www.bisnistoday.co.id
Jumat , 25 September 2026
Home NASIONAL & POLITIK Humaniora Ahli Bahasa UPI Ingatkan Tantangan Besar di Balik Rencana Pengajaran Bahasa Portugis di Sekolah
Humaniora

Ahli Bahasa UPI Ingatkan Tantangan Besar di Balik Rencana Pengajaran Bahasa Portugis di Sekolah

Social Media

BANDUNG, Bisnistoday – Meski dinilai visioner, rencana pemerintah menjadikan bahasa Portugis sebagai pelajaran prioritas menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Ahli Bahasa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kholid Harras, menyoroti minimnya sumber daya manusia.

“Indonesia praktis kekurangan guru bahasa Portugis maupun Spanyol,” ujarnya, Senin (27/10/2025).

Ia menilai Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam pengajaran bahasa asing yang sudah ada, seperti bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Jepang, dan Korea.

“Yang sudah lama diajarkan saja kondisinya belum baik, apalagi menambah bahasa baru,” tegasnya.

Kholid mencontohkan, di Bandung jumlah SMA dengan jurusan bahasa sangat terbatas, sementara mayoritas sekolah masih berfokus pada jurusan IPA dan IPS.
Keterbatasan guru tersertifikasi di bidang bahasa menjadi hambatan utama.

Selain itu, minat masyarakat terhadap bahasa Portugis dan Spanyol masih rendah.

“Bagi banyak orang tua dan siswa, bahasa Inggris tetap dianggap sebagai mata uang global paling bernilai,” katanya.

Tanpa bukti manfaat konkret, kebijakan ini dikhawatirkan hanya diminati kalangan urban dan memperlebar kesenjangan antara pusat dan daerah.

Tantangan lain adalah integrasi kurikulum yang semakin padat dan berorientasi ujian.

“Menambah bahasa baru berarti menambah beban belajar siswa. Tanpa reformasi struktural, ini bisa memperburuk stres pelajar dan meningkatkan angka putus sekolah,” jelasnya.

Kholid juga menyoroti ketimpangan infrastruktur pendidikan, terutama di kawasan timur Indonesia.

“Buku ajar dan akses internet masih jadi kemewahan di beberapa daerah,” ujarnya.

Mengacu pada teori Second Language Acquisition (SLA) dari Krashen, Chomsky, dan Vygotsky, Kholid menegaskan penguasaan bahasa baru memerlukan lingkungan dan motivasi yang mendukung.

Untuk itu, sebelum rencana ini diterapkan nantinya, pemerintah perlu terlebih dulu menyiapkan ekosistem pembelajaran yang matang dari kurikulum, guru, hingga komunitas bahasa. Tidak cukup hanya target administratif.

“Kebijakan ini punya potensi strategis besar, tapi tanpa perencanaan matang, bisa berakhir sebagai simbol diplomatik semata gagah di forum internasional, tapi rapuh di ruang kelas,” pungkasnya. DN

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Humaniora

Dukung Program Prioritas Pendidikan 2027, Komisi X DPR RI Setujui Pagu Kemendikdasmen Rp89,1 Triliun

JAKARTA, Bisnistoday.co.id — Komisi X DPR RI menyetujui penyesuaian pagu Kementerian Pendidikan...

Humaniora

Hutama Karya dan IKA ITS Academy Berkolaborasi Bahas “Business Streamlining” BUMN Berbasis Nilai dan Tata Kelola

JAKARTA, Bisnistoday– PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) melalui Direktur Human Capital...

Univ. Paramadina
Humaniora

Pendidikan Gratis hingga PTN, Presiden Prabowo Tinggal Lanjutkan Fondasi yang Telah Terbangun

JAKARTA, Bisnistoday– Gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk menggratiskan biaya pendidikan di satuan...

Humaniora

Revitalisasi Satuan Pendidikan Dorong Peningkatan Kualitas Sekolah di Bangkalan

BANGKALAN, Bisnistoday– Pemerintah Kabupaten Bangkalan mengapresiasi dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah...