2024, masyarakat dunia terkejut dengan meledaknya ribuan pager dan walkie-talkie yang digunakan oleh anggota Hizbullah. Insiden yang terjadi di Libanon itu berlangsung secara tiba-tiba dan hampir bersamaan. Intelijen Israel diduga kuat bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Tahun lalu, laporan oleh Al Jazeera juga menimbulkan kekhawatiran tentang penggunaan infrastruktur cloud dan data yang terkait dengan perusahaan teknologi besar AS dalam operasi pengawasan Israel terhadap warga Palestina.
Dua contoh itu menunjukkan bagaimana perangkat komunikasi biasa telah diubah menjadi senjata. Bagi banyak cendekiawan, ekonom, dan pemikir politik, perkembangan tersebut mencerminkan lebih dari sekadar perubahan sifat konflik. Hal itu menunjukkan bagaimana kekuasaan di dunia modern semakin dijalankan bukan hanya melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui teknologi, keuangan, dan kendali atas informasi.
Argumen tersebut telah menghidupkan kembali perdebatan yang lebih luas seputar dekolonisasi, sebuah istilah yang secara historis dikaitkan dengan pembongkaran dominasi kekaisaran Eropa setelah Perang Dunia II, ketika negara-negara di Asia, Afrika, dan Timur Tengah memperoleh kemerdekaannya.
Namun, banyak pendukung apa yang disebut “teori dekolonial” (sebuah aliran pemikiran yang berpendapat bahwa sistem kekuasaan dan hierarki era kolonial masih membentuk politik, ekonomi, dan pengetahuan modern) berpendapat bahwa struktur kekuasaan kolonial tidak pernah sepenuhnya hilang. Sebaliknya, mereka berevolusi, tertanam dalam sistem keuangan global, platform teknologi, jaringan media, dan bahkan produksi pengetahuan itu sendiri.
Ketergantungan negara-negara berkembang (yang juga sering disebut Global South) pada teknologi Barat, infrastruktur digital, dan pasar global dapat menciptakan bentuk-bentuk kerentanan politik dan ekonomi baru, khususnya di seluruh wilayah ini.
“Satu generasi mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak pernah mengalami kolonialisme atau eksploitasi, namun secara mental, mereka mungkin masih hidup di bawah pengaruh kolonial, ” kata Esra Albayrak, Ketua Dewan Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan NUN yang juga putri Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, kepada Al Jazeera di sela-sela Forum Dekolonisasi Dunia di Istanbul pada 11-12 Mei 2026.
Menurutnya perang di Gaza menandai titik balik bagaimana prinsip-prinsip internasional tidak diterapkan secara merata. Lembaga-lembaga global sejauh ini gagal menghentikan apa yang oleh banyak negara dan kelompok hak asasi manusia, digambarkan sebagai genosida terhadap Palestina. “Dunia sedang membunyikan alarm, dan kita tidak bisa lagi tetap acuh tak acuh terhadapnya,” katanya.
Feodalisme teknologi
Albayrak berpendapat sejumlah perusahaan teknologi kini muncul sebagai pusat kekuasaan baru yang tak terlihat, membentuk bagaimana informasi diproduksi, diedarkan, dan dikonsumsi di era digital.
Ia menggambarkan ranah digital sebagai ranah yang disebutnya “kolonialisme masa depan”. Ia memperingatkan bahwa sistem AI yang sebagian besar dilatih berdasarkan data yang berpusat pada Barat, berisiko memperkuat ketidaksetaraan global.
“Ketika sistem AI dijalankan oleh perusahaan-perusahaan teknologi tersebut dan dilatih berdasarkan sumber-sumber Barat, mereka berisiko membawa hierarki masa lalu ke dunia digital masa depan, karena mereka sekarang memiliki data yang dipersonalisasi, yang menekan identitas,” kata Albayrak.
Ia menekankan bahwa sebagian besar model AI utama masih dilatih sebagian besar berdasarkan data berbahasa Inggris dan data yang dihasilkan Barat, sebuah pola yang menurut para kritikus berisiko mengesampingkan bahasa, budaya, dan perspektif non-Barat.
Di platform media sosial, algoritma cenderung memperkuat beberapa konflik sementara membuat konflik lain hampir tidak terlihat. Hal ini mengonstruksi apa yang dilihat, didiskusikan, dan diingat oleh miliaran pengguna secara daring.
Walter D. Mignolo, profesor di Universitas Duke, berpendapat meskipun apa yang secara historis kita lihat sebagai “kolonialisme formal” mungkin sebagian besar telah berakhir, sistem dominasi Barat terus berlanjut melalui ekonomi, budaya, teknologi, dan produksi pengetahuan.”Kolonialitas belum berakhir. Itu ada di seluruh dunia,” tegasnya.
Mignolo menilai gagasan modern tentang pembangunan dan kemajuan seringkali berdampak pada tekanan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma Barat.
Alih-alih hanya menentang sistem-sistem tersebut, menurutnya masyarakat harus segera menemukan cara untuk “bertahan hidup” dengan membangun kembali otonomi intelektual dan budaya di luar kerangka hegemoni global yang dominan.//








































