www.bisnistoday.co.id
Minggu , 16 Agustus 2026
Home OPINI Indepth Menolak Dana Oligarki Pemilu
IndepthOPINI

Menolak Dana Oligarki Pemilu

ILUSTRASI DUKUNGAN Investasi Politik Para Oligarki.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Didalam berkomunikasi politik, dapat mengambil referensi strategi seorang komunikasi politik Bernie Sanders, politisi Amerika Serikat yang memposisikan dirinya sebagai seorang politisi pembaharu, menolak keterlibatan dana oligarki pada kampanyenya, selalu berpihak pada isu-isu lingkungan, kesehatan, kesejahteraan buruh, isu-isu perempuan dan anak muda, dan isu-isu egaliter lainnya.

“Strategi crowdfunding/dana akar rumput Sanders sukses dalam edukasi politik dan menghindari politik praktis pembagian uang dan barang.”

Hal tersebut diungkapkan Erik Ardiyanto M.Ikom, Penulis Buku & Dosen Prodi Ilmi Komunikasi Universitas Paramadina saat Seminar dan Peluncuran Buku : “Strategi Komunikasi Politik Jelang Pemilu 2024 (Perbandingan Amerika dan Indonesia), Rabu,  (21/6) kemarin.

Bernie Sanders, seorang keturunan Yahudi Polandia pada usia 39 tahun maju sebagai calon walikota Burlington lewat jalur independen melawan Gordon Paquette dari partai Demokrat. Sanders berhasil dalam kampanye politiknya dengan memposisikan diri sebagai kelas menengah dan berpihak pada kelas pekerja, apalagi slogan politiknya “Burlington is not for sale”.

Politik kelas digunakan Sanders dalam menganalisis realitas politik yang ada di masyarakat. Bernie Sanders juga membawa kelompok minoritas ke dalam pemerintahannya dengan membentuk Dewan Pemuda, Dewan Perempuan, Dewan Kesenian dan Majelis Perencanaan Lingkungan. Di saat itu Sanders dianggap sebagai politisi pembaharu yang menawarkan perubahan dan kebaruan.

Kepiawaian Sanders dalam komunikasi politik ditunjukkannya ketika menjadi anggota DPR dari jalur independen di Vermont pada 1990. Dia membentuk kaukus progresif di kongres dengan mendorong UU Violent Crime Control dan law Enforcement Act. Dia juga menolak invasi AS ke Iraq sewaktu George Bush dan terpilih sebagai anggota Senat dari Vermont dengan jalur independen.

Pada 2010 Sanders menolak Perjanjian Kemitraan Trans Pasifik (TPP) dengan berpidato delapan setengah jam di Senat dan menjadi trending topik media-media popular. Dia juga memperjuangkan isu kelas berbasis minoritas, imigrasi, veteran dan rasisme. Meloloskan UU Kesehatan 11 miliar USD untuk kelas bawah dan mendapatkan perawatn kesehatan sejenis BPJS. Mendukung UU Imigrasi “Dream Act” yang mendukung kewarganegaraan imigran di bawah umur. Sanders juga mengajukan rancangan UU Upah Minimum sebesar 15 USD per jam melampaui upah minimum federal Trump yang 7,35 USD per jam.

“Bernie Sanders popular dengan strategi Urun dana “Crowdfunding Politics” ketika pada 2016 maju sebagai capres dari partai Demokrat. Dia menolak komite politik atau sumbangan dana dari korporasi/oligarki. Sanders memecahkan rekor dengan strategi crowdfundingnya berhasil mengumpulkan dana 6,3 juta dollar USD dalam waktu 23 jam.”

Strategi crowdfunding/dana akar rumput Sanders sukses dalam edukasi politik dan menghindari politik praktis pembagian uang dan barang. Komunikasi politiknya dapat memberi pengaruh psikologi dengan motto : berkontribusi berarti ikut dalam membantu melakukan perubahan politik.

