DUNIA akademik Indonesia baru saja dihantam badai yang memalukan di panggung internasional. Kasus yang melibatkan nama Rifaldy Fajar, Prihantini, dan kelompoknya dalam dugaan pemalsuan puluhan abstrak penelitian berbasis Artificial Intelligence (AI) demi memburu travel grant (dana bantuan perjalanan) ke konferensi kedokteran di Kopenhagen, Denmark. Bukan sekadar pelanggaran etik biasa. Ini adalah sebuah pertunjukan manipulasi identitas yang kebablasan.
Demi bisa “jalan-jalan gratis” dan meraih branding instan, mereka ‘tega’ mempertaruhkan integritas ilmiah serta mencoreng nama baik seluruh komunitas peneliti Indonesia di mata dunia. Untuk memahami bagaimana kebohongan ini bisa terjadi, Kita dapat membedahnya dengan Teori Dramaturgi yang dicetuskan oleh sosiolog Erving Goffman (1959). Teori ini membagi kehidupan sosial layaknya sebuah pertunjukan teater, yang memisahkan area manusia menjadi dua Panggung Depan (Front Stage) dan Panggung Belakang (Back Stage).
Dunia dalam teori panggung diibaratkan sebagai panggung sandiwara, Pendekatan dramaturgis Goffman khususnya berintikan pandangan bahwa ketika manusia berinteraksi dengan sesamanya, mereka ingin mengelola kesan yang ia harapkan tumbuhkan pada orang lain terhadap. Untuk itu, setiap orang melakukan pertunjukan bagi orang lain.
Dalam pengantar bukunya, The Presentation of Self in Everyday Life, Goffman menyatakan perspektif yang digunakan ini adalah perspektif pertunjukan teater, prinsip-prinsipnya bersifat dramaturgis. Goffman membahas cara individu menampilkan dirinya sendiri dan aktivitasnya kepada orang lain. Caranya dengan memandu dan mengendalikan kesan yang dibentuk orang lain terhadapnya, dan segala hal yang mungkin atau tidak mungkin ia lakukan untuk menopang pertunjukannya di hadapan orang lain.

Satu Riset yang dilakukan oleh Yazidi,et all dengan judul “The Presentation Of The Self In The Digital World: Does Erving Goffman’s Social Interaction Theory Hold Up” Dunia digital dipengaruhi oleh realitas sekaligus mempengaruh realitas itu sendiri. Hal ini mendorong bahwa manajemen kesan yang asumsi dalam Teori Dramaturgi media sosial terbentuk secara digital di internet, lantas apa kaitannya dengan kasus riset bodong?
Media sosial membentuk topeng-topeng yang ingin ditampilkan selaras dengan hasil penelitian ini bahwa interaksi sosial berkomunikasi dalam ruang digital membentuk kesan ingin menampilkan diri sebagai individu yang terkesan hedonis yang mampu untuk berjalan-jalan di Luar Negeri.
Tampil Genius
Panggung Depan (Front Stage) sebagai Citra Peneliti Genius dan Berprestasi dipanggung depan, aktor sosial akan menampilkan performa terbaiknya demi membangun impresi (impression management) agar diakui oleh penonton. Dalam kasus ini, Rifaldy, Prihantini, dkk membangun sebuah panggung depan yang begitu megah.
Identitas Akademik yang Mentereng, Mereka memamerkan afiliasi dengan kelompok riset yang terdengar canggih seperti “AI-BioMedicine Research Group”, hingga mencatut institusi besar secara sepihak. Produktivitas diluar nalar, mengajukan hingga 15 bahkan 51 abstrak dalam satu kegiatan ilmiah, mencakup riset fiktif berskala global di lokasi ekstrem seperti pegunungan Andes di Peru, Lebanon, hingga Sudan Selatan.
Aparatus Panggung, ada yang mencurigakan salah satu perserta yang merupakan warga Negara Indonesia melihat Prihatini mengganti hijab yang sengaja ditukar-tukar antar-aktor demi mempresentasikan belasan paper sendirian saat konferensi berlangsung di Denmark. Serta klaim beasiswa internasional (Erasmus Mundus) dipasang sebagai kostum untuk meyakinkan audiens internasional bahwa mereka adalah akademisi muda yang genius dan aktif.
Di hadapan komite pemberi dana, panggung depan ini berhasil membuahkan hasil berupa travel grant. Mereka mendapatkan tepuk tangan dan fasilitas karena penonton di panggung depan hanya melihat dokumen yang tampak rapi.Panggung Belakang (Back Stage), Ironinya, Keindahan panggung depan tersebut runtuh seketika saat tirai panggung belakang (back stage) terkuak.
Panggung belakang adalah ruang privat di mana sang aktor melepaskan topengnya, merencanakan trik, dan menjadi diri mereka yang sebenarnya tanpa distorsi impresi publik. Ketika sesama peneliti asal Indonesia di konferensi tersebut merasa janggal dan mulai menginterogasi Prihantini di tempat, sang aktor gagal mempertahankan karakternya. Terbongkarlah apa yang ada di panggung belakang mereka.
Fakta bahwa riset-riset tersebut diduga kuat hanyalah hasil instan menggunakan alat bantu AI tanpa adanya subjek penelitian nyata. Minimnya pemahaman dasar aktor terhadap paper yang ia bawa sendiri, hingga manipulasi nama dosen dan orang tua tanpa izin demi meloloskan administrasi. Panggung belakang yang berantakan dan dipenuhi kecurangan ini membuktikan bahwa motivasi utama para pelaku bukanlah pengembangan ilmu pengetahuan, melainkan untuk mencurangi sistem demi keuntungan personal.
Dampak Fatal Indonesia yang menanggung malu ketika panggung depan dan panggung belakang bertabrakan secara vulgar di forum internasional, yang hancur bukan hanya reputasi individu Rifaldy atau Prihantini. Efek domino dari hancurnya pertunjukan sandiwara ini berdampak langsung pada seluruh akademisi asal Indonesia.
Coreng Periset Indonesia
Nama Indonesia tercoreng jelek dihadapan dunia riset Internasional memandang sinis dan meningkatkan kecurigaan (skepstisisme) terhadap setiap berkas ilmiah, jurnal, maupun pengajuan travel grant yang datang dari peneliti Indonesia.
Peneliti-peneliti jujur yang benar-benar berdarah-darah melakukan riset di lapangan kini harus menanggung beban stereotip akibat ulah segelintir pemburu eksistensi ini. Kasus ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan kita.
Pendidikan Tinggi tidak boleh hanya berhubungan dengan lulusan yang siap kerja saja, Lulusan juga harus mencetak lulusan dengan kecerdasan emosional yang berkaitan dengan etika yang sangat berhubungan Manajement Impression yang dibahas oleh Erving Goffman dapat mempengaruhi persepsi orang lain khususnya dalam dunia kerja etika kejujuran dan kesopnan menjadi tonggak yang sangat penting.
Dalam kasus ini Prihatini dan Rifaldy sebagai pembelajaran peneliti selanjutnya jangan menghalalkan segala cara di panggung depan hanya ingin jalan-jalan gratis melalui travel grants, Integritas ilmiah harus dikembalikan sebagai harga mati, bukan sekadar ajang untuk bermain main dengan penelitian bodong dan sekadar jalan-jalan ke Luar Negeri./
Bandung, 24 Juni 2026
Oleh : Hilda Sri Rahayu – Mahasiswa Program Doktoral Komunikasi Universitas Padjajaran (UNPAD)








































