www.bisnistoday.co.id
Rabu , 22 April 2026
Home OPINI Gagasan Potret Kusam Ekonomi Kita
GagasanOPINI

Potret Kusam Ekonomi Kita

Suroto
Diduga ada upaya penghacuran koperasi secara sistematis
Social Media

Apa yang menjadi keinginan Bung Hatta, ekonom dan pendiri republik ini untuk membangun fondasi ekonomi bangsa yang kuat?. Beliau mengatakan secara redunsant, secara berulang-ulang dalam setiap pidato dan tulisanya, bahwa janganlah ekonomi ujung itu jadi pangkal dan ekonomi pangkal itu jadi ujung ( Hatta, 1951).

Menurut Bung Hatta, ekonomi pangkal atau dasar itu adalah pangan dan energi.  Ekonomi ujung itu menurutnya adalah ekonomi eksportasi/ komoditi ekstraktif seperti hasil tambang dan hasil perkebunan monokultur seperti misalnya sawit.

“Hatta mengiginkan agar kita itu fokus pada kekuatan ekonomi pangan dan energi, ekonomi domestik atau ekonomi kebutuhan dalam negeri.  Suatu bangsa yang kuat itu adalah yang mampu memproduksi apa yang mereka makan sendiri.”

Pemikiran Bung Hatta tersebut didasarkan pada satu logika sederhana secara ekonomi. Jika kebutuhan  pangan telah terpenuhi maka suatu bangsa akan kukuh berdiri. Sebab makanan  berkaitan dengan kebutuhan isi perut rakyat sehari hari.

Rupiah boleh jatuh setiap hari, pasar modal boleh anjlok setiap saat, tapi jika apa yang dimakan rakyat sehari-hari itu adalah hasil dari jerih payahnya sendiri maka mereka akan sangat kuat. Dasar ekonomi rakyat yang kuat inilah yang jadi kekuatan ekonomi bangsa.

Tak hanya sampai disitu, ada satu dasar filosofi dari ilmu kesehatan bahwa makanan yang paling aman adalah makanan yang paling dekat dengan diri kita sendiri. Jika makanan itu kita produksi sendiri maka kita tahu darimana asal usul makanan itu dan bagaimana makanan itu diproses.

Produk-produk yang kita makan hari ini sebetulnya banyak sekali yang sudah tidak layak bagi kesehatan. Sebut misalnya kedelai yang kita impor terutama dari Amerika Serikat dan Canada.  Kedelai yang kita makan itu adalah produk kedelai transgenik. Di banyak negara bahkan sudah dilarang untuk dimakan dan dikategorikan sebagai bentuk bio- terorisme. Kejahatan terorisme.

“Makanan itu sangat sensitif, dan tak hanya bernilai strategis dalam konteks ekonomi tapi juga sosial politik dan keamanan dan bahkan kedaulatan sebagai sebuah bangsa. Bung Karno dengan tegas mengatakan bahwa hati-hati dengan apa yang kamu makan, sebab apa yang kamu makan itu tentukan seberapa daulat kamu! (Soekarno, 1964).”

Pemikiran Hatta soal ekonomi pangan dan energi itu diurai secara gamblang dan tegas, bagaimana sebaiknya sistem perdagangan internasional itu juga dibentuk dan strateginya agar kita kuat melalui sektor pangan dan energi. Intinya agar ekonomi kita kuat itu sebaiknya dasar dari ekspor kita mustinya dikonsentrasikan pada sektor pangan.

Eksportasi kita mestinya berasal dari surplus pangan. Syukur berasal dari pangan barang jadi sehingga kita akan mendapatkan nilai tambah ekonomi lebih besar lagi dan juga memberikan banyak pekerjaan untuk rakyat.

Jika kita surplus pangan sudah otomatis tenanglah hati rakyat. Jikapun diekspor juga sudah pasti akan memberikan dampak bagi kesejahteraan banyak petani, akan memberikan nilai tambah bagi industri rakyat basis rumah tangga.

Strategi Dagang

Untuk menerapkan strategi hubungan perdagangan internasional-nya bahkan Baung Hatta telah memberikan resepnya.  Pertama perlu dilakukan negosiasi kepada negara pengeskpor pangan kita dengan diplomasi lakukan substitusi impor barang pangan jadi dengan barang modal dengan alamat jelas ; barang modal pendukung sektor pertanian dan industri rumah tangga. 

Strategi di atas penting untuk tetap dapat menjaga hubungan diplomasi dagang agar neraca perdagangan dengan negara pembanding tetap seimbang. Kita tetap dapat menjaga hubungan baik, namun dengan kebijakan substitusi yang cerdas tersebut berangsur kita akan mendapatkan keuntungan semakin menurunya ketergantungan terhadap impor pangan dan barang jadi dari negara lain. Bahkan kita harapkan kedepannya akan mengalami surplus untuk diekspor.

Strategi tersebut dalam penerapanya kalau perlu diperkuat melalui kebijakan fiskal. Untuk alokasi besar-besaran berikan kebijakan subsidi untuk pengadaan barang modal di sektor pertanian dan industri rakyat basis rumah tangga.  Ditambah dengan berbagai kebijakan trade off seperti insentif pajak, pembiayaan transportasi dan lain lain.

Analogi sederhananya, impor makanan kaleng kita turunkan, namun kita ganti dengan impor barang untuk mengalengkan makanan tersebut. Untuk mempercepat kemampuan kita mengalengkan makanan, maka  negara perlu  alokasikan subsidi untuk pembelanjaan alat alat tersebut. Kalau perlu disubsidi biaya logistik dan juga pembebasan pajak.

“Nah, dengan adanya substitusi yang beralamat jelas seperti itu, kita akan mendapatkan banyak manfaat. Baik itu manfaat ekonomi, sosial dan politik.”

Fokus pada pangan dan industri pangan akan memberikan banyak sekali pekerjaan dan efek berganda lainya. Rakyat akan mendapatkan banyak pekerjaan dan sudah pasti kemiskinan segera menyusut atau bahkan lenyap.

Industri Basis Kerakyatan

Industri kita akan menjadi kuat karena dasarnya adalah industri rakyat basis rumah tangga. Bukan industri besar-besaran dan berasal dari investasi asing yang rentan seperti saat ini.

Fokus pada ekonomi domestik juga akan memberikan kekuatan terhadap stabilitas harga. Harga dari pasar domestik itu akan membuat tingkat harga kita menjadi stabil karena secara relatif tidak terpengaruh oleh gejolak ekonomi dan politik global. Kekuatan permintaan pasar domestik atas produk pangan juga menghemat devisa negara.

Fokus pada ekonomi pangan juga akan mencegah atau setidaknya menahan terjadinya kerusakan lingkungan akibat aktifitas ekonomi eksraktif seperti tambang dan perkebunan monokultur. Sumberdaya alam kita akan tetap terpelihara dan ekosistem alam tetap terjaga. 

Demikian banyak sekali keuntungan apabila kita fokus kepada sektor ekonomi domestik terutama pangan dan energi. Namun kenapa sampai hari ini pemerintah tidak melalukanya? Ini soal kepemimpinan.

Kebijakan ekonomi seperti di atas hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang mementingkan kepentingan rakyat banyak. Kebijakan di atas tidak akan pernah dapat dilaksanakan oleh pemimpin yang hanya obral murah sunberdaya alam kita yang melimpah. Kebijakan di atas tidak bisa dijalankan oleh pemimpin yang hanya pamerkan upah buruh kita yang murah dan menjadikan rakyatnya hanya sebagai sekumpulan obyek pasar untuk banjirnya produk-produk negara lain. Kebijakan ini membutuhkan pemimpin ideologis./

Oleh Suroto: Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Beritasatu Network

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Related Articles

Kopdes Merah Putih
Gagasan

Barang Subsidi Mesti Didistribusikan Melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

DALAM perspektif teori ekonomi, barang bersubsidi pada hakikatnya merupakan bagian dari barang...

Selat Hormuz
Gagasan

Setelah Hormuz, Ketegangan Geopolitik Bakal Beralih ke Selat Malaka

DINAMIKA geopolitik global tengah bergeser dari Teluk Hormuz menuju Selat Malaka. Kegagalan...

Aktifitas Tambang
Gagasan

Harga Komoditas Mulai Melonjak, Indonesia Butuh” Windfall Tax” Agar Penerimaan Tidak Terlewat

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah sebaiknya segera mengevaluasi ulang serta memberlakukan aturan baru...

Tambang Batubara
Gagasan

Memanfaatkan Krisis Harga Minyak sebagai Momentum Penguatan Ekonomi Nasional

KENAIKAN harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik global kembali memunculkan kekhawatiran terhadap...