Kebuntuan Berdemokrasi

Sementara, Abdul Malik Gismar, Ph.D, Dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina mengutarakan, Bernie Sanders, Alexandria Ocasio Cortez, Jeremy Corbyn merupakan 3 tokoh penting hari ini dalam konteks membangun politik alternatif terhadap tradisi politik lama yakni Liberal Democracy atau liberal democratic politics yang sebetulnya hari ini mandeg/buntu.

Symtomp dari mandegnya politik liberal democracy banyak ditemui misalnya di Inggris dengan fenomena Brexit yang adalah “kecelakaan” luar biasa di mana ketika dalam referendum, ide Brexit itu didukung oleh partai yang sangat populis dan agak rasis dan setelah menang bingung mau berbuat apa. Tidak ada deliberasi dalam referendum itu dan tidak pula ada agreement di parlemen tentang apa yang harus dilakukan.

Di Amerika juga, kongres negara federal USA dan di banyak negara bagian USA juga acapkali mandeg. Salah satu contoh kasus mandegnya kongres diambil dari banyaknya mass shooting di USA sekarang dan mereka tidak pernah berhasil membuat Undang-undang (Comprehensive Gun Law).

Padahal korban penembakan massal di USA saat ini lebih banyak dari korban terorisme jika dikumpulkan sepanjang tahun. Mandegnya pembuatan UU Gun Law terjadi ketika deadlock di kongres, deadlock di garis partisan, dan Partai Republik yang anti Gun Law. Di samping juga ada lobby-lobby “pro Gun” yang sangat kuat.

Landscape politik di negara-negara liberal democracy khususnya di USA, Inggris, dan juga Perancis serta lain-lain hari ini amat bermasalah. Salah satu contohnya Gun Law di atas. Pemikir politikpun sudah memikirkan untuk mengganti model sistem politik yang nyata-nyata sudah tidak efektif, mandeg di mana-mana, wakilnya tidak pro publik dan para wakilnya tidak representative. Hampir 90% publik USA menginginkan Gun Law efektif tapi Gun Law nya tidak pernah bisa disusun.

Di sisi lain, ada model sistem politik seperti China dan Singapura yang diberi julukan oleh Navan Gardell penulis buku “Smart Government” sebagai “The Mandarinite Government/system”. Mandarinite System berciri luar biasa kuat dalam prinsip seperti integrity, anti corruption yang menjadi prinsip pemerintahan. Beurocratic Meritokracy benar-benar digunakan secara kuat oleh government dalam rangka mengurus rakyatnya. Namun kata “Partisipasi dan fairness” menjadi tidak dikenal.

“Apakah Indonesia perlu meniru model tersebut? baiknya memang dipikirkan bersama sama. Namun kelemahan Indonesia bisa dibilang selama ini tidak sungguh-sungguh mengurus birokrasi agar efektif, berintegritas dan pro publik.”

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

John Rainbird - Partner Bird&Bird Singapore (dok:Ist)
Indepth

Strategi Mengelola Risiko Hukum Lintas Negara dan Transaksi Strategis BUMN

JAKARTA, Bisnistoday – Dalam menjalankan aktivitas komersial di tingkat internasional, Badan Usaha...

Suporter Portugal (dok: Unsplash/Omar Ramadan)
OPINISport & Health

Melihat Sepak Bola dari Kacamata Ilmu Budaya

PADA umumnya, masyarakat memandang Piala Dunia sebatas rivalitas antarnegara.  Yang ingin orang...

Topan Bavi melanda Tiongkok (dok:AP/Southchinamorning)
Indepth

Topan Bavi Terjang Asia, Bukti Krisis Iklim di Depan Mata

JAKARTA, Bisnistoday -  Lebih dari belasan orang tewas akibat tanah longsor yang...

Kebakaran hutan (dok:Unsplash/Matt-Palmer)
IndepthLingkungan

Mengantisipasi Dampak El Nino

JAKARTA, Bisnistoday - Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana ilmiah yang hanya...