BANDUNG, Bisnistoday – Minat masyarakat Indonesia terhadap kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) terus menunjukkan perkembangan. Konsumen kini tidak lagi sekadar bertanya mengenai apa itu mobil listrik, tetapi mulai mempertimbangkan aspek yang lebih teknis seperti jarak tempuh, pengisian baterai, biaya operasional, hingga layanan purna jual.
Business Process Manager Wuling Kumala Group, Irfansyah Erwin, mengatakan perubahan pola pertanyaan konsumen tersebut menunjukkan bahwa pasar kendaraan listrik Indonesia mulai memasuki tahap yang lebih matang.
Menurutnya, konsumen kini sudah bergerak dari tahap awareness menuju consideration hingga adoption. Salah satu indikatornya terlihat dari meningkatnya penggunaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
“Sekarang konsumen sudah tidak lagi hanya bertanya apa itu mobil listrik. Pertanyaannya sudah bergeser menjadi berapa jarak tempuhnya, bagaimana charging-nya, berapa biaya operasionalnya, bagaimana baterainya, dan bagaimana layanan purna jualnya,” ujar Irfansyah, kepada Bisnis Today, Sabtu (12/9).
Meski minat terhadap mobil listrik meningkat, sejumlah faktor masih menjadi pertimbangan konsumen sebelum beralih dari kendaraan konvensional.
Irfansyah menyebut jarak tempuh, kemudahan charging, waktu pengisian baterai, usia dan keamanan baterai, resale value, serta kesiapan layanan purna jual menjadi pertanyaan yang cukup sering disampaikan konsumen.
Karena itu, menurutnya, dealer tidak hanya memiliki tugas menjual kendaraan, tetapi juga memberikan edukasi kepada calon pengguna.
Konsumen perlu memahami pola pengisian baterai sehari-hari, total cost of ownership, garansi, hingga perencanaan perjalanan luar kota.
“Semakin jelas ekosistem yang kita jelaskan kepada customer, semakin kecil kekhawatirannya,” katanya.
Untuk memberikan rasa aman, Wuling juga menawarkan lifetime warranty untuk sejumlah komponen tertentu, termasuk baterai, motor drive, dan motor control unit. Kendaraan listrik Wuling menggunakan baterai berjenis LFP yang diklaim memiliki sertifikasi IP67.
Infrastruktur Charging Jadi Faktor Penting
Menurut Irfansyah, ketersediaan infrastruktur charging, menjadi salah satu faktor utama yang membangun kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik.
Ia membagi kebutuhan pengisian daya menjadi dua. Home charging memberikan kemudahan untuk penggunaan sehari-hari, sementara SPKLU memberikan rasa percaya diri ketika pengguna melakukan perjalanan jarak jauh.
“Home charging memberikan daily convenience, sedangkan public charging memberikan mobility confidence,” jelasnya.
Perkembangan infrastruktur charging juga mulai terlihat di berbagai daerah. Selain PLN, sejumlah pusat perbelanjaan dan hotel mulai menyediakan fasilitas pengisian kendaraan listrik.
Pengguna juga dapat memanfaatkan aplikasi PLN Mobile untuk mengetahui lokasi SPKLU sekaligus melihat ketersediaan konektor sebelum melakukan pengisian.
Irfansyah juga menilai pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik membutuhkan kolaborasi antara industri otomotif, PLN, dan pemerintah.
Industri otomotif berperan menyediakan produk dan teknologi kendaraan. Sementara PLN mendukung ekosistem kelistrikan dan infrastruktur charging. Dealer kemudian menjadi titik edukasi dan pendampingan bagi konsumen.
Ia mengatakan kolaborasi juga diperlukan untuk mempercepat pemasangan home charging sehingga proses transisi dari kendaraan konvensional menuju mobil listrik menjadi lebih mudah.
Ke depan, menurut Irfansyah, ada tiga hal yang perlu diperkuat, yakni accessibility, affordability, dan confidence.
Infrastruktur charging harus semakin luas dan mudah ditemukan. Harga kendaraan listrik juga perlu semakin terjangkau, dengan tetap mempertahankan keunggulan biaya operasional.
Sementara itu, edukasi mengenai baterai, keamanan, charging, garansi, layanan purna jual, dan total biaya kepemilikan perlu terus ditingkatkan.
“Masa depan kendaraan listrik Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak EV yang kita jual, tetapi seberapa mudah masyarakat menggunakannya,” pungkas Irfansyah.








































