Jakarta, BisnisToday – Hasil minor Tim Nasional U 17 di Piala Dunia, menyulut kritik tajam terhadap pelatih Nova Arianto.
Kanal Awan La Beneamata memicu desakan #NovaOut di TikTok, mewakili kekecewaan publik terhadap kinerja Timnas U-17 dalam ajang internasional.
“Timnas U17 melalui pemusatan latihan (TC) berbiaya mahal di Dubai mewah, bahkan PSSI menggelar event khusus di Medan Sumatera Utara,” kata Awan pada Minggu (8/11/2025) malam menyimpulkan bahwa investasi besar PSSI tak tercermin dalam fondasi permainan yang kokoh.
“Nova Arianto gagal mentransformasi investasi besar PSSI. Fondasi permainan yang kokoh itu ternyata tidak terlihat,” ujar Awan mengawali diskusi.
“Mengapa investasi besar untuk TC mewah hanya menjadi perban sementara bagi luka kronis di sistem pembinaan usia dini Indonesia?”
Ia menimpali bahwa pihak terkait seolah mengalirkan dana tanpa memperhatikan keseimbangan dengan kualitas mental dan teknik dasar yang justru menentukan di turnamen level dunia.
Jebakan ‘STY-Isme’ dan Taktik Monoton
Kritik terhadap Nova Arianto bersumber dari kedekatannya yang terlalu dominan dengan mantan pelatih kepala, Shin Tae-yong (STY).
Banyak pengamat menilai Nova terlalu membabi buta mengadopsi gaya STY, sehingga mereka kemudian mencap pendekatan itu sebagai “Shin Tae-yong Isme.”
Para analis menilai Nova menerapkan pola 3-4-3 yang monoton dan cenderung bertahan, sehingga pola itu mencerminkan bayang-bayang filosofi STY.
Kritikus menuding formasi tersebut memperlihatkan kelemahan kronis pemain muda Indonesia, terutama di lini belakang yang sering gagal mengantisipasi skema bola mati dan umpan silang lawan.
Model ini menekankan disiplin dan tuntutan fisik yang tinggi.
Namun, banyak pihak mempertanyakan tuntutan kesempurnaan fisik di level U-17 karena tuntutan itu mengabaikan defisit fundamental teknik yang sebenarnya jauh lebih mendasar.
Syaiful Amri menilai kebijakan pelatih yang melarang pemain memakai media sosial selama turnamen sebagai tindakan ambigu.
“Ada dua persoalan krusial. Pertama dalam hal treatment, pressure tidak boleh main medsos sesuatu yang ambigu,” kata Syaiful.
Walaupun bertujuan menjaga fokus, tindakan ini dikhawatirkan memicu tekanan mental yang justru kontraproduktif.
Keruntuhan Mental dan Hasil Jeblok
Syaiful Amri menegaskan, hasil buruk di Piala Dunia U-17 menjadi pembenaran wajar atas desakan publik.
“TC panjang yang mewah, hasilnya bapuk di Piala Dunia U-17. Wajar tagar #NovaOut menggema,” sambungnya.
Beberapa hasil minor, termasuk kekalahan telak dari Korea Utara (0-6), ditengarai terjadi karena fokus pemain yang cepat lepas.
Hilangnya konsentrasi ini berakibat fatal karena lawan langsung mengkonversinya menjadi gol.
Syaiful memaparkan, pemain terlihat nervous dan takut benturan saat menghadapi pressing agresif, seperti saat melawan Zambia atau Brasil.
Mereka sering kehilangan bola (turnover) di area krusial akibat terburu-buru dan gagal mengambil keputusan cepat.
Awan menambahkan, TC yang berbulan-bulan ternyata tidak mampu memperbaiki akurasi di depan gawang.
Sejumlah peluang emas, terutama di babak kedua pertandingan, gagal dimaksimalkan, menunjukkan bahwa Nova gagal mengatasi kelemahan kronis di sepertiga akhir lapangan.
“Lima tahun dia menjadi asisten pelatih STY, di mana manfaatnya? Kalau pun dia diproyeksikan naik ke Timnas U20 apalagi U-23, bisa hancur,” tandas Syaiful Amri, mempertanyakan kelayakan Nova Arianto untuk terus memimpin tim usia muda.
Akhir kata, Awan La Beneamata menutup diskusi dengan pertanyaan krusial yang ditujukan kepada PSSI.
“Jujur saja, ini bukan personal. Pertanyaannya, apa yang bagus, apa kelebihan dari Timnas U17 di tangan Nova Arianto, dan sampai kapan PSSI akan mempertahankannya?” timpal Awan.
Tuntutan publik kini menuntut keadilan ke PSSI, jika hasilnya jeblok, standar perlakuan terhadap pelatih pun harus adil.

