www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 18 April 2026
Home NASIONAL & POLITIK Humaniora Menjaga Politik Beretika & Beradab di Indonesia
Humaniora

Menjaga Politik Beretika & Beradab di Indonesia

Komaruddin Hidayat, Pemikir Islam dan Kebangsaan./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Demokrasi sudah menjadi brutal dan menjadi hukum rimba, terjadi arus balik perpecahan di antara pendukung capres Pilpres 2024 dan konflik satu sama lain, yang dulu sangat mendukung kekuasaan sekarang berbalik.

Demikian sambutan Prof. Didik J. Rachbini dalam Serial Diskusi Fatsoen Politik bertajuk “Menuju Politik yang Beretika & Beradab di Indonesia”  yang diselenggarakan oleh The Lead Institute Universitas Paramadina secara daring Selasa (5/12).

“Fenomena relawan dalam Pilpres merupakan bagian dari sistem institusi rule of law, namun selama 9 tahun relawan justru menjadi rayap demokrasi yang bernaung di bawah kekuasaan,” ujar Didik J Rachbini.

“Dia ada di bawah karpet yang dulu memuji-muji kekuasaan dan secara tidak langsung membungkam orang kritis, tapi sekarang menjadi oposisi. Rayap demokrasi adalah suatu bentuk penyimpangan yang membuat wajah pemimpin Indonesia seperti Putin (bercorak otoriter),” terang Didik.

Narasumber Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Pemikir Islam  dan Kebangsaan menyampaikan bahwa Negara Indonesia adalah anak kandung masyarakat yang muncul dari keberagaman komunitas serta etnis yang merupakan modal perjuangan dan identitas kelompok.

“Pada mulanya, komunitas dan etnis yang beragam itu berharap fatsoen politik akan terus dijaga dan dirawat setelah Indonesia merdeka. Tapi lama kelamaan, Indonesia justru menjadi Malin Kundang terhadap ibu kandungnya, civil society. Saat berada pada posisi negara modern godaannya semakin power full dan perlahan impian berubah.” Ujarnya.

“Kelelahan, kemarahan, pembusukan, dan kekecewaan masyarakat menjadi ujung Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Ini sudah menjadi siklus. Dulu (sejak periode pertama pemerintahan Jokowi-JK) state building dibangun dan berjalan dalam waktu 10 tahun, namun di ujung pemerintahan, pilar negara dan berbangsa justru defisit kepercayaan publik.” Imbuhnya.

Permainan Politik

Narasumber lainnya Dr. M. Subhi Ibrahim, Ketua Program Magister Studi Islam memaparkan bahwa Negara, adalah sebuah entitas yang bisa juga bubar, ketika kesepakatan yang dibuat oleh rakyat tidak lagi memberikan mandat kepada negara.

“Pada akhirnya politik negara akan banyak menentukan bagaimana wajah negara ke depan. Semua juga tidak terlepas dari permainan politik. Ketika masuk pada permainan politik, ada sistem, aturan dan aktor. Problemnya adalah bagaimana bisa memberikan kartu merah bagi mereka yang melanggar aturan.” Terangnya.

“Jadi dalam konteks nalar politik seperti di atas, maka penguasa yang ingin 3 periode mungkin adalah politikus yang punya pembenarannya sendiri. Namun ada pertanyaan, apakah kekuasaan itu tanpa batas? Di situlah kemudian arti pentingnya sebuah Demokrasi.” Tegasnya.

Bicara Angka-Angka

Narasumber berikutnya Tokoh/Politisi Muda Tsamara Amany S.Ikom, M.A, memaparkan bahwa realitas demokrasi adalah soal hitungan siapa yang paling banyak merasa dan paling merasa setuju atau tidak setuju. Sehingga dalam pemilu kalau mau menang 50 persen plus satu, kalau lihat tingkat kepuasan berapa persen ke atas, artinya bicara angka-angka.

“Masalah utama dari segala lini baik di anak muda Gen Z, generasi milenial, generasi X, boomer semua masalahnya sama, yakni selalu tentang ekonomi. Apa yang menjadi aspirasi dan tujuan utama mereka dalam berdemokrasi; lapangan pekerjaan, harga sembako dan sebagainya.” bebernya.

“Saya yakin 10 tahun lagi kalau kita bicara angka konsern masyarakat apapun sistem pemerintahan yang diberikan adalah masalah ekonomi. Kalau politik tidak bisa memberikan output nyata, hanya berbasis ide saya yakin tidak ada satupun masyarakat yang mendukung,” paparnya.//

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

TRADE EXPO INDONESIA 2025

SOROTAN BISNISTODAY

Beritasatu Network

Related Articles

Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak
Humaniora

Kemenko Polkam Dorong Kolaborasi Lintas Sektor dalam Implementasi Perlindungan Anak 

JAKARTA , Bisnistoday - Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam)...

Bunga Sakura (dok:Unsplash/Yu Kato)
HumanioraLingkungan

Prof Yasuyuki Aono, Sakura, dan Jejak Perubahan Iklim

JAKARTA, Bisnistoday - Di Jepang ada seorang pria yang tekun meneliti tanaman....

Gedung Rektorat UI (dok:Bisnistoday/adi)
HukumHumaniora

ILUNI FIB UI Minta Pengusutan Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di FHUI Adil dan Transparan

JAKARTA, Bisnistoday –  Ikatan Alumni Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ILUNI...

Rakor DPR RI
Humaniora

Penerimaan Mahasiswa Baru PTN Secara “Brutal” Makin Disorot

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah dinilai sudah waktunya untuk mengendalikan penerimaan mahasiswa baru...