BANDUNG, Bisnistoday – Sampah elektronik atau electronic waste (e-waste) tidak bisa diperlakukan sama seperti sampah rumah tangga biasa. Jika dibuang sembarangan dan bercampur dengan sampah umum, komponen di dalam perangkat elektronik berpotensi mencemari lingkungan, terutama tanah dan air.
Risiko tersebut salah satunya berasal dari baterai dan sejumlah komponen elektronik yang mengandung material berbahaya. Ketika e-waste berada di tempat pembuangan dan terkena air hujan, material tersebut berpotensi terbawa bersama air dan mencemari tanah maupun air tanah.
“Kalau kita biarkan baterai atau handphone bercampur dengan sampah lainnya, kemudian terkena air hujan, air tersebut dapat mengandung logam berat seperti timbal, merkuri atau logam berat lainnya,” ujar Founder & CEO REMIND, Muhammad Dzikri Ahira Soefihara, Senin (14/9).
Karena itu, e-waste membutuhkan jalur pengelolaan khusus. Baterai bekas, misalnya, masih kerap ditemukan bercampur dengan sampah rumah tangga. Selain berpotensi mencemari lingkungan, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Di sisi lain, e-waste sebenarnya memiliki nilai ekonomi karena mengandung material yang masih dapat dimanfaatkan kembali. Melalui proses pemulihan dan daur ulang, material tertentu dari perangkat elektronik dapat dikembalikan menjadi bahan baku dan masuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan.
Persoalan tersebut menjadi semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan perangkat elektronik dan kebutuhan masyarakat terhadap perangkat digital. Untuk itu, diperlukan fasilitas yang dapat memudahkan masyarakat memisahkan dan menyerahkan perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan agar tidak berakhir di tempat pembuangan sampah umum.
Salah satu upaya tersebut dihadirkan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (XLSMART) bersama REMIND melalui program #ByeByeBox Campus Roadshow to ITB.
Program ini membawa E-Waste Reverse Vending Machine ke lingkungan kampus untuk mendorong pengelolaan e-waste yang lebih bertanggung jawab sekaligus mengenalkan prinsip ekonomi sirkular kepada generasi muda.
#ByeByeBox disebut sebagai E-Waste Reverse Vending Machine pertama di Indonesia. Perangkat ini dirancang untuk menjadi titik pengumpulan e-waste sekaligus sarana edukasi agar masyarakat lebih mudah membangun kebiasaan memilah dan menyerahkan perangkat elektronik ke jalur pengelolaan yang tepat.
Program berlangsung pada 14–28 September 2026, diawali dengan peluncuran di Aula Timur ITB pada 14 September dan dilanjutkan dengan aktivasi #ByeByeBox di area kampus hingga 28 September 2026.
Pengguna cukup membawa perangkat elektronik kecil yang sudah tidak digunakan dan mengikuti petunjuk pada layar. Perangkat kemudian dipindai dan divalidasi menggunakan kamera serta teknologi kecerdasan buatan (AI), ditimbang secara otomatis, kemudian diterima dan dicatat dalam sistem REMIND.
Targetkan 600 Kilogram E-Waste
Dalam tahap pertama kampanye hingga November 2026, XLSMART dan REMIND menargetkan pengumpulan sebanyak 600 kilogram e-waste. Seluruh e-waste yang terkumpul akan dicatat dan diukur sebagai bagian dari pengukuran dampak program.
Direktur & Chief Regulatory Officer XLSMART, Merza Fachys, mengatakan pengelolaan e-waste merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan seiring dengan pertumbuhan konektivitas dan teknologi digital.
“Melalui #ByeByeBox, kami ingin membuat pengelolaan e-waste menjadi lebih mudah, dekat, dan relevan bagi generasi muda. Program ini menjadi bagian dari perjalanan XLSMART dalam membangun ekosistem digital yang semakin bertanggung jawab dan berkelanjutan,” ujarnya.
Muhammad Dzikri Ahira Soefihara, menambahkan bahwa teknologi dalam #ByeByeBox digunakan untuk membuat proses pengumpulan, pencatatan, hingga pemulihan material menjadi lebih mudah dan terukur.
Material yang masih memiliki nilai dapat dipulihkan untuk dimanfaatkan kembali sesuai prinsip ekonomi sirkular. Dengan demikian, pengelolaan e-waste tidak hanya bertujuan mengurangi potensi pencemaran, tetapi juga mengambil kembali material berharga dari perangkat yang telah mencapai akhir masa pakainya.
ITB dipilih sebagai lokasi awal Campus Roadshow karena menjadi ruang yang mempertemukan teknologi, keilmuan, sustainability, dan aktivitas generasi muda. Program ini melibatkan kolaborasi XLSMART, REMIND, Ikatan Mahasiswa Metalurgi ITB, ITB, GSMA, serta BAPPENAS.
Dekan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Prof. Dr.Eng. Ir. Syafrizal, S.T., M.T., mengatakan kampus memiliki peran penting dalam mendorong solusi dan kebiasaan baru yang lebih berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/BAPPENAS, Nizhar Marizi, S.T., M.Si., Ph.D., menilai ekonomi sirkular membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda.
Keberhasilan program #ByeByeBox pun tidak hanya diukur dari berat e-waste yang terkumpul, tetapi juga dari jumlah partisipan, tingkat keterlibatan, perubahan perilaku, serta dampak pengelolaan yang dapat dilaporkan secara konkret dan terukur.
Melalui pendekatan tersebut, pengelolaan e-waste diharapkan tidak berhenti pada kegiatan membuang perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan, tetapi menjadi bagian dari perubahan perilaku menuju ekosistem digital yang lebih bertanggung jawab dan ekonomi yang lebih sirkular.










































