www.bisnistoday.co.id
Selasa , 21 April 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis APBN Mesti Utamakan Belanja Produktif
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

APBN Mesti Utamakan Belanja Produktif

ISTANA NEGARA
ISTANA NEGARA di Jakarta, belum lama ini.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Ditengah ketegangan geopolitik dan krisis ekonomi global yang kian meningkat, pemerintah selayaknya untuk fokus pada perlindungan daya beli kaum marginal serta membelanjakan APBN secara produktif berorientasi jangka panjang. Masyarakat marjinal bakal makin menghimpit ketika harga komoditas pokok dan energi akan melambung terdampak perang global.

“Arahkan belanja ke arah yang bisa men-generate income secara positif, dan berdampak jangka panjang. Dengan demikian jaminan pertumbuhan ekonomi domestik akan lebih sustain menjadi lebih baik dalam jangka panjang,” ungkap Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif INDEF dalam diskusi ”Kebijakan dan Nasib Ekonomi di Tengah Ketegangan Perang Global”, di Jakarta, Sabtu (20/4).

Esther menuturkan, untuk mengatasi dampak Konflik global harus diupayakan fundamental ekonomi dalam negeri terus menguat. Tingkatkan devisa dan ekspor dari sektor pariwisata, pendapatan ekspor nonmigas, dan kurangi ketergantungan dari pihak luar. Fundamental kuat, akan mampu mengatasi shock dari pengaruh luar.

Sementara, Eisha Maghfiruha, Kepala Center of Digital Economy and SMEs, berpandangan, dalam kondisi global yang rentang, harus diutamakan menjaga stabilitas daya beli masyarakat dan melindungi golongan bawah. Hal ini sangat urgent diantara kebijakan yang harus diperhatikan dalam strategi pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional.

“Untuk menjaga daya beli agar tidak turun, pemerintah perlu mengendalikan harga-harga atau menjaga inflasi. BI dan pemerintah harus berperan penting menjaga dari sisi moneter,” tuturnya.

Tantangan ekonomi lainya, menurut Eisha, untuk sektor industri, eskalasi konflik akan berpengaruh pada naiknya harga-harga dan biaya produksi akibat kelangkaan input terutama imported input.

“Dibutuhkan kebijakan industri yang tepat untuk mendukung produktivitas industri. terutama industri prioritas nasional dan industri kecil menengah.” Hal lainnya, menurut Eshia, kebijakan foreign trader perlu ditujukan ke kawasan yang tidak terpengaruh konflik misalnya, Jepang, China, ASEAN, India dan juga negara tujuan non tradisional.

Ketegangan Goepolitik Meningkat

Ester Sri Astuti mengatakan, eskalasi konflik yang meningkat di Timur tengah dan terus berlangsungnya perang Rusia – Ukraine jelas akan membawa dampak ikutan pada naiknya harga-harga komoditas dan energy di pasar global. Indonesia akan terkena impact menyusul dampak akibat perang Rusia – Ukraine dan ditambah konflik kawasan Timur Tengah.

“Kenaikan harga minyak yang tinggi akan berpengaruh pada asumsi makro ekonomi APBN. Naiknya anggaran yang ada di APBN pasti akan terpengaruh. Diperkirakan timbul defisit APBN 2 -3 %,” tuturnya.

Apabila pemerintah tidak bisa memanage anggaran APBN, kata Esther, maka fiskal space akan jauh lebih kecil lagi. Sehingga pemerintah perlu melihat lagi berbagai anggaran belanja agar lebih efektif dan produktif tidak hanya konsumtif seperti makan siang gratis.

Peta Konflik Global

Asmiati Malik , Associate INDEF serta akademisi Universitas Bakrie, memperkirakan risiko global kemungkinan terjadi. Intelligent Economist Analyst menyebut, jika Donald Trump yang terpilih maka kemungkinan besar eskalasi perang akan luar biasa. “Namun, ada pandangan lain bahwa kebijakan ekonomi Trump cenderung ‘’inside”, tidak tertarik pada foreign policy perspective.”

Apbila, Joe Biden terplih, tidak akan terjadi perubahan signifikan terhadap foregin policy USA dan keberpihakan USA dan keinginan mempertahankan poros USA-Israel akan terus berlanjut. Maka perang Israel antara Iran-Palestina akan terus terjadi.

