JAKARTA, Bisnistoday – Pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan anomali. Di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah yang terus berlanjut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Fenomena keterputusan antara penguatan pasar saham dan depresiasi mata uang ini menandai meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko domestik.
IHSG ditutup pada level 9.133,9, sementara Rupiah melemah hingga berada di bawah Rp17.000 per dolar AS. Sejak awal tahun, IHSG tercatat menguat sekitar 5,6 persen year to date (YTD), berbanding terbalik dengan Rupiah yang justru terdepresiasi sekitar 1,5 persen YTD
Pengamat pasar modal dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai kondisi ini mencerminkan perubahan persepsi risiko investor terhadap Indonesia.
“Keterputusan antara Rupiah dan IHSG terus berlanjut. Investor saat ini menuntut premi risiko yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas meningkatnya risiko idiosinkratik di masing-masing negara,” ujar Rully di Jakarta, Rabu (21/1)
Menurut Rully, pola serupa juga terjadi di beberapa negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan, di mana pelemahan mata uang berlangsung bersamaan dengan tren penguatan indeks saham. Namun, faktor pendorong di tiap negara berbeda-beda.
Baca Juga : IHSG Tembus Rekor 9.075, Asing dan Ritel Berpesta di Tengah Rupiah Tertekan
Di Indonesia, perhatian utama pasar tertuju pada ruang fiskal pemerintah dan kredibilitas kebijakan makroekonomi. Sementara di Jepang, kekhawatiran muncul terkait keberlanjutan stimulus moneter dan fiskal di tengah beban utang yang sangat besar. Adapun di Korea Selatan, tekanan berasal dari arus modal keluar dan tingginya eksposur eksternal
Lebih lanjut, Rully menegaskan bahwa depresiasi Rupiah membawa konsekuensi kebijakan yang tidak ringan.
“Pelemahan Rupiah pada gilirannya mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga kebijakan ke depan,” katanya
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas moneter dan fiskal, di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan. Ke depan, pasar diperkirakan akan semakin sensitif terhadap sinyal kebijakan pemerintah dan bank sentral, terutama terkait disiplin fiskal dan konsistensi bauran kebijakan makroekonomi.//







































