www.bisnistoday.co.id
Minggu , 23 Agustus 2026
Home NASIONAL & POLITIK Lingkungan DBS Foundation Dukung Social Enterprises Ciptakan Dampak Berkelanjutan Untuk Komunitas Rentan
Lingkungan

DBS Foundation Dukung Social Enterprises Ciptakan Dampak Berkelanjutan Untuk Komunitas Rentan

DBS Bank
Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation memperkuat ekosistem social enterprises berbasis ekonomi sirkular melalui DBS Foundation Grant./
Social Media

BANDUNG, Bisnistoday – Krisis lingkungan dan kesenjangan ekonomi yang kian mendesak membutuhkan solusi bisnis yang dapat menjaga bumi sekaligus mengangkat taraf hidup masyarakat rentan. Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation memperkuat ekosistem social enterprises berbasis ekonomi sirkular melalui DBS Foundation Grant. Program ini memberikan pendanaan, pendampingan, akses jejaring, hingga peluang kolaborasi bagi para pelaku usaha berdampak agar dapat memperbesar skala bisnisnya.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah isu pengelolaan limbah yang turut berdampak pada keberlanjutan ekonomi komunitas agraris dan pesisir. Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mencatat 21,85 persen dari 56,63 juta ton sampah tahunan Indonesia belum terkelola dengan maksimal.

Di saat bersamaan, Indonesia memiliki 17,25 juta petani gurem (Sensus Pertanian BPS) dan lebih dari 90 persen nelayan skala kecil (Kementerian Kelautan dan Perikanan) yang berada dalam kondisi rentan secara ekonomi. Melihat tantangan ini, dua DBS Foundation Grantees Parongpong RAW Lab dan MYCL, membuktikan bahwa bisnis dapat memberikan solusi ganda. Keduanya berhasil mengurangi limbah sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru untuk memperkuat penghidupan masyarakat sekitar.

“Kami percaya bahwa bisnis dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan. Melalui DBS Foundation Grant Program, kami ingin membantu social enterprises memperkuat fondasi bisnisnya, mengakses jejaring yang relevan, serta memperbesar dampak bagi komunitas yang membutuhkan. Parongpong RAW Lab dan MYCL menunjukkan bagaimana inovasi lokal dapat menjawab isu lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi nelayan, petani, dan masyarakat yang selama ini berada di rantai nilai yang rentan,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika.

Mengubah Jaring Ikan Bekas

Sebagai DBS Foundation Grantee 2025, Parongpong RAW Lab mendapatkan dukungan untuk memperkuat Ghost Net Circular Economy & Coastal Community Empowerment Program di Cilincing, Jakarta, dan Muncar, Banyuwangi. Program ini dirancang untuk mengubah jaring ikan bekas atau ghost net menjadi material bernilai tambah, sekaligus membuka akses pendapatan tambahan, pelatihan, dan keterlibatan ekonomi bagi komunitas pesisir. Dalam dua tahun, program ini menargetkan pengumpulan 20 ton ghost net, mendukung lebih dari 600 nelayan, melibatkan 1.000 anggota komunitas pesisir, serta pendirian dua microfactory untuk memperkuat kapasitas produksi lokal.

Hingga Agustus 2026, Parongpong telah menyelesaikan studi kelayakan di kedua lokasi dengan melibatkan 105 responden, mengumpulkan lebih dari 4.500kg ghost net atau sekitar 46 persen dari target 2026, serta melibatkan 179 nelayan. Program edukasi juga telah menjangkau 150 siswa di Muncar. Dari sisi infrastruktur, platform digital traceability SISA telah digunakan untuk mencatat pengumpulan jaring, kapasitas pengolahan telah meningkat menjadi unit operasional 100 liter di Bandung, dan pengembangan produk berbasis ghost net telah menghasilkan Circulites, seri lampu meja dengan diffuser dari Prototiles® berbahan jaring bekas.

“Dukungan DBS Foundation membantu kami membangun sistem yang lebih menyeluruh, mulai dari pengumpulan material, edukasi komunitas, peningkatan kapasitas teknologi, hingga pengembangan produk yang dapat diterima pasar. Bagi kami, dampak tidak berhenti pada pengurangan limbah, tetapi juga bagaimana komunitas pesisir dapat mengambil peran aktif dalam rantai ekonomi sirkular dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik,” ungkap CEO & Founder Parongpong RAW Lab Rendy Aditya Wachid.

