www.bisnistoday.co.id
Jumat , 6 November 2026
Home EKONOMI Ekonomi & Bisnis Investor Muda Fokus Membangun Portofolio di Market Volatile 2026
Ekonomi & Bisnis

Investor Muda Fokus Membangun Portofolio di Market Volatile 2026

Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, literasi investasi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat membangun keputusan keuangan yang lebih bijak serta menyusun kembali strategi investasi yang tepat sesuai dengan profil masing-masing.

Menurut Jovita Widjaja, CMO Nanovest, tahun 2026 bukan lagi era mengejar keuntungan instan.

“Saya melihat ada perubahan pola pikir investor, terutama generasi muda. Fokusnya bukan lagi sekadar mencari investasi yang cepat naik, tetapi bagaimana membangun portofolio yang sehat dan bertahan dalam berbagai kondisi pasar yang penuh ketidakpastian,” ujarnya di Jakarta, Kamis (26/2)

Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi industri yang mulai bergerak menuju pendekatan investasi lebih disiplin. Tjoe Ay, CMO Jarvis Asset Management, menambahkan bahwa kalau untuk IHSG di tahun 2026 kita harus tetap melihat money flow di market.

“Kita expect Money flow dari institusi seperti dapen, insurance dan BPJS ditingkatkan, kalau institution flow meningkat maka saham fundamental akan mendapatkan more money flow. Jadi 2026, saham fundamental boleh di lirik,” tuturnya.

Sementara itu, Jason Nathanael, Investment Expert menyoroti bahwa pasar mulai memasuki fase yang lebih selektif. Investor didorong untuk memahami fundamental, bukan sekadar mengikuti tren.

“Lonjakan minat investasi masyarakat Indonesia semakin terlihat dari pertumbuhan jumlah investor saham domestik yang terus mencetak rekor baru. Di tengah volatilitas perdagangan IHSG yang tinggi, investor lokal mulai memperluas wawasan mereka dengan melirik saham Amerika Serikat sebagai alternatif investasi,” imbuhnya.

Tahun 2026 akan menjadi periode kedewasaan pasar dimana sektor finansial (JPMorgan, Visa, Mastercard) dan teknologi (NVIDIA, Microsoft) diprediksi tetap menjadi motor pertumbuhan melalui monetisasi nyata AI dan normalisasi aktivitas ekonomi.

“Untuk Emas diproyeksikan tetap kuat (higher for longer) sebagai aset safe haven utama, didukung oleh kebijakan pelonggaran Federal Reserve dan inisiatif global seperti Project Vault,” tuturnya.

Kombinasi antara aset pertumbuhan dan aset stabil dipandang sebagai strategi paling relevan, khususnya bagi Gen Z dan milenial yang mulai merencanakan keuangan jangka panjang.

Lebih lanjut Jason menjelaskan, Portofolio ideal ke depan bukan lagi soal memilih satu aset terbaik, melainkan mengkombinasikan beberapa peran aset.

“Aset pertumbuhan menangkap peluang ekonomi baru, sementara aset defensif menjaga daya beli. Investor muda justru punya keunggulan waktu, sehingga strategi seimbang sejak awal akan jauh lebih berdampak dalam jangka Panjang,” ungkap Jason.(E2-SANDI)

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Suku Bunga Mekaar 8 Persen Resmi Berlaku

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama PT...

Aktifitas Bongkar Muat di Pelabuhan Belawan.
Ekonomi & Bisnis

Hingga September 2026, Kemendag Catat Tren Positif Perdagangan Luar Negeri  

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan pada September 2026...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Pembahasan RUU Perkoperasian Capai 80 Persen, Ditargetkan Rampung Tahun Ini

JAKARTA, Bisnistoday – Sekretaris Kementerian Koperasi (Kemenkop) Ahmad Zabadi menyampaikan pembahasan Rancangan...

Menperin
Ekonomi & Bisnis

Prospek Industri Sedang Baik, Menperin Sarmuji Minta Kadin Manfaatkan Momentum

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai prospek industri nasional sedang...