JAKARTA, Bisnistoday- Meredanya kecemasan pelaku pasar terhadap virus Covid-19 varian baru Omicron mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan Kamis (9/12), IHSG ditututp menguat 40,13 poin ke posisi 6.643,93, sementara indeks LQ-45 naik 6,92 poin ke posisi 952,51.
Tim Riset Ajaib Sekuritas dalam ulasannya di Jakarta, Kamis (9/12) menyebutkan, menguatnya bursa Wall Street tadi malam seiring dengan meredanya kekhawatiran pelaku pasar setelah Pfizer mengkonfirmasi uji tes laboratoriumnya bahwa tiga dosis vaksin bisa menetralkan varian Omicron, serta kenaikan mayoritas komoditas di antaranya minyak, tembaga, dan timah, menjadi sentimen positif,
Dibuka menguat, IHSG terus berada di zona hijau hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah berada di teritori positif hingga penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor meningkat dengan sektor barang konsumen nonprimer naik paling tinggi yaitu 1,96 persen, diikuti sektor perindustrian dan sektor teknologi masing-masing naik 1,65 persen dan 1,37 persen. Sedangkan satu sektor terkoreksi yaitu sektor barang baku turun 0,03 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy di seluruh pasar sebesar Rp2,59 triliun.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.303.078 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 31,59 miliar lembar saham senilai Rp15,16 triliun. Sebanyak 304 saham naik, 227 saham menurun, dan 146 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 135,15 poin atau 0,47 persen ke 28.725,47, Indeks Hang Seng naik 257,99 poin atau 1,08 persen ke 24.254,86, dan Indeks Straits Times meningkat 12,68 atau 0,41 persen ke 3.142,45.
Rupiah Melemah
Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah 10 poin ke posisi Rp14.367 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.357 per dolar AS. Pelemahan kali ini seiring kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat AS.
“Yield obligasi pemerintah AS terlihat naik. Kemungkinan pasar kembali mencermati wacana percepatan tapering bank sentral AS,” kata Pengamat Pasar Uang, Ariston Tjendra seperti dikutif Antara. Indeks dolar saat ini berada di level 96,09 atau naik 0,2 persen. Bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), sendiri akan mengumumkan kebijakan moneter terbarunya pada pekan depan.
“Malam ini dan malam besok, pasar akan mencermati data yang mungkin mempengaruhi hasil rapat moneter AS yaitu data klaim tunjangan pengangguran mingguan dan data inflasi konsumen AS bulan November,” ujar Ariston./









