Inovasi Sirkular Berbasis Jamur dan Rumput Laut

MYCL, yang merupakan DBS Foundation Grantee 2016 dan 2018, menjadi contoh bagaimana dukungan berkelanjutan dapat membantu social enterprise bergerak dari tahap inovasi menuju skala yang lebih besar. Berawal dari pengembangan material berbasis mycelium untuk mengolah limbah pertanian menjadi alternatif material yang lebih berkelanjutan, MYCL kini memiliki portofolio yang mencakup mycelium composite, mycelium leather, dan seaweed biopolymer. Inovasi tersebut tidak hanya mendukung transisi industri menuju material rendah dampak, tetapi juga membuka peluang nilai tambah bagi petani dan pekerja hijau di rantai pasok biomaterial.

Dukungan DBS Foundation membantu MYCL memperkuat fondasi bisnis dan inovasinya, termasuk pendaftaran dua paten yang kemudian dikabulkan pada 2019 dan 2023, tiga merek dagang, serta sertifikasi B Corp yang menjadi bagian penting dari tata kelola dampak perusahaan. Hingga 2026, MYCL telah melayani 968 pelanggan dari 56 negara dan mengembangkan aplikasi material ke berbagai kebutuhan, mulai dari fesyen, insulasi bangunan, hingga solusi berbasis mycelium untuk teknologi bernilai tambah tinggi. MYCL juga telah menjalin kerja sama dengan Vivobarefoot dan pemasok tingkat pertama Adidas, yang menunjukkan meningkatnya penerimaan pasar global terhadap biomaterial dari Asia Tenggara.

Dari sisi dampak lingkungan dan sosial, pada 2025 MYCL memanfaatkan 61,72 ton limbah biomassa, menghindari sekitar 148,75 ton CO2e dari biomassa yang berpotensi dibakar atau dimulsa, serta meng-upcycle 1,70 ton limbah substrat kembali ke rantai nilai. Dibandingkan kulit hewan, produksi biomaterial MYCL juga mencatat penghematan sekitar 39.887 liter air dan penurunan emisi sekitar 27,5 ton CO2. Melalui model produksi tersebut, MYCL turut memberikan manfaat bagi lebih dari 200 petani, lebih dari 600 penerima manfaat tidak langsung dari keluarga petani, serta menciptakan lebih dari 60 lapangan kerja hijau di MYCL Eco Factory.

“Bagi MYCL, dukungan DBS Foundation tidak hanya membantu kami mengembangkan teknologi, tetapi juga memperkuat fondasi agar inovasi dapat tumbuh menjadi bisnis berdampak. Dengan mengolah limbah pertanian menjadi biomaterial, kami ingin menciptakan material alternatif yang lebih rendah dampak, sekaligus membangun rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani, pekerja, dan industri yang ingin bergerak menuju masa depan yang lebih sirkular,” jelas Co-founder Mycotech Lab Ronaldiaz Hartantyo./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Lingkungan

MOKAKU 2026 Galakkan Gerakan Satu Mahasiswa Satu Pohon

BANDUNG, Bisnistoday - Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggalakkan gerakan satu mahasiswa satu...

Kampoeng Rajoet
Lingkungan

Dari Botol Plastik Jadi Benang, Kampoeng Rajoet Binong Jati di Bandung Dorong Ekonomi Sirkular

BANDUNG, Bisnistoday -  Upaya mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai terus dikembangkan...

Karhutla (Ilustrasi: Unsplash/Matt-Palmer)
GagasanLingkungan

Amuk Api di Lahan Kerontang

SEJUMLAH peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi sepanjang pekan ini, yakni...

Kegiatan Sedekah Hutan di FIB UI, Sabtu (8/8/2026) (dok:Adi/Bisnistoday)
EKONOMILingkungan

Memaknai Hutan sebagai Ruang Hidup Melalui Sedekah Hutan

JAKARTA, Bisnistoday – Sabtu (8/8/2026) pagi, ratusan orang yang umumnya mengenakan budaya...