JAKARTA, Bisnistoday – Sering ditemui ada hewan peliharaan apakah itu Anjing, Kucing, Burung atau Reptil yang mengalami berbagai kendala komunikasi dengan pemiliknya (Owner). Kendala komunikasi dengan hewan peliharaan, akan menyebabkan berbagai persoalan, hewan bisa marah, ngembeg, cuek, tak mau makan, sering keluar rumah dan sebagainya. Jangan khawatir, bahasa hewan bisa diketahui dengan bantuan Animal Communicators.
Seperti contohnya, Christine Cingcing atau lebih dikenal Ci Cing Cing, seorang Animal communicator practitioner cukup dikenal di Jakarta dan sekitarnya khususnya BSD Tangsel. Menurutnya, bahasa hewan sebenarnya bisa dipelajari secara bertahap melalui khusus bahasa hewan. Terpenting, sebagai komunikator harus menyamakan frekuensi Bahasa dengan hewan peliharaannya (frekuensi Alfa).
Seperti layaknya, handphone, gelombang Alfa inilah, sebagai media untuk berkomunikasi antara dirinya dengan hewan peliharaan sendiri atau peliharaan orang lain. “Bahkan kami juga meretas dengan komunikasi hewan yang sudah mati sekalipun. Kita tarik, dengan frekuensi alfa. Seperti Dogi, Kucing, Sugar Glader, Burung Macau, Kucing Besar, Citah bahkan Macan.”
Cing Cing, mengaku mempelajari bahasa hewan ini sejak lima tahun terakhir. Pertama ia berkomunikasi dengan hewan Anabul, ingin tahu apa hati atau perasaannya. Semua bisa dipelajari dengan sekolah, dan dokter malah yang mengajarkan, untuk animal, manusia, tumbuhan.”Ini bisa dipelajari dengan khursus, per sekali datang bayar bisa.”
Sebelum dilakukan penggalian bahasa, Cing Cing meminta data animalnya, seperti foto, umur, pemilik (ownwer)-nya. Mereka biasanya, banyak hewannya mengalami kendala susah makan, pup sembarangan, ngambeg (marah), tak mau main dengan temen-temennya, atau pemilik cuek, murung, tak mau makan, atau tak mau dideketin.
Cing Cing menguraikan bahwa dirinya pernah diminta tolong menemukan burung kabur dari sangkarnya. Seperti dialami Koko Bisan, burungnya lepas. Setelah meditasi bahwa burungnya sudah dikandang orang lain atau diambil orang. Hal ini bisa menggunakan gelombang Alfa, dan berupaya untuk ditarik kembali ke ownernya.
Nah suatu ketika, burung Koko Bisan yang hilang itu, muncul di facebook orang lain. Kemudian ditemui orang sebagai pemilik facebook itu. Katanya, ia mendapatkan dari pasar burung dan akhirnya saling mengerti.
Untuk mengenali bahwa burung tersebut, adalah benar-benar burungnya, sebenarnya gampang, karena owner pastinya tahu siulnya, lagu apa yang dilantunkan, gerakan-gerakannya. Apabila memang sudah dimiliki pemilik baru, maka dicoba untuk dikomunikasikan ke pemiliknya.
“Bagi yang ingin konsultasi ada tarif konsultasi yakni Rp350 ribu per konsultasi, untuk tiga pertanayaan dengan waktu sekitar 30 menit. Bagi berminat, bisa direct messenger atau hubungi Christine Cing Cing.”
Mengenai keahliannya, Cing Cing mengaku lebih banyak belajar otodidak. Hingga sekarang, pasien sudah lebih dari 100 pasien yang ditangani. Apabila berkonsultasi bisa ikuti jadwalnya, bisa sebulan atau tiga bulan lagi waktunya. “Pakai video call WA, atau bisa zoom.”/



