www.bisnistoday.co.id
Selasa , 28 Juli 2026
Home OPINI Indepth Merawat Toleransi Beragama
IndepthOPINI

Merawat Toleransi Beragama

SEMINAR Internasional bertajuk "Merawat Toleransi Beragama," di Universitas Paramadina./
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Kerawanan intoleransi dalam masyarakat majemuk, seperti Indonesia, harus terus diwaspadai. Sikap toleransi diharapkan jadi keutamaan bersama. Hal ini terungkap dalam Seminar Internasional bertajuk “Merawat Toleransi Beragama,” bertempat di Universitas Paramadina. Selasa (13/6).

Kegiatan ini diselenggarakan Universitas Paramadina bekerjasama dengan al-Musthafa International University (Iran), Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam se-Indonesia, STAI Sadra, dan Paramadina Graduate School of Islamic Studies.

Guru Besar STF Driyarkara, Prof. Frans Magnis Suseno  mengatakan, harus diakui masih ada intoleransi, masih ada ketakutan keterpisahan antara umat-umat beragama di Indonesia. Karena itu, kerap ada insiden-insiden yang memalukan. misalnya pembakaran 1.500 pemukiman umat berbeda di satu wilayah.

Magnis melanjutkan,” tapi sebenarnya toleransi di Indonesia amat baik. Umat Katolik di Jawa hanya 1 Persen namun merasa aman dan tidak bermasalah. Demikian pula mahasiswa Universitas Muhammadiyah di Kupang 90% beragama Kristen dna Katolik dan tidak ada masalah dengan kepercayaan mereka. Dalam 30 tahun terakhir hubungan NU dan Muhammadiyah semakin akrab. Saling menghargai, dan jika ada masalah maka umat katolik dapat berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah.”

Magnis menambahkan, dalam sejarah, Islam selalu lebih toleran daripada Kristianitas. Ada Kisah di mana Nabi Muhammad kedatangan tamu Kristiani dari Yaman lalu karena hari Ahad umat kristiani itu bertanya di mana mereka dapat beribadah, dan Nabi Muhammad menyuruh beribadah di dalam masjid nabi. “Itu luar biasa.”

Khalifah Umar juga di Yerusalem memastikan bahwa Katedral Kristiani tetap bisa dipakai oleh umat Kristiani. Tapi sekarang Timur Tengah kacau. Padahal lebih dari 1.000 tahun, minoritas kecil Yahudi dan 9% kristiani dari Mesir, Palestina, Yordan, Syria, Irak, hidup dengan damai bekerja tanpa kesulitan di dalam masyarakat dan pemerintahan Islami. “Dan itu fakta penting”

Moderatisme dan Toleransi

Guru besar dari  al-Musthafa International University , Iran, Prof. Dr. Hossein Muttaqih memaparkan juga bahwa,”Moderatisme dan toleransi dalam Islam sangat penting dan bisa kita pahami dari inti ajaran agama Islam berupa pesan-pesan Ketuhanan, dan juga karena faktor tanah air Indonesia itu sendiri. Ajaran agama Islam berisi 100% ajaran yang mengandung moderatisme dan toleransi.”

Menurut Muttaqih, Indonesia juga sebagai negara yang punya sejarah panjang serta sejarah akan sikap dan nilai-nilai moderatisme dan toleransi itu sendiri. Moderatisme dalam Islam ketika masuk kepada bangsa Indonesia, maka dia berasimilasi menjadi sebuah kesatuan nilai yang tak terpisahkan.

Muttaqi menekankan”moderatisme itulah yang dapat menjalankan roda agama sesuai dengan semestinya. Sikap dan nilai itulah yang akan membawa manusia pada perkembangan kemajuan dan bisa merealisasikan berbagai ajaran agama itu sendiri dan membawa manusia kepada keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Pluralisme dan Kemajemukan

Prof. Abdul Hadi WM, guru besar Universitas Paramadina menjelaskan,”Dalam sejarah Internasional, pluralism atau kemajemukan bukan monopoli masyarakat demokrasi atau liberal tapi telah ada dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia ini.

Abdul Hadi berujar bahwa, ada perbedaan di Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Jepang, serta Kekaisaran Persia dan Kekaisaran China. Kekaisaran Jepang amat totaliter karena memaksakan kemanunggalan ideologinya shintoisme. Juga Romawi memaksakan ideologinya dan menindas umat lain karenanya Romawi Timur Byzantium cepat handur diganti oleh Kerajaan Kristen.

