JAKARTA, Bisnistoday- Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (27/4) ditutup melemah 2 poin ke posisi Rp14.413 per dolar AS dibandingan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Melemahan karena dibayangi ekspektasi kenaikan suku bunganacuan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang lebh agresif.
Analis Monex Investindo Fitures, Faisyal dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (27/4) menyebutkan, pada perdagangan hari ini dolar AS masih bergerak solid yang dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) yang lebih agresif.
The Fed mengisyaratkan kenaikan sebesar 50 bps ketika mereka akan bertemu pada pekan depan dan mungkin akan melakukan kebijakan yang sama pada Juni dan Juli.
Sementara itu kekhawatiran pasar terhadap penyebaran virus COVID-19 di China semakin memburuk. Penyebaran yang dimulai di Shanghai mendorong pemerintah melakukan lockdown dan isolasi. Namun kini penularan telah meluas ke beberapa distrik di Beijing dan juga Mongolia.
Sementara itu di tempat lain, pelaku pasar masih memperhatikan perkembangan perang antara Ukraina dan Rusia.
Dalam berita terbaru menunjukkan bahwa perusahaan Polandia PGNIG mengatakan bahwa Rusia akan menghentikan pengiriman gas mulai 27 April dan mereka harus dibayar dengan rubel. Selain itu, Gazprom juga telah menghentikan pengiriman gas ke Bulgaria.
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.402 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.375 per dolar AS hingga Rp14.433 per dolar AS.
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa melemah ke posisi Rp14.418 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya Rp14.412 per dolar AS./





































