www.bisnistoday.co.id
Kamis , 13 Agustus 2026
Home NASIONAL & POLITIK Lingkungan AC dan Politik Kenyamanan dalam Budaya Urban
Lingkungan

AC dan Politik Kenyamanan dalam Budaya Urban

Sejumlah partai politik sayap kanan kini membingkai penggunaan AC sebagai bukti kebebasan pribadi yang mereka tuding dibatasi oleh peraturan terkait lingkungan.

Foto R
SERANGKAIAN AC yang berada di salah satu bidang gedung, belum lama ini./
Social Media

Air Conditioner (AC) atau alat pendingin ruangan, kini tengah jadi perdebatan seru di Eropa, bahkan sampai bawa-bawa ideologi segala. Pemicunya adalah gelombang panas (heatwave) yang kini sedang terjadi di sana. Tidak hanya memicu panas menyengat, fenomena cuaca ini ternyata juga sanggup mendidihkan tensi politik.

Tidak seperti di sejumlah kota besar di Indonesia, penggunaan AC di Eropa tidak terlalu masif. Untuk mengatasi gerah saat musim panas, mereka mendesain kota dengan fasilitas ruang publik yang teduh, membuat ventilasi yang memudahkan sirkulasi udara pada bangunan, hingga membangun pusat pendingin komunal, ketimbang memasang AC di rumah-rumah.

Namun, panas yang kelewat menyengat di Eropa akhir-akhir ini (bahkan konon mencapai 40 derajat Celsius), bikin orang bule itu blingsatan, kegerahan. Apalagi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia, lebih dari 1.300 orang telah meninggal akibat terdampak suhu yang terlampau ekstrem sejak 21 Juni lalu. Kebanyakan dari korban terdampak adalah lansia.

Hal inilah yang memicu perdebatan tentang perlu tidaknya penggunaan AC. Harus diakui, iklim yang terus berubah tidak hanya mengubah lingkungan fisik tetapi juga mengubah harapan orang terhadap kenyamanan, baik di rumah maupun dalam menjalani kehidupan di perkotaan sehari-hari. Dulu, di era 80-an, kita mungkin masih nyaman berkendara di Jakarta tanpa dilengkapi AC, sekarang Anda mungkin bakal basah kuyup dan menggerutu sepanjang jalan.

Begitu juga barangkali yang dialami masyarakat Eropa sekarang. Suhu yang kian panas, membuat keberadaan pendingin udara secara bertahap bergeser dari yang dianggap sebagai simbol kemewahan, menjadi salah satu fitur keselamatan, kesehatan, dan bahkan inklusi sosial, khususnya bagi lansia dan populasi yang rentan secara medis.

Para ahli kesehatan umumnya mendukung perluasan penggunaan pendingin udara di rumah sakit, sekolah, panti jompo, dan transportasi umum, karena ruang-ruang ini melayani populasi yang rentan. Namun, pemasangan AC secara masif di rumah, tetap memicu kontroversi karena kekhawatiran tentang konsumsi energi, meningkatkan akumulasi panas di perkotaan, dan keberlanjutan lingkungan jangka panjang.

Komoditas politik

Debat seputar pendingin udara inilah yang kini sedang terjadi di Eropa, terutama di Prancis dan Jerman. Sebuah artikel yang diunggah  The Guardian, pekan lalu, menyebutkan partai-partai politik sayap kanan kini membingkai penggunaan AC sebagai bukti kebebasan pribadi yang mereka tuding dibatasi oleh peraturan terkait lingkungan.

Di Jerman, Partai Alternative fur Deutschland (AfD)  menuduh pembatasan penggunaan AC sebagai konsekuensi dari apa yang mereka sebut sebagai ideologi iklim yang berlebihan, sementara di Prancis, National Rally juga mendesak pemanfaatan AC sebagai solusi praktis mengatasi cuaca panas. Partai sayap kanan pimpinan Marine Le Pen itu juga menentang kebijakan iklim yang lebih luas, seperti pengunaan energi terbarukan yang berlebihan dan reformasi efisiensi energi.

Baca juga: Apa itu Kubah Panas yang dapat Memicu Suhu Ekstrem?

Perdebatan seputar penggunaan AC ini menggambarkan bagaimana teknologi memperoleh makna politik. Alih-alih hanya berfungsi sebagai infrastruktur, alat itu menjadi simbol identitas politik yang bersaing untuk diekspresikan. Teknologi itu dimanfaatkan sebagai penanda akal sehat, pilihan individu, atau perlawanan terhadap tata kelola lingkungan, tergantung pada posisi ideologis mereka yang menggunakannya.

Perkakas itu kadang juga memicu perdebatan kecil saya dengan anak-anak di rumah. Akan tetapi, masalahnya bukan pada perbedaan budaya atau pandangan politik, tapi pada tagihan rekening listrik yang sering membengkak. Maklum, perekonomian di konoha lagi gelap sehingga memaksa kami mesti berhemat. //

Oleh: Adiyanto, Wartawan Bisnis Today

 

 

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Kampoeng Rajoet
Lingkungan

Dari Botol Plastik Jadi Benang, Kampoeng Rajoet Binong Jati di Bandung Dorong Ekonomi Sirkular

BANDUNG, Bisnistoday -  Upaya mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai terus dikembangkan...

Karhutla (Ilustrasi: Unsplash/Matt-Palmer)
GagasanLingkungan

Amuk Api di Lahan Kerontang

SEJUMLAH peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi sepanjang pekan ini, yakni...

Kegiatan Sedekah Hutan di FIB UI, Sabtu (8/8/2026) (dok:Adi/Bisnistoday)
EKONOMILingkungan

Memaknai Hutan sebagai Ruang Hidup Melalui Sedekah Hutan

JAKARTA, Bisnistoday – Sabtu (8/8/2026) pagi, ratusan orang yang umumnya mengenakan budaya...

Dim-sum Diusulkan jadi Nama Topan (dok:Unsplash.com/thefreebirds)
Lingkungan

Dim-sum Diusulkan jadi Nama Topan

JAKARTA, Bisnistoday – Dim-sum, makanan yang di Indonesia mirip Siomay, suatu saat...