JAKARTA, Bisnistoday— Bank Indonesia (BI) berpeluang mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2025. Prediksi ini disampaikan Ekonom Senior dan Associate Faculty LPPI, Ryan Kiryanto, yang menilai kondisi fundamental ekonomi masih membutuhkan stabilitas moneter sebelum ruang pelonggaran kembali dibuka.
Ryan menjelaskan bahwa pernyataan Gubernur BI pada RDG Oktober lalu sudah memberi sinyal bahwa bank sentral masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga asalkan inflasi terkendali dan nilai tukar rupiah stabil.
Namun, situasi terkini menunjukkan rupiah masih tertekan dalam satu bulan terakhir, sementara transmisi penurunan suku bunga sepanjang tahun ini yang sudah mencapai 125 basis poin masih berjalan lambat di sektor perbankan.
“Level BI Rate saat ini sudah cukup akomodatif dan mencerminkan stance yang pro-growth. Tidak harus ada penurunan suku bunga di RDG November,” ujar Ryan.
Walau suku bunga acuan sudah longgar, permintaan kredit masih tumbuh di kisaran 7% yoy angka yang dianggap belum ideal. Ryan menegaskan bahwa perlambatan ini bukan berasal dari sisi penawaran (supply), mengingat likuiditas perbankan masih sangat memadai.
“Persoalannya ada pada demand loan. Dunia usaha belum kuat meminta fasilitas kredit karena berbagai pertimbangan bisnis dan non-bisnis,” ujarnya.
Peluang Penurunan Suku Bunga di Desember
Meski November diperkirakan tanpa perubahan, peluang BI menurunkan suku bunga 25 bps menjadi 4,50% pada RDG Desember 2025 tetap terbuka. Syaratnya:
- Inflasi tetap pada kisaran 2,5%,
- Rupiah stabil,
- Arus modal keluar mereda secara konsisten.
Ryan menegaskan bahwa keputusan suku bunga selalu berbasis perkembangan indikator ekonomi terkini, bukan sekadar tuntutan pelonggaran moneter.
Dengan target pertumbuhan ekonomi 5,3%-5,4% pada kuartal IV 2025 dan 5,0%–5,1% untuk keseluruhan tahun, Ryan menilai kebijakan fiskal justru harus lebih agresif melalui paket stimulus dan berbagai insentif usaha.
“Kombinasi kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi modal untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,2%–5,4% pada 2026,” tambahnya. //




