JAKARTA, Bisnistoday – Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada Rabu (16/10) sepakat untuk mempertahankan BI Rate pada level 6% sebagai langkah tepat, terukur dan antisipatif. Hal tersebut diungkapkan oleh Ryan Kiryanto, Ekonom Senior & Associate Faculty LPPI di Jakarta.
“Keputusan RDG BI hari ini, Rabu (16/10) untuk menetapkan BI Rate tetap 6% merupakan keputusan bijak, tepat, terukur dan antisipatif dengan pertimbangan utama untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di tengah sinyalemen kuat meningkatnya ketidakpastian global,” tutur Ryan di Jakarta.
Setidaknya, lanjut Ryan Kiryanto, bahwa sinyal ini terlihat dari indeks dolar AS yang bertengger di atas ambang batas 100, berkisar 103. Begitupun, tertekannya beberapa mata uang negara-negara berkembang Asia, termasuk Rupiah, dalam beberapa pekan terakhir ini.
“Ditahannya BI rate diharapkan dapat mencegah atau menahan posisi Rupiah ke depannya tidak semakin melemah meskipun ada ekspektasi the Fed bakal menaikkan fed rate masing-masing sebesar 25 bps pada pertemuan Nopember dan Desember mendatang.”
Menurut Ryan Kiryanto, Bank Indonesia bertindak bijaksana dan taktis tidak mengubah stance kebijakan moneternya tetap pro-stability dengan memberikan ruang bergerak bagi perekonomian melalui kebijakan makroprudensial yang cenderung tetap pro pertumbuhan.
Dikatakan, bauran kebijakan BI ini didukung sistem pembayaran yang kian efisien diharapkan tetap akomodatif baik bagi sektor riil maupun sektor perbankan sehingga transmisi bauran kebijakan ini tetap pro pasar dan juga pro dunia usaha.
“Dengan demikian respon pelaku industri keuangan dan dunia usaha akan tetap optimis dan ekspansif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berkualitas, berkelanjutan dan inklusif.”//







