Kerajaan Persia dan kerajaan China usianya lebih panjang karena menghargai toleransi kepada agama lain. Kerajaan Persia membolehkan umat beragama Kristen, Budhan dan lain-lain karenanya usianya amat panjang. Bahkan ketika Persia jatuh ke tangan Abbasiyah, kebijakan pluralisme Persia dilanjutkan oleh dinasti Abbasiyah. Sehingga boleh jadi semua aliran keagamaan dilindungi. namun berbeda dengan kekhalifahan Umayyah yang banyak menindas umat beragama lain.

Dalam pandangan Abdul Hadi, ada 3 tuntutan di Indonesia terkait pentingnya toleransi. Pertama, realitas sosial historis bangsa Indonesia dan realitas historis bangsa Indonesia yang luar biasa majemuk. Ada ratusan suku bangsa hidup belum lagi orang-orang asing yang juga hidup berdampingan selama berabad abad.

Masyarakat Liberal

Abdul Hadi melanjutkan, “karenanya jika orang Indonesia berkonflik soal agama dan budaya maka akan hancur sendiri karena falsafah bangsa Indonesia sejak dulu sebelum Islam dan agama resmi lain ada, terdapat harmoni dan kerjasama masyarakatnya (ashobiyah). Kodrat bangsa Indonesia memang bukan untuk saling bersaing seperti dalam masyarakat liberal. “

Bagi Abdul Hadi, borobudur ada karena adanya harmoni dan gotong royong masyarakatnya. Begitu pula masjid masjid besar di Aceh. Satu keuntungan lain dari Indonesia adalah mayoritas suku Jawa yang memang mementingkan harmoni dan kebersamaan, kerjasama/gotong royong.

Menariknya menurut Abdul Hadi,”realitas lain adalah geografinya yang antar pulau. Menjadikan keanekaragaman terpelihara dan saling toleran. Islam di Madura (NU) meski secara kultural berbeda dengan Islam di Jawa tapi tetap tidak ada masalah. Kenyataan abangan di Jawa dan Hindu di Bali tidak pernah berkelahi karena masalah kepercayaan.

“Di Indonesia munculnya gesekan-gesekan karena terlalu menekankan pada soal fiqh saja. Lupa bahwa dalam Islam terdapat aspek estetik Islam (sayyed Hossein Nasr). Para sufi berjasa karena menjadikan Islam sebagai agama yang indah, antara lain saluran-saluran kesenian yang dibawa oleh Islam ke Indonesia,”kata Abdul Hadi.

Terakhir Abdul Hadi menyinggung bahwa, “kemajemukan bangsa Indonesia berbeda dengan kemajemukan Malaysia. Di Malaysia kemajemukan karena terdapat orang China, dan keturuan asing bahsa Cina, Bahasa Keling, Tamil, melayu Jawa. dll. Beda dengan majemuknya Indonesia yang ternyata satu rumpun. misanya orang Aceh,Bugis, Makassar adalah satu suku Austronesia. Terlebih diikat oleh Ukhuwah Islamiyah. “Itu yang sering dilupakan.”/

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Suporter Portugal (dok: Unsplash/Omar Ramadan)
OPINISport & Health

Melihat Sepak Bola dari Kacamata Ilmu Budaya

PADA umumnya, masyarakat memandang Piala Dunia sebatas rivalitas antarnegara.  Yang ingin orang...

Topan Bavi melanda Tiongkok (dok:AP/Southchinamorning)
Indepth

Topan Bavi Terjang Asia, Bukti Krisis Iklim di Depan Mata

JAKARTA, Bisnistoday -  Lebih dari belasan orang tewas akibat tanah longsor yang...

Kebakaran hutan (dok:Unsplash/Matt-Palmer)
IndepthLingkungan

Mengantisipasi Dampak El Nino

JAKARTA, Bisnistoday - Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana ilmiah yang hanya...

Timnas Prancis yang didominasi keturunan imigran (dok:FFF)
IndepthSport & Health

Manuver Politikus Sayap Kanan yang Memalukan

JAKARTA, Bisnistoday – Pada 16 Juni 2026 lalu, di tengah udara gerah...