www.bisnistoday.co.id
Senin , 18 Mei 2026
Home OPINI Gagasan Pax Iranica: Ketika “Polisi Dunia” Pensiun Dini dan Kalkulasi Baru Dompet Nasional
Gagasan

Pax Iranica: Ketika “Polisi Dunia” Pensiun Dini dan Kalkulasi Baru Dompet Nasional

Social Media

JAKARTA, Bisnistoday -Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja bagi mereka yang masih memuja hegemoni Barat. Gencatan senjata US-Iran per 8 April 2026 ini bukan sekadar jeda tembak biasa. Ini adalah pengakuan kalah telak secara strategis. Washington terpaksa menelan mentah-mentah 10 syarat Teheran, mulai dari angkat kaki dari pangkalan militer hingga membiarkan Iran memasang “kasir” resmi di Selat Hormuz.

Kalau cuma bicara kebijakan atau draf proposal, AI juga bisa bikin dalam semenit. Tapi di lapangan, urusannya adalah angka, margin, dan kedaulatan ekonomi.

Pajak Geopolitik di Selat Hormuz
Poin kesepakatan soal “biaya rekonstruksi” lewat tarif kapal di Selat Hormuz adalah game changer. Ingat, sekitar 20-21 juta barel minyak per hari atau setara 20% konsumsi global melintasi jalur ini. Jika Iran mengenakan biaya tambahan—katakanlah US$ 1 hingga US$ 2 per barel sebagai dana rekonstruksi—maka ada tambahan beban biaya global sekitar US$ 7 miliar hingga US$ 14 miliar per tahun.

Pesan saya buat kawan-kawan pengusaha logistik: jangan mau jadi “pahlawan” dengan menyerap (absorb) kenaikan biaya itu sendirian. Struktur biaya logistik kita yang sudah tinggi (mencapai 14% dari PDB) tidak akan kuat menahan beban tambahan ini. Segera bongkar kontrak dengan klien. Masukkan klausul Fuel Surcharge yang dinamis. Jelaskan bahwa ada “pajak geopolitik” baru yang harus ditanggung bersama.

Dedolarisasi: Bukan Lagi Teori, Tapi Kewajiban
Isu Amandemen ke-25 di AS adalah sinyal keretakan internal yang serius. Di sisi lain, cadangan devisa global dalam Dolar AS terus merosot dari 70% di tahun 2000 menjadi di bawah 55% saat ini. Dengan lepasnya sanksi Iran, perdagangan minyak akan makin masif menggunakan Yuan, Euro, atau skema barter komoditas.

Bagi eksportir-importir kita, mempertahankan ketergantungan 100% pada Dolar adalah risiko murni. Pemerintah harus memperluas skema Local Currency Settlement (LCS). Kita tidak boleh terjebak dalam fluktuasi mata uang negara yang sedang mengalami krisis kepemimpinan. Diversifikasi portofolio keuangan perusahaan ke aset yang lebih keras seperti emas atau mata uang regional adalah langkah defensif yang wajib diambil sekarang.

Diplomasi Energi Tanpa Majikan
Pemerintah Indonesia tidak boleh lagi sekadar mengekor. Faktanya, impor minyak mentah kita terus membengkak, dan ketergantungan pada satu blok politik sangatlah riskan. Vakumnya militer AS di Timur Tengah adalah peluang emas bagi Pertamina untuk melakukan kontrak Direct Sourcing ke Teheran.

Tanpa perantara dan tanpa tekanan sanksi Barat, kita berpotensi mendapatkan harga yang lebih kompetitif—mungkin penghematan sekitar US$ 5-10 per barel dibanding harga pasar spot jika negosiasi dilakukan secara G-to-G. Angka ini sangat signifikan untuk menjaga kesehatan APBN dari beban subsidi BBM.

Eksekusi, Bukan Diskusi
Pelajaran besarnya satu: Iran bisa mendikte syarat karena mereka mandiri secara teknologi dan tahan banting. Kita harus berhenti menjadi pasar bagi teknologi luar. Investasi di industri pertahanan dan energi mandiri adalah investasi ekonomi jangka panjang, bukan sekadar belanja negara.

Fajar baru di Timur Tengah sudah menyingsing. Aturan mainnya sudah berubah total dari unipolar ke multipolar. Pengusaha dan pejabat yang masih pakai “buku panduan” lama bakal ketinggalan kereta. Sekarang bukan waktunya banyak rapat atau bikin kajian teknis yang tebalnya minta ampun. Sekarang waktunya eksekusi: amankan kontrak, amankan pasokan, dan amankan kedaulatan ekonomi kita sendiri.

Kalau kita tetap diam, jangan kaget kalau nanti kita cuma jadi penonton di pinggir jalan sementara negara lain sudah asyik membagi kue di tatanan dunia yang baru ini.

Rabu, 08 April 2026

Oleh: E. T. Hadi Saputra

Pengamat Politik Internasional

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Andi Anzhar Cakra Wijaya
Gagasan

KADIN Indonesia Bidang Diplomasi Multilateral Dorong Penguatan Kerja Sama Investasi, Perdagangan dan Industri

JAKARTA, Bisnistoday - Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Bidang Diplomasi Multilateral...

Annisa Utami Kusumanegara
Gagasan

Indonesia 2030: SDGs Jangan Berhenti Menjadi Sekadar Slogan

MENJELANG  tahun 2030, Indonesia dihadapkan pada satu pertanyaan besar: apakah target Sustainable...

Kopdes Merah Putih
Gagasan

Barang Subsidi Mesti Didistribