JAKARTA, Bisnistoday – Guna menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang handal, cerdas dan mumpuni segala bidang, harus dimulai dari bayi sejak dalam kandungan. Pembentukan sel otak sangat krusial saat bayi berada dalam kandungan ibunya. Masa yang pendek ini, si janin harus diberikan kecukupan gizi agar pertumbuhan sel otak berjalan dengan baik.
Seperti diketahui, bahwa sel otak terbentuk mulai janin berusia 7 minggu didalam kandungan. Jumlah sel otak yang miliaran jumlahnya hanya diberi kesempatan tumbuh selama sembilan bulan dan sepuluh hari normalnya.“Kalau saja ibu hamil kekurangan gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sel otak janin, maka jumlah sel otak yang mampu bertumbuh bisa berkurang.”
Tentu saja, pertumbuhan sel otak ini harus ditunjang kesehatan ibu hamilnya dengan kecukupan sanitasi seperti hidup bersih serta kelengkapan lainnya. Namun yang terpenting untuk menumbuhkan SDM cerdas, kecukupan gizi bagi ibu hamil harus terpenuhi.
Gizi saat di kandungan, harus betul-betul terjamin. Jika tidak, sel otak janin itu akan bertumbuh dibawah standar.
Setelah bayi terlahir didunia, jumlah sel otak tidak bertumbuh lagi atau bertambah. Tetapi, otak akan mengalami perkembangan, penebalan, jaringan sinap serta sambung-menyambung. “Jadi tiga tahun pasca lahir, ini sangat menentukan untuk SDM emas bangsa, sehingga menentukan intelektual bangsa, serta modal spiritual.
Perkembangan otak dari kandungan sampai umur lima tahun, atau balita ini harus mendapat asupan gizi yang cukup. Inilah yang menentukan kecerdasan bagi bangsa ke depan sebagai bekal Indonesia emas 2045.
Perkembangan Dewasa
Selanjutnya, dalam perkembangan usia pasca balita antar umur 5 -18 tahun, perkembangan otak tidak begitu significan. Namun guna perkembangan usia anak menjadi dewasa ini, negara harus hadir dengan memberikan penyediaan infrastruktur sosial sesuai standar untuk mendukung literasi sosial.
Ini sangat menentukan dan infrastruktur sosial sangat penting, seperti pelayanan kesehatan, lingkungan dan pendidikan yang mencukupi.
“Jadi seperti yang diungkapkan Sayyidina Ali, bahwa bayi umur 5 tahun pertama, kalau minta apa saja wajid dituruti, sebagai puncak inovasi sebagai manusia. Sedangkan umur 5-9 tahun waktunya didikte layaknya panglima tantara, selanjuganya 9-12 tahun peran orang tua dikurangi dengan menjadikan anak sebagai sahabat.”
“Ini penting, karena jangan sampai anak curhat ke tempat lain, bukan ke orang tuanya. Apalagi, situasi dalam era digital seperti ini, akan berbahaya.”
Sehingga ada program makan siang bagi anak-anak santri, dan ibu hamil sudah sangat tepat, obyektif dan rasional. Hanya saja, dalam pelaksanaanya tidak mudah, atau salah kaprah serta ditekankan kembali makan siang untuk anak-anak dan ibu hamil.
Semoga bangsa ini kedepan akan semakin menjadi bangsa yang kompetitif, mampu bersaing dan disegani di tingkat global.
Jakarta, Januari 2024
Oleh : dr Ali Mahsun Atmo, MBiomed, Ahli Kesehatan serta Ketum APLI Perjuangan dan Ketum KERIS (Komite Ekonomi Rakyat Indonesia).







































