JAKARTA, Bisnistoday – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan, neraca perdagangan April 2021 kembali surplus sebesar USD 2,19 miliar. Hal ini melanjutkan tren surplus bulanan yang terjadi sejak Mei 2020. Surplus pada April 2021 tersebut disumbang surplus neraca nonmigas sebesar USD 3,26 miliar dan defisit neraca migas USD 1,07 miliar.
“Pada April 2021, Indonesia juga mencatatkan surplus neraca perdagangan dengan beberapa negara mitra dagang utama Indonesia, antara lain Amerika Serikat sebesar USD 1,22 miliar; Filipina USD 0,55 miliar; dan India USD 0,44 miliar,” ungkap Mendag, M Lutfi dalam keteranganya di Jakarta, Senin (24/5).
Baca juga : Ekspor Produk Baja ke Kawasan Teluk Makin Berpeluang
Secara kumulatif, total nilai ekspor Indonesia selama Januari─April 2021 mencapai USD 67,38 miliar, meningkat sebesar 24,96 persen (YoY). Ekspor nonmigas, sepanjang Januari−April 2021 naik sebesar 24,84 persen, begitu juga dengan ekspor migas yang turut meningkat sebesar 27,14 persen.
Lebih lanjut, Mendag mengatakan, terjaganya pertumbuhan ekspor dan terkendalinya pergerakan impor pada periode pemulihan ekonomi pasca-Covid 19 ini melatarbelakangi surplus perdagangan Indonesia pada April 2021. Neraca perdagangan kumulatif pada Januari─April 2021 juga surplus USD 7,72 miliar. Nilai tersebut melampaui surplus perdagangan periode Januari─April 2020 yang hanya mencapai USD 2,22 miliar.
Nilai total ekspor pada April 2021 merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2011, bahkan ekspor nonmigas bulan ini merupakan yang tertinggi sepanjang masa. Kinerja ekspor Indonesia pada April 2021 mencapai USD 18,48 miliar, naik sebesar 0,69 persen (MoM), dan naik 51,94 persen (YoY). Peningkatan kinerja ekspor pada April 2021 ini didorong peningkatan ekspor sektor migas sebesar 5,34 persen (MoM) dan juga peningkatan ekspor nonmigas sebesar 0,44 persen (MoM).
Menurut Mendag, peningkatan ekspor April 2021 didorong peningkatan hampir seluruh sektor. Ekspor sektor industri naik 0,56 persen; pertambangan naik 2,33 persen; migas naik 5,34 persen; dan pertanian turun 14,55 persen (MoM).
Dikatakan M Lutfi, pencapaian kinerja ekspor yang sangat baik di masa pemulihan ekonomi ini dapat diartikan bahwa Indonesia mampu memanfaatkan peluang yang ada pada saat dunia sedang bergerak menuju pemulihan ekonomi.
Baca juga : Pasar Ekspor Produk Kabel ke Ukraina Berpeluang Meningkat
“Saat ini, manufaktur Indonesia berada pada periode ekspansif. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) Manufaktur dari IHS Markit pada April 2021 tercatat sebesar 54,6, naik dari 53,2 di Maret dan mencatat rekor baru selama dua bulan berturut-turut,” tutur Mendag.
Nilai ekspor Indonesia pada April 2021 ke beberapa negara mitra utama meningkat cukup signifikan, antara lain ekspor ke Selandia Baru dengan peningkatan ekspor sebesar 40,96 persen (MoM), disusul kawasan Asia Tengah yang tumbuh 40,06 persen (MoM), dan Afrika Tengah yang tumbuh 23,12 persen (MoM).
Program Vaksinasi Covid-19
Mendag Lutfi menjelaskan, kinerja positif neraca perdagangan ini tak lepas dari akselerasi program vaksinasi Covid-19 di berbagai negara yang mulai menunjukkan hasil positif. Negara-negara tersebut mempercepat program vaksinasi pada Januari—April 2021.
Sementara Indonesia, perekonomiannya berada pada fase goldilocks (pertumbuhan ekonomi ideal tidak terlalu cepat maupun terlalu lambat) yang ditopang faktor eksternal berupa kenaikan harga komoditas dan pemulihan ekonomi sejumlah negara.
“Pada April 2021 kinerja ekspor Indonesia ke negara-negara Eropa telah kembali pulih ke level sebelum pandemi. Tanda penguatan kinerja ekspor juga terus terlihat di kawasan Asia, di antaranya Asia Timur sebesar 6,17 persen (MoM) dan Asia Tenggara sebesar 3,91 persen (MoM). Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi perdagangan di kawasan Asia masih sangat besar,” tambah Mendag.//


