JAKARTA, Bisnistoday – Ketegangan geopolitik global kembali memanaskan pasar energi dan memberi tekanan baru bagi perekonomian domestik. Harga minyak dunia bertahan di level tinggi seiring sinyal pengetatan pasokan dari kelompok produsen OPEC+, memicu kekhawatiran inflasi impor dan mendorong pelaku pasar Indonesia masuk ke mode defensif.
Analis Fixed Income PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menilai dinamika global saat ini membuat risiko terhadap ekonomi domestik semakin nyata. Menurutnya, OPEC+ diperkirakan memperpanjang jeda peningkatan produksi hingga Maret 2026, yang berarti pasokan tetap ketat di tengah harga minyak Brent yang bertahan di kisaran USD70 per barel.
Keputusan menahan tambahan produksi hingga 2,9 juta barel per hari pada 2025 menunjukkan komitmen kuat produsen untuk menjaga harga. Langkah ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik, termasuk potensi ketegangan Amerika Serikat–Iran dan gangguan produksi di ladang minyak Tengiz, Kazakhstan. Secara kebijakan, sikap OPEC+ dinilai masih cenderung mendukung tren harga minyak yang lebih tinggi.
Bagi Indonesia, lanjut Jessica, kondisi ini membawa dampak ganda. Dari sisi risiko, kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi impor, mengingat minyak dan gas berkontribusi sekitar 13,5% dari total impor nasional. Tekanan ini menjadi semakin sensitif menjelang periode konsumsi tinggi seperti Idul Fitri, saat permintaan energi dan logistik biasanya meningkat signifikan.
Namun di sisi lain, harga komoditas yang kuat juga membuka peluang tambahan penerimaan negara. Peningkatan harga energi dan komoditas terkait dapat menopang pendapatan fiskal, terutama saat pemerintah menargetkan pertumbuhan pajak yang agresif hingga sekitar 20% secara tahunan, angka yang dalam catatan historis umumnya hanya tercapai saat terjadi booming komoditas besar.
Pasar Waspada
Menurut Jessica Tasijawa, dari pasar keuangan, sentimen kehati-hatian sudah terlihat. Investor global tercatat melakukan aksi jual bersih di pasar domestik, dengan arus keluar sekitar Rp12,4 triliun dari pasar saham dan Rp2,8 triliun dari Surat Berharga Negara. Kondisi ini mendorong kenaikan premi risiko, tercermin dari credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun yang naik ke kisaran 75 basis poin.
Tekanan juga tampak pada nilai tukar rupiah yang melemah ke sekitar Rp16.785 per dolar AS. Meski demikian, pasar obligasi masih menunjukkan daya tarik relatif. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di kisaran 6,37%, dengan spread terhadap obligasi pemerintah AS yang tetap lebar, sekitar 214 basis poin—menjadi bantalan bagi minat investor berbasis yield.
Dalam jangka pendek hingga menengah, pelaku pasar diperkirakan tetap selektif. Kombinasi harga energi tinggi, risiko geopolitik, dan arus modal yang fluktuatif membuat strategi bertahan dan pengelolaan risiko menjadi kunci utama di tengah lanskap ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.//

