www.bisnistoday.co.id
Selasa , 8 September 2026
Home GLOBAL Mahfuz Sidik : Mitigasi Konflik Cina-Taiwan Dinilai Penting
GLOBALKawasan Global

Mahfuz Sidik : Mitigasi Konflik Cina-Taiwan Dinilai Penting

KONFLIK CINA-TAIWAN : Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia saat Gelora Talks bertema : Ancaman Perang di Taiwan, Mungkinkah dihindari? Secara daring di Jakarta, Rabu (31/8).
Social Media

JAKARTA,  Bisnistoday – Konflik kawasan, antara Cina dan Taiwan mirip dengan perseteruan Rusia dan Ukraina. Kedua konflik ini, baik Rusia-Ukraina maupun Cina-Taiwan didasari oleh reaksi atas kekuatan eksternal. ”Konflik Taiwan ini butuh mitigasi serius agar tidak menjadi kenyataan perang terbuka,” tutur Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia saat Gelora Talks bertema : Ancaman Perang di Taiwan, Mungkinkah dihindari? Secara daring di Jakarta, Rabu (31/8).

Hubungan kedua negara memanas, menurut Mahfuz, diperlihatkan dengan adanya latihan perang besar-besaran Cina, dan Taiwan menilai sebagai ancaman serius bahwa latihan ini untuk mempersiapkan invasi ke wilayahnya. Begitupun Taiwan, juga mirip sejarahnya dengan Ukraina. “Isu kalau berubah jadi konflik nyata, akan banyak pengaruhnya dan komplek,” tuturnya. 

Berkaca hal tersebut, menurut Mahfuz, anggaran pertahanan menjadi penting, namun terkadang dipandang sebelah mata. Pada umumnya, kebijakan pemerintah memang lebih mengedepankan benefit ekonomi secara langsung. Pahadal pembangunan pertahanan akan mendapat benefit secara tidak langsung (indirect). “Seperti peningkatan SDM TNI AL, dipandang tidak penting, dan lebih penting BLT (bantuan langsung tunai), dan infrastruktur.” 

Teuku Rezasyah, Pakar Hubungan International mengatakan, sejatinya, Cina juga tidak ingin menyerang Taiwan, dan kalaupun terjadi pengerahan kekuatan militer, maka Cina sebenarnya lebih mampu. 

Terlepas dari ini, lenjut Teuku, bagi Indonesia yang terpenting bagaimana memulangkan sekitar 300 ribu WNI di Taiwan, baik mereka yang bekerja atau belajar. “Jadi sebaiknya, Indonesia lebih memilih status quo, dan penting saat ini. Seiring dengan itu, Indonesia juga harus mampu mandiri secara pertahanan,” ujanrya. 

Teuku mengatakan, sikap status quo penting ditengah ketegangan dua negara tersebut, Cina dan Taiwan. Meski begitu, Indonesia juga tidak bisa tinggal diam apabila persoalan konfliknya meluas sampai ke Laut Cina Selatan. 

“Kondisi sekarang TNI, memiliki tugas pokok, harus sebagai penyeimbang, mandiri dalam pertahanan, serta terus melanjutkan kerja sama strategis baik ke AS, Jepang, Korsel atau Uni Eropa,” terangnya. 

Perang Tak Terhindarkan

Sementara, Connie Rahakundini Bakrie, Pengamat Militer dan Pertahanan menuturkan, Indonesia harus menyadari bahwa perang selalu muncul dalam kurun waktu tertentu. sejak dunia ini berputar, 4.000 tahun lalu, selama 800 tahun dihabiskan untuk berperang. “Hal ini sudah disadari oleh Bung Karno saat itu,” terangnya. 

Menyinggung kasus Taiwan, Connie mengharapkan tidak terjadi perang terbuka seperti Rusia dan Ukraina. Untuk itu, pemerintah tidak menanggapinya dengan cara normatif. “Kasus Taiwan ini sangat danger, karena melibatkan perputaran ekonomi kawasan dan dunia yang cukup besar. Belum lagi wilayahnya sangat strategis dalam mempengaruhi perekonomian global.”

Menurutnya, kondisi perekonomian negara yang terpengaruh akan berdampak terhadap geopolitik kawasan juga. Apabila terjadi invasi maka semua negara mengantisipasi dengan berbagai kebijakan agar ekonominya terus bertahan. “Terjadi trade destruction bayangkan pengaruhnya 20-35% dari perputaran ekonomi dunia.” 

Menurut Connie, posisi Indonesia harus berada ditengah (inline).Seiring dengan itu, juga membangun peningkatan kapasitas pertahanan negara. Kenapa harus anti perang, karena dampak ekonomi buruk, inflasi dan berdampak terhadap geopolitik.Kita harus bangun pertahanan yang kuat di Asia Selatan.”

Harus Dikalkulasi Serius

Wawan Hari Purwanto, Pengamat Intelijen mengingatkan konflik Taiwan harus dikalkulasi dengan baik. Seperti efek di Rusia-Ukraina, memberikan efek harga pangan melambung.  “Intinya, kita ingin ketegangan Cina dan Taiwan ini tidak meletus, karena makin runyam persoalan dunia.”

Ia memprediksi, Cina tidak lantas menyerang secara terbuka dengan Taiwan. Pasalnya, Cina selama ini lebih suka perang dagang ketimbang perang senjata. Bagi Cina, perang senjata itu sangat merusak sendi-sendi perekonomian. ”Perang itu bentuk diplomasi yang gagal. Padahal kalau perang terjadi dampaknya meluas dan panjang. Kalau menang jadi arang, dan kalahpun akan jadi abu,” tuturnya. /

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Tokoh feminis Gloria Steinem (dokRichard Saker/The Observer)
GLOBAL

Aktivis Perempuan dan HAM, Gloria Steinem Tutup Usia

JAKARTA, Bisnistoday - Tokoh feminis yang juga seorang mantan jurnalis, Gloria Steinem,...

Presiden Putin
Kawasan Global

Presiden Putin: Indonesia Mitra Paling Kunci bagi Rusia di Asia Pasifik

VLADIVOSTOK. Bisnistoday - Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin menyebut Indonesia sebagai mitra...

Presiden Prabowo
HEADLINE NEWSKawasan Global

Presiden Prabowo Hadiri Eastern Economic Forum (EEF) di Rusia

JAKARTA, Bisnistoday -Presiden Prabowo Tiba di Rusia Jadi Tamu Kehormatan di Eastern...

logo baru
Kawasan Global

Kemenhub Resmi Umumkan Pencalonan Indonesia sebagai Anggota Dewan ICAO 2026

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan secara resmi mengumumkan pencalonan...