Hal lainnya yang perlu dicermati adalah extreem weather, dengan kemungkinan menengah dan tinggi. Seperti Elnino di Indonesia terjadi dampak cukup tinggi.

Apabila perang yang statusnya dalam skala medium ke tinggi, Israel- Iran- Hamas, dan juga Rusia -Ukraina, Eropa sudah punya strategi policy alternative baru bagaimana mereka mencari sumber gas atau minyak baru.

Komponen lainnya, lanjut Asmiati Malik, Eropa dan USA bersaing untuk penerapan teknologi hijau (green technology). China akan berada di tengah-tengah. Indonesia harus masuk dalam pusaran persaingan tersebut jika tidak ingin menjadi negara end user saja.

Sementara, analisis jika China menginvasi Taiwan. Di balik Taiwan ada proxy war Jepang, USA dan Indonesia akan mendapat spill over dari perang tersebut.

Terdapat 3 kekuatan besar sekarang, USA, China dan Russia. Dari persaingan tersebut Indonesia harus memikirkan strateginya untuk keluar dari masalah. Bidang energi, konsumsi energi Indonesia akan oil dan gas masih sangat besar.

Konsumen paling besar energi adalah China. Alur dagang China berproxy dengan Iran, rusia, Yaman, Turki. USA punya proxy Filipina, Vietnam, India, Israel, Egypt, Saudi Arabia.

“Jika terjadi perang, maka impact pada pricing of energy dan kedua, meningkatnya biaya logistik. 50% maritime trade ada di wilayah Perairan ASEAN – Indo Pasifik.”

Apabila terjadi perang China – India, maka bisa membatasi jalur kapal menuju China dan China harus mencari sumber energi baru. Jika Belt and Road Initiative belum jadi, maka China tetap harus mencari jalur laut.

“Dan untuk menuju Eropa China harus menelusuri jalur laut Afrika Selatan. Impactnya, biaya logistic barang dan jasa akan meningkat tajam.”

Sekitar 15% perdagangan wilayah global pasti melewati wilayah Teluk Aden menuju Terusan Suez. Jika terjadi konflik di teluk Aden – Yaman, maka trading path akan juga menuju Afrika Selatan yang berimpact pada kenaikan tinggi biaya logistic dan jasa.

Relatif Masih Aman

Asmiati Malik menuturkan, meski Indonesia relative aman ketika melewati teluk Aden tapi dampak trading global yang terhambat akan membawa akibat luas. Untungya partner dagang Indonesia lebih banyak ke arah Asia dan bukan ke Eropa dan USA.”Sementara sekitar 3% global maritime trade ada wilayah Terusan Panama Amerika.

“Perekonomian Indonesia akan terus terdampak signifikan dari besaran komponen ekspor, impor, investasi PMA dan komponen biaya high cost economy goods, and energy, serta logistic cost. Akan 2 kali lebih besar dari biaya rata-rata global,” ujarnya.

Ismiati Malik menuturkan, diversifikasi tujuan dan jenis ekspor, begitu juga dengan impor barang terutama untuk kebutuhan industri dalam negeri. Penguatan sektor pertanian dan perikanan amat perlu sebagai trade off energy dalam jangka pendek./

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Beritasatu Network

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Related Articles

Rully Arya Wisnubroto
BursaHEADLINE NEWS

Penguatan IHSG Masih Terbuka, Mirae Asset Ungkap Strategi Investasi Saat Pasar Volatile

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti peluang investasi di...

Utang Negara
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Bayang-Bayang “Debt Wall” 2026: Ujian Berat Fiskal Indonesia Saat Gejolak Global

JAKARTA, Bisnistoday - Indonesia menghadapi tantangan fiskal yang tidak ringan menjelang tahun...

Jalan Nasional
Ekonomi & Bisnis

Menteri Dody Ungkapkan Peran Penting Penilik Jalan Berlubang di Pantura Jawa

JAKARTA, Bisnistoday -  Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan peran penilik...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop dan Green X Buat MoU Terkait Pembangunan PLTS Untuk KDKMP di Wilayah 3T

JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Koperasi (Kemenkop) menjalin kerja sama dengan PT Energy...