www.bisnistoday.co.id
Minggu , 26 Juli 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa IHSG dan Kurs Rupiah Ditutup Melemah
Bursa

IHSG dan Kurs Rupiah Ditutup Melemah

IHSG dan rupiah melemah
IHSG dan rupiah pada perdagangan Selasa (11/06) ditutup melemah
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (14/05) ditutup melemah 15,50 poin ke posisi 7.083,78. Sementara indeks LQ45 turun 2,96 poin ke posisi 892,58.

Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya menyebut, perdagangan hari ini bursa regional Asia cenderung tertahan di zona melemah. Hal ini dipengaruhi kondisi konflik di Timur Tengah, yang mana militer Israel kembali mengepung secara intens di jalur Gaza Palestina, baik dari sisi utara dan selatan.

Hal tersebut menimbulkan dampak adanya serangan militer Israel yang semakin intensif, sehingga menyebabkan potensi memanas di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, sentimen lainnya yaitu pelaku pasar cenderung berhati-hati jelang menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), karena bisa mempengaruhi waktu pemangkasan suku bunga acuan AS.

Dari dalam negeri, kinerja penjualan memberikan indikasi tetap kuat yang tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) periode Maret 2024 mencapai 235,4 atau tumbuh sebesar 9,3 persen year on year (yoy) jika dibanding dari bulan sebelumnya sebesar 6,4 persen (yoy).

Hal tersebut memberikan indikasi ekspansi perdagangan dan ini juga ditopang seiring dengan percepatan belanja selama bulan puasa Ramadhan dan menjelang perayaan Idul Fitri.

Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor meningkat yaitu dipimpin sektor barang konsumen primer sebesar 0,11 persen, diikuti sektor properti dan sektor kesehatan yang masing-masing naik 0,71 persen dan 0,51 persen.

Sedangkan delapan sektor terkoreksi yaitu sektor industri turun paling dalam minus 1,41 persen, diikuti sektor teknologi dan sektor energi yang masing-masing minus 1,15 persen dan 0,98 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu CHEM, SOLA, KICI, PSDN dan NASI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni MPXL, IBOS, ASII, IDEA dan MEJA.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.096.353 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18,19 miliar lembar saham senilai Rp13,38 triliun. Sebanyak 273 saham naik, 267 saham menurun, dan 236 tidak bergerak nilainya.

Baca juga: Perdagangan Akhir Pekan, IHSG Merosot Tajam

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei menguat 176,60 poin atau 0,46 persen ke 38,356,10, indeks Hang Seng melemah 41,34 poin atau 0,22 persen ke 19.073,71, indeks Shanghai melemah 2,25 poin atau 0,07 persen ke 3.145,77, dan indeks Strait Times menguat 9,69 poin atau 0,29 persen ke 3.313,35.

Rupiah Melemah

Sementara itu, kurs rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan di Jakarta, Selasa (14/05) ditutup merosot 19 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.100 per dolar AS dari sebelumnya yang sebesar Rp16.081 per dolar AS.

“Para pedagang menunggu rilis data inflasi AS terbaru, yang kemungkinan akan menentukan sentimen jangka pendek mengenai potensi penurunan suku bunga,” kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi seperti dikutif Antara.

Ibrahim menuturkan para analis memperkirakan laporan indeks harga konsumen (CPI) yang penting pada Rabu akan menunjukkan kenaikan inflasi sebesar 3,6 persen dari tahun ke tahun, yang akan menjadi kenaikan terkecil dalam tiga tahun terakhir.

Selain itu, pasar gelisah terhadap Tiongkok setelah pengembang properti besar lainnya, dalam hal ini Agile Group Holdings Ltd gagal membayar obligasinya.

Baca juga: Rupiah Melemah Tertekan Faktor Eksternal

Gagal bayar tersebut sebagian besar mengimbangi optimisme atas membaiknya inflasi di Tiongkok, serta pengumuman Beijing baru-baru ini mengenai rencana penerbitan obligasi besar-besaran senilai 1 triliun yuan.

Kemerosotan pasar properti yang berkepanjangan telah menjadi titik tekanan utama terhadap perekonomian Tiongkok, meskipun ada upaya berulang kali dari Beijing untuk mendukung sektor ini. Sejumlah kota besar di Tiongkok telah melonggarkan pembatasan pembelian rumah dalam dua pekan terakhir.

Di sisi internal, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2024 diperkirakan menyusut dibandingkan dengan capaian surplus pada bulan sebelumnya, berada di kisaran 3,5 miliar dolar AS hingga 4 miliar dolar AS. Penyebabnya memperkirakan kinerja baik ekspor maupun impor akan mengalami penurunan pada April 2024.

Surplus yang menyusut terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian perekonomian di global, juga hari kerja yang lebih pendek di dalam negeri karena libur Lebaran. Lebih lanjut, penyusutan surplus juga akan dipengaruhi oleh penurunan nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan impor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai 4,47 miliar dolar AS pada Maret 2024. Surplus tersebut terutama berasal dari sektor nonmigas sebesar 6,51 miliar dolar AS, tapi tereduksi oleh defisit sektor migas senilai 2,04 miliar dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa turun ke level Rp16.131 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.085 per dolar AS./

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Didi Max
Bursa

Perdagangan Berjangka : Didimax Broker Terbaik Menjadi Pilihan Banyak Trader

JAKARTA, Bisnistoday - Dalam dunia perdagangan berjangka, memilih broker terbaik Indonesia merupakan...

GEDUNG BEI
Bursa

Penguatan Pasar Sangat Dipengaruhi Sentimen Isu Makro Ekonomi Global pada Semester II 2026

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai setelah fase rebound,...

Rully Arya Wisnubroto
Bursa

Mirae Asset Sekuritas: Investor Tetap Perlu Cermati Tantangan Domestik

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global...

Bursa

Intercontinental Exchange dan OKX Bentuk Joint Venture, Jembatani Pasar Aset Tradisional dan Digital

JAKARTA, Bisnistoday - Intercontinental Exchange (NYSE: ICE) dan OKX mengumumkan pembentukan joint...