JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (17/6) kemarin masih tampak melemah, ditutup melamah 0,55% ke posisi 6.220. Kendati pasar terlihat melemah, arus modal asing mulai berani masuk ke pasar saham, secara selektif di saham perbankan.
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, meskipun IHSG kemarin terkoreksi, arus asing dalam dua hari terakhir justru berbalik net buy di saham-saham big cap perbankan, terutama BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI.
“Net outflow asing secara agregat masih terjadi, namun tekanan jual lebih dominan di nama-nama spekulatif seperti DSSA dan BUMI,” terang Rully di Jakarta, Kamis (18/6). Sementara, nilai tukar Rupiah dalam dua hari terakhir juga relatif stabil di kisaran 17.700 per dolar AS, meski kemarin sempat terkoreksi tipis.
Dengan latar belakang tersebut, Rully memperkirakan BI akan menahan BI rate di 5,50% hari ini, setelah akumulasi kenaikan 75 bps sejak Mei. Dalam jangka pendek, fokus utama BI kemungkinan tetap pada stabilitas nilai tukar, sementara keputusan suku bunga selanjutnya akan diambil secara lebih hati-hati dan tetap bergantung pada data yang masuk.
Sementara, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fixed Income, Jessica Tasijawa mengutarakan sejumlah sentiment yang dinilai menjadi perhatian pelaku pasar. Pertama, pertemuan kebijakan pertamanya sebagai Ketua Fed, Kevin Warsh mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah di 3,50-3,75% tetapi menyampaikan pesan yang lebih hawkish dari perkiraan, dengan dot plot yang diperbarui menandakan kemungkinan kenaikan suku bunga lain akhir tahun ini.
Pemerintah sedang mempersiapkan penerbitan Obligasi Panda berdaulat di Tiongkok sebagai bagian dari strateginya untuk mendiversifikasi sumber pendanaan, memperluas basis investornya, dan memperdalam kerja sama keuangan di tengah ketidakpastian global.
“Dalam pandangan kami, inisiatif ini dapat meningkatkan fleksibilitas pendanaan dan mengurangi ketergantungan pada pembiayaan dalam mata uang USD, meskipun keberhasilannya akan tetap terkait erat dengan kepercayaan investor terhadap disiplin fiskal, kredibilitas kebijakan, dan standar tata kelola Indonesia.”//






































