Warning: Undefined array key "HTTP_USER_AGENT" in /home/u6526426/public_html/wp-content/plugins/wesper-function/inc/core.php on line 735
BOJONEGORO, Bisnistoday – Persoalan sampah seringkali menjadi tantangan pelik di kawasan padat penduduk. Namun di Desa Sendang Harjo, Bojonegoro, tumpukan limbah justru disulap menjadi penggerak ekonomi warga. Melalui Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH), masyarakat kini tidak hanya mampu membebaskan diri dari beban Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), tetapi juga sukses memproduksi bahan bakar alternatif berupa bioetasol (Pertasol).
Keberhasilan kemandirian energi dan finansial ini tidak lepas dari peran aktif Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12. Head of Communications Relations & CID PEPC Zona 12, Muliawaty Weanny Hikmat, mengungkapkan bahwa perusahaan terus berupaya mendorong program pengolahan limbah yang komprehensif bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.
“Isu sampah ini tidak pernah habis. Oleh karena itu, Pertamina mendorong program pengolahan sampah dengan mengedukasi warga untuk memilah mana yang bernilai ekonomis dan non-ekonomis. Sampah ekonomis masuk ke bank sampah. Dari sinilah para ibu anggota BSMKH bisa membebaskan diri dari tagihan PBB, dan program ini terus berkembang,” jelas Muliawaty.
Pendiri BSMKH, Imam Muhlas, menegaskan bahwa kunci keberhasilan program ini terletak pada pengelolaan terpadu yang dimulai langsung dari rumah tangga. “BSMKH hadir sebagai sistem pengolahan sampah terpadu. Apabila sampah sudah dipilah dari hulu, limbah tersebut bisa langsung dimanfaatkan sebagai bahan baku yang bernilai guna. Hasil tabungan dari bank sampah inilah yang kemudian dimanfaatkan warga untuk membayar PBB,” ujarnya.
Inovasi warga Sendang Harjo tidak berhenti pada pembayaran pajak. Pengurus BSMKH, Ujang Surrya Abdilah, menjelaskan bahwa sampah yang terkumpul diproses melalui berbagai metode agar tidak ada residu yang terbuang percuma (zero waste). Sampah organik yang mudah membusuk diolah menjadi pakan ternak dan pupuk menggunakan metode budidaya maggot.
Sementara itu, untuk sampah anorganik residu yang sudah tidak memiliki nilai jual di pasaran, warga mengolahnya menjadi bahan bakar cair yang disebut bioetasol atau Pertasol.
“Dari program pengolahan ini, setiap 300 kilogram timbunan sampah campuran dapat disortir menjadi sekitar 50 kilogram sampah anorganik residu. Melalui proses penyulingan, sampah anorganik tersebut mampu menghasilkan 20 hingga 30 liter BBM jenis Pertasol,” terang Ujang.
Pendampingan berkelanjutan dari PEPC terhadap embrio bank sampah di Desa Sendang Harjo ini membuktikan bahwa pendekatan ekonomi sirkular mampu memberikan dampak ganda. Masyarakat tidak hanya berhasil menekan volume sampah yang mencemari lingkungan, tetapi juga menciptakan kemandirian energi tingkat desa sekaligus meringankan beban pengeluaran rutin rumah tangga./









































