FIFA, Federasi Sepak Bola Internasional, saat ini sedang diterpa masalah, terutama terkait kepemimpinan Gianni Infantino. Sejumlah federasi yang berada di bawah FIFA maupun tokoh sepak bola seperti Luis Figo, menyatakan sudah tidak lagi memercayai presiden organisasi tersebut. Bahkan, penasehat senior FIFA, Carlos Cordiero telah menyatakan mundur sejak awal Agustus lalu.
Kritik terbaru datang dari Presiden La Liga (Liga Sepak Bola Spanyol), Javier Tebas. Pada 9 Agustus lalu, ia secara terang-terangan menyatakan bahwa era Infantino telah berakhir. Menurut Tebas, FIFA tidak hanya membutuhkan pemimpin baru tetapi juga perubahan mendasar dalam mengelola sepak bola.
Tebas menilai selama ini Infantino bekerja sesuai dengan kepentingannya sendiri daripada kepentingan sepak bola. Terlepas apakah penilaian itu merupakan sentimen pribadi, faktanya krisis kepercayaan terhadap Infantino semakin besar.
Pria berkebangsaan Swiss yang kini menjabat periode keduanya di FIFA, memang telah banyak mengubah organisasi tersebut secara komersial. Ia, misalnya, menambah peserta Piala Dunia dari yang semula 32 menjadi 48 negara. Bahkan, ia merencanakan untuk ‘menjual’ penyelenggaraan Piala Dunia kepada investor swasta, meski proposal itu akhirnya dibatalkan.
Dari sisi bisnis memang tidak ada yang salah dengan itu. Namun, parameter kepemimpinan bukan hanya diukur dari seberapa besar sebuah organisasi berkembang . Seorang pemimpin juga harus menghargai dan menghormati orang-orang yang terlibat dalam organisasi tersebut.
Masalahnya, Infantino tidak melakukan itu, termasuk rencananya ‘menjual’ Piala Dunia ke pihak swasta. Inilah yang membuat Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA), dan federasi di wilayah lainnya, termasuk Asia (AFC) dan Amerika utara (Concacaf), maradang. Mereka menuding FIFA, di bawah kepemimpinan Infantino, tidak transparan.
Bukannya menengahi atau menyelidiki tuduhan itu, sejumlah petinggi FIFA malah membela Infantino sehingga membuat konflik ini makin panas. Mereka bahkan balik menuduh para pengkritik dan media, berupaya menjatuhkan Infantino menjelang kongres FIFA, Maret tahun depan.
Baca juga: Gianni Infantino dapat Dukungan dari Petinggi FIFA
FIFA beralasan Infantino terpilih secara demokratis dan lawan-lawannya harus menghormati proses demokrasi yang semestinya. Dalam posisi ini, argumen itu benar. Seorang pemimpin memang tidak boleh dicopot hanya karena ia tidak populer di kalangan individu atau tokoh yang berpengaruh.
Menghargai perbedaan
Namun, ada perbedaan penting antara membela seorang pemimpin dan membela kepemimpinan. Mengapa semakin banyak orang tidak puas terhadap Infantino? FIFA semestinya mencari jawab pertanyaan itu, bukan malah langsung menuding dan membungkam para pengkritiknya.
Pernyataan Tebas sebenarnya adalah hal yang wajar. Ia cuma mempersoalkan budaya pengambilan keputusan dalam organisasi tersebut. Sejumlah federasi, termasuk dari Belanda dan Swedia, juga mempertanyakan hal yang sama.
Kasus yang terjadi di tubuh FIFA, mungkin bisa jadi pelajaran bagi lembaga atau institusi lainnya, entah itu PSSI, partai politik, perusahaan, maupun pemerintahan.
Seorang pemimpin memang tidak perlu harus setuju dengan para pengkritiknya, namun ia harus mampu menolerir perbedaan yang ada. Itu berarti mau mendengarkan kritik dan masukan tanpa merasa terhina dan menerima bahwa pengawasan tidak selalu berarti sabotase.//
oleh: Adiyanto, wartawan Bisnis Today





































