JAKARTA, Bisnistoday — Industri makanan dan minuman (mamin) dinilai menjadi salah satu sektor yang memiliki daya tahan kuat menghadapi berbagai kondisi ekonomi. Kebutuhan masyarakat terhadap pangan membuat industri ini tetap memiliki prospek pertumbuhan, bahkan ketika perekonomian menghadapi tekanan.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adi S Lukman mengatakan, karakteristik industri mamin membuat sektor tersebut relatif resilien karena produknya merupakan kebutuhan dasar masyarakat.
“Industri mamin paling resilience. Apalagi dalam kondisi darurat dan bencana, pasti mamin dibutuhkan. Apalagi kalau kondisinya tidak darurat,” ujar Adi.
Menurut Adi, pertumbuhan industri makanan dan minuman menunjukkan perkembangan yang positif. Ia mencatat pertumbuhan sektor tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional, sementara pasar makanan juga terus mengalami peningkatan. Di kawasan Asia Pasifik, pertumbuhan industri mamin bahkan disebut mencapai sekitar 7,95 persen.
Namun, pertumbuhan pasar tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi pelaku industri. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga mulai memperhatikan aspek kesehatan, kandungan nutrisi, fungsi pangan, serta variasi produk.
“Kuncinya kita harus inovasi dan kreatif, bagaimana permintaan konsumen terus meningkat. Sebagian besar memang cari murah. Tetapi di kota besar dengan income tinggi, makanan sehat kebutuhannya juga tinggi,” kata Adi.
Ia menilai kenaikan pendapatan masyarakat harus diikuti perubahan orientasi industri. Produk pangan ke depan tidak cukup hanya menawarkan harga terjangkau, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat kesehatan dan fungsi tertentu. Karena itu, pengembangan food ingredient menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong inovasi industri pangan.
Adi juga menyoroti meningkatnya penyakit tidak menular, termasuk diabetes dan gagal ginjal, terutama di kalangan masyarakat usia muda. Menurut dia, industri makanan perlu mengambil peran dalam mendorong masyarakat memilih produk pangan yang lebih baik.
“Jangan pikir murah. Bukan murah, tetapi harus berobat. Kalau konsumen sehat, industri juga harus menyiapkan industri makanan di hilir,” tegasnya.
Di sisi lain, Adi berharap pemerintah semakin mendukung pengembangan industri pangan, termasuk melalui inovasi bahan baku dan produk yang mampu menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat.
Pertumbuhan industri tersebut juga membuka peluang investasi. Menurut Adi, pengembangan food ingredient diperkirakan semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan industri makanan dan minuman Indonesia.
Sementara itu, Niko N Songko, B2B Sales Manager PT Santos Premium Krimer, mengatakan perusahaan yang merupakan bagian dari Kapal Api Group tersebut terus memperkuat posisi di industri pangan nasional. Santos disebut telah mengekspor produknya ke 27 negara, termasuk kawasan ASEAN dan Timur Tengah.
Keikutsertaan dalam kegiatan pameran industri pangan dinilai penting untuk memperluas jejaring sekaligus memperkuat komunikasi antarpelaku industri. “Akhirnya kita sudah terkoneksi dan berkomunikasi dengan industri mamin di Indonesia,” ujar Niko./









































