JAKARTA, Bisnistoday – Bursa Efek Indonesia (BEI) kini dipimpin oleh Jeffrey Hendrik sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama menyusul pengunduran diri Iman Rachman pada akhir Januari 2026. Penunjukan ini dilakukan di tengah situasi pasar modal yang sangat dinamis setelah perubahan mendadak dalam penilaian indeks global yang memicu tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Jeffrey Hendrik bukan sosok baru di dunia pasar modal Indonesia. Sebelum ditunjuk sebagai Dirut sementara BEI, ia menjabat sebagai Direktur Pengembangan di BEI, yang berarti ia sudah lama berkecimpung dalam pengembangan infrastruktur dan strategi pertumbuhan pasar modal nasional.
Ia diangkat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis BEI pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada tanggal 29 Juni 2022. Ia memulai karirnya di PT Zone Pratama (1994-1996), kemudian melanjutkan sebagai Corporate Finance di PT Transpacific Securindo (1996-1999) dan sebagai Presiden Direktur PT Phintraco Sekuritas (1999-2022).
Jeffrey juga merupakan Anggota Komite Penyelesaian Perdagangan dan Transaksi Efek BEI (2019-2020), Pengurus Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Anggota Departemen Perdagangan Efek (2020-2022), dan Anggota Satgas Keuangan Berkelanjutan OJK sejak tahun 2021.Jeffrey meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Trisakti pada tahun 1995.
Dalam kariernya di BEI, Jeffrey beberapa kali terlihat memberikan pernyataan penting terkait arah pasar dan strategi pembangunan Bursa, termasuk komentar tentang pertumbuhan nilai indeks saham serta transparansi pasar.
Tantangan Volatilitas Pasar
Penunjukan Jeffrey Hendrik datang pada momen yang penuh tekanan. Pengunduran diri Iman Rachman terjadi setelah gelombang volatilitas tajam IHSG yang dipicu oleh keputusan lembaga indeks global seperti MSCI. Investor sempat gelisah dan pasar menghadapi gejolak, sehingga transisi kepemimpinan dinilai harus cepat dan tepat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa Jeffrey, yang merupakan perwakilan BEI dalam pertemuan penting dengan MSCI, akan menyelesaikan mekanisme internal Bursa tanpa intervensi pemerintah.
Sebagai Dirut BEI sementara, Jeffrey Hendrik diperkirakan akan fokus pada beberapa hal pokok berikut:pertama, menjaga operasional Bursa tetap normal. Jeffrey menekankan bahwa aktivitas perdagangan dan pengambilan keputusan di BEI tidak akan terganggu meski tengah terjadi perubahan kepemimpinan. Komitmen ini penting untuk meredam sentimen negatif pasar dan menjaga kepercayaan investor.
Kedua, dialog dengan penyedia indeks global (MSCI). Salah satu tugas utama Jeffrey di awal kepemimpinannya adalah memimpin negosiasi dan komunikasi dengan lembaga penyusun indeks global seperti MSCI, yang keputusannya sempat memberi tekanan pada pasar saham Indonesia.
Selain itu, ketiga adalah meningkatkan transparansi dan tata kelola pasar. Ia menegaskan bahwa BEI akan memperkuat aspek transparansi dan tata kelola demi memaksimalkan perlindungan bagi investor, baik domestik maupun internasional. Ini termasuk memperluas keterbukaan informasi dan menjawab kebutuhan indeks provider global.
Demikian juga, Jeffrey menjalankan aksi transparansi data beneficial owner. Langkah lainnya yang sudah mulai direncanakan adalah membuka data beneficial owner (kepemilikan saham di bawah 5%) ke publik awal Februari 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat transparansi pasar modal Indonesia.
Kepemimpinan Jeffrey Hendrik disambut dengan waspada namun optimis oleh para pelaku industri. Ekspektasi tertuju pada kemampuan manajemen baru untuk menstabilkan pasar, memperbaiki sentimen investor, dan melanjutkan reformasi struktural yang sudah berjalan di BEI.
Analis pasar menilai langkah awal dalam 90 hari pertama kepemimpinan akan menjadi penentu arah kepercayaan pasar dalam jangka menengah. Fokus pada stabilitas, komunikasi, dan tindakan terukur dinilai menjadi kunci./



