www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 25 Juli 2026
Home BURSA & KORPORASI Bursa IHSG Cetak Rekor, Rupiah Tertekan: Investor Tuntut Premi Risiko Lebih Tinggi
Bursa

IHSG Cetak Rekor, Rupiah Tertekan: Investor Tuntut Premi Risiko Lebih Tinggi

IHSG
ZONA POSITIF : IHSG bergerak menyentuh level tertinggi.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday –  Pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan anomali. Di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah yang terus berlanjut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Fenomena keterputusan antara penguatan pasar saham dan depresiasi mata uang ini menandai meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko domestik.

IHSG ditutup pada level 9.133,9, sementara Rupiah melemah hingga berada di bawah Rp17.000 per dolar AS. Sejak awal tahun, IHSG tercatat menguat sekitar 5,6 persen year to date (YTD), berbanding terbalik dengan Rupiah yang justru terdepresiasi sekitar 1,5 persen YTD

Pengamat pasar modal dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai kondisi ini mencerminkan perubahan persepsi risiko investor terhadap Indonesia.

“Keterputusan antara Rupiah dan IHSG terus berlanjut. Investor saat ini menuntut premi risiko yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas meningkatnya risiko idiosinkratik di masing-masing negara,” ujar Rully di Jakarta, Rabu (21/1)

Menurut Rully, pola serupa juga terjadi di beberapa negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan, di mana pelemahan mata uang berlangsung bersamaan dengan tren penguatan indeks saham. Namun, faktor pendorong di tiap negara berbeda-beda.

Baca Juga : IHSG Tembus Rekor 9.075, Asing dan Ritel Berpesta di Tengah Rupiah Tertekan

Di Indonesia, perhatian utama pasar tertuju pada ruang fiskal pemerintah dan kredibilitas kebijakan makroekonomi. Sementara di Jepang, kekhawatiran muncul terkait keberlanjutan stimulus moneter dan fiskal di tengah beban utang yang sangat besar. Adapun di Korea Selatan, tekanan berasal dari arus modal keluar dan tingginya eksposur eksternal

Lebih lanjut, Rully menegaskan bahwa depresiasi Rupiah membawa konsekuensi kebijakan yang tidak ringan.

“Pelemahan Rupiah pada gilirannya mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga kebijakan ke depan,” katanya

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas moneter dan fiskal, di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan. Ke depan, pasar diperkirakan akan semakin sensitif terhadap sinyal kebijakan pemerintah dan bank sentral, terutama terkait disiplin fiskal dan konsistensi bauran kebijakan makroekonomi.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Didi Max
Bursa

Perdagangan Berjangka : Didimax Broker Terbaik Menjadi Pilihan Banyak Trader

JAKARTA, Bisnistoday - Dalam dunia perdagangan berjangka, memilih broker terbaik Indonesia merupakan...

GEDUNG BEI
Bursa

Penguatan Pasar Sangat Dipengaruhi Sentimen Isu Makro Ekonomi Global pada Semester II 2026

JAKARTA, Bisnistoday – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai setelah fase rebound,...

Rully Arya Wisnubroto
Bursa

Mirae Asset Sekuritas: Investor Tetap Perlu Cermati Tantangan Domestik

JAKARTA, Bisnistoday - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global...

Bursa

Intercontinental Exchange dan OKX Bentuk Joint Venture, Jembatani Pasar Aset Tradisional dan Digital

JAKARTA, Bisnistoday - Intercontinental Exchange (NYSE: ICE) dan OKX mengumumkan pembentukan joint...