www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 19 September 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa IHSG Cetak Rekor, Rupiah Tertekan: Investor Tuntut Premi Risiko Lebih Tinggi
Bursa

IHSG Cetak Rekor, Rupiah Tertekan: Investor Tuntut Premi Risiko Lebih Tinggi

IHSG
ZONA POSITIF : IHSG bergerak menyentuh level tertinggi.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday –  Pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan anomali. Di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah yang terus berlanjut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Fenomena keterputusan antara penguatan pasar saham dan depresiasi mata uang ini menandai meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko domestik.

IHSG ditutup pada level 9.133,9, sementara Rupiah melemah hingga berada di bawah Rp17.000 per dolar AS. Sejak awal tahun, IHSG tercatat menguat sekitar 5,6 persen year to date (YTD), berbanding terbalik dengan Rupiah yang justru terdepresiasi sekitar 1,5 persen YTD

Pengamat pasar modal dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai kondisi ini mencerminkan perubahan persepsi risiko investor terhadap Indonesia.

“Keterputusan antara Rupiah dan IHSG terus berlanjut. Investor saat ini menuntut premi risiko yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas meningkatnya risiko idiosinkratik di masing-masing negara,” ujar Rully di Jakarta, Rabu (21/1)

Menurut Rully, pola serupa juga terjadi di beberapa negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan, di mana pelemahan mata uang berlangsung bersamaan dengan tren penguatan indeks saham. Namun, faktor pendorong di tiap negara berbeda-beda.

Baca Juga : IHSG Tembus Rekor 9.075, Asing dan Ritel Berpesta di Tengah Rupiah Tertekan

Di Indonesia, perhatian utama pasar tertuju pada ruang fiskal pemerintah dan kredibilitas kebijakan makroekonomi. Sementara di Jepang, kekhawatiran muncul terkait keberlanjutan stimulus moneter dan fiskal di tengah beban utang yang sangat besar. Adapun di Korea Selatan, tekanan berasal dari arus modal keluar dan tingginya eksposur eksternal

Lebih lanjut, Rully menegaskan bahwa depresiasi Rupiah membawa konsekuensi kebijakan yang tidak ringan.

“Pelemahan Rupiah pada gilirannya mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga kebijakan ke depan,” katanya

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas moneter dan fiskal, di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan. Ke depan, pasar diperkirakan akan semakin sensitif terhadap sinyal kebijakan pemerintah dan bank sentral, terutama terkait disiplin fiskal dan konsistensi bauran kebijakan makroekonomi.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Samuel Sekuritas
BursaHEADLINE NEWS

Samuel Sekuritas : Pemulihan Pasar Saham Bergantung Isu Nilai Tukar Rupiah dan Besaran Bunga

JAKARTA, Bisnistoday – Investor sampai saat ini masih mempertanyakan mengenai kapan Indeks...

GEDUNG BEI
Bursa

IHSG Kembali Menguat, Asing Kembali Akumulasi Saham Bank Besar

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat penguatan Indeks Harga...

Mirae Asset
Bursa

Pasar Kian Selektif, Mirae Asset Sekuritas Tingkatkan Layanan “Wealth Management”

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ruang penguatan pasar...

GEDUNG BEI
BursaHEADLINE NEWS

MSCI Hapus GOTO dan Turunkan CPIN, Mirae Asset Sekuritas Ungkap Potensi Outflow Jangka Pendek

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai hasil MSCI August...