www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 2 Mei 2026
Home EKONOMI BUMN Bukan Setor ke Negara, Tapi Malah Kuras Uang Negara
EKONOMIEkonomi & Bisnis

BUMN Bukan Setor ke Negara, Tapi Malah Kuras Uang Negara

SELAMA kepemimpinan Erick Tohir, semua BUMN berada dalam krisis.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Menteri BUMN Erick Tohir mengklaim bahwa perusahaan badan usaha milik negata (BUMN) pada tahun 2023 mencatat sebagai penyetor deviden terbesar  kepada negara sepanjang sejarah. Padahal fakta yang terjadi justru sebaliknya. Mayoritas BUMN malah sedang menguras uang negara.

Sebut saja misalnya, setoran deviden  BUMN dari BRI kepada kas negara yang jumlahnya sebesar 23,15 triliun (laporan keuangan BRI, 2022). Padahal pelat merah itu sepanjang tahun 2022 menerima subsidi bunga dan Imbal Jasa Penjaminan yang berpengaruh langsung di sisi pendapatan bersih  sebesar 21,56 triliun (outlook 2022, Nota Keuangan, 2023).

Faktanya, justru bank tersebut yang paling banyak menguras uang negara melalui subsidi bunga dan Imbal Jasa Penjaminan. “Jadi keuntungan bersih atau earning-nya itu berasal dari uang negara, para pembayar pajak, bukan dari kinerja. BRI bukan menyumbang negara tapi telah menyedot uang negara secara besar besaran,” kata Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis ( AKSES) dan Chief Executive Officer, Suroto, Rabu (03/5).

Itu baru BRI, belum Bank Himbara yang lain serta BUMN lainya seperti PT Pertamina, PT Garuda dan lain-lain. Mereka banyak menerima subsidi dari Dana Restrukturisasi akibat pandemi Covid-19.

Dari sisi equitas juga, lanjut Suroto, BUMN banyak membebani negara karena BUMN-BUMN yang sudah go public-pun tetap meminta Penyertaan Modal Negara dan Dana Penempatan untuk selamatkan likuiditas mereka. “Padahal seharusnya perusahaan yang sudah go public itu diharapkan mencari tambahan modal dari Bursa Efek bukan justru membebani negara,” tandasnya.

Menurut Suroto, BUMN kita juga banyak yang terancam gagal bayar karena beban utang yang membengkak karena harus menjalankan ambisi pemerintah. Sebut saja misalnya PT PLN yang rasio utangnya dan modal sendirinya sudah minus.

Selama kepemimpinan Erick Tohir di Kementerian BUMN, semua BUMN berada dalam krisis karena banyak dipolitisasi untuk pencitraaan dirinya. Ini dapat dilihat secara kasat oleh masyarakat awam dengan wajahnya yang menempel di setiap printed material promosi BUMN dimana-mana.

Hal yang paling mengenaskan adalah, dalam kepemimpinan Erick Tohir ini informasi tentang laporan keuangan konsolidasi BUMN tidak aksestabel, dan laporan keuangan BUMN hampir separo unaudited atau tidak teraudit. “ Itu artinya laporan keuanganya banyak yang diragukan,” pungkas Suroto./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

Related Articles

Robot (Ilustrasi/unsplash/alex knight
EKONOMIOtomotif & Tekno

Konvergensi Teknologi Kunci Kemajuan di Masa Depan

JAKARTA, Bisnistoday – Di masa depan, kemampuan bersaing suatu negara atau perusahaan...

Kilang Minyak (Ilustrasi/Umsplash/maksym kaharlytsky)
EKONOMIEnergiGLOBALKawasan Global

UEA Keluar dari OPEC, Apa Dampaknya pada Harga Minyak?

JAKARTA, Bisnistoday - Konflik di Timur Tengah telah berdampak pada organisasi negara-negara...

Dirjen Intram
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Biaya Logistik Masih Tinggi, Kemenhub Genjot Multimoda dan Digitalisasi

JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda...

Mou Pengembangan Bioetanol (dok PTPN)
EKONOMIEnergi

Kementan dan ESDM Percepat Hilirisasi Pertanian dan Energi

JAKARTA, Bisnistoday - Pemerintah terus memperkuat komitmen dalam mempercepat program hilirisasi pertanian...