JAKARTA, Bisnistoday- Dua gempa dahsyat mengguncang Venezuela, Kamis (25/6/2026), menewasan sedikitnya 32 orang dan mencederai 700 lainnya.
Dua gempa bumi berskala di atas 7 skala richter yang terjadi hari ini, juga dirasakan di Kolombia, yang berbatasan dengan Venezuela bagian barat.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez mengatakan tim penyelamat dari negara lain akan tiba di negaranya dalam beberapa jam mendatang.
Ia berterima kasih kepada Presiden AS, Donald Trump atas tawarannya untuk membantu negara tersebut setelah gempa.
Rodríguez telah menyatakan keadaan darurat setelah gempa beruntun yang menyebabkan bangunan-bangunan di ibu kota runtuh dan segera memerintahkan menutup bandara utama Venezuela.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa AS segera mengerahkan tim pencarian dan penyelamatan, sumber daya medis, dan bantuan kemanusiaan ke Venezuela.
“Hati kami bersama semua yang telah kehilangan orang yang dicintai, mereka yang terluka, dan para petugas penyelamat pemberani yang bekerja tanpa lelah setelah bencana. Amerika berdiri bersama rakyat Venezuela di masa sulit ini.”
Jarang Terjadi
Associated Press melaporkan meskipun terletak di dekat beberapa garis patahan, posisinya yang berada di antara lempeng Amerika Selatan dan Karibia, membuat gempa bumi jauh lebih jarang terjadi daripada di bagian lain Amerika Latin.
Lain halnya di sepanjang Pantai Pasifik (di Meksiko dan Cile). Di wilayah ini, gempa bumi justru sering terjadi, karena dua negara tersebut terletak di sepanjang sabuk tektonik aktif seismik yang dikenal sebagai Cincin Api Pasifik, yang bertanggung jawab atas 90% gempa bumi di zona tersebut.
Pemimpin oposisi Venezuela yang diasingkan, María Corina Machado, telah mengirimkan pesan dukungan kepada rekan senegaranya.
“Hati saya, pelukan tak terbatas saya, dan doa saya bersama setiap rumah di Venezuela pada saat-saat ini,” tulisnya di X. “Semoga kekuatan, ketenangan, dan solidaritas tetap ada di antara kita dalam menghadapi masa sulit ini.”
Menurut Guardian, kurangnya sinyal telepon seluler di beberapa bagian telah memperdalam penderitaan banyak keluarga, terutama di antara lebih dari 7,7 juta orang yang telah meninggalkan negara itu selama krisis yang berkepanjangan.//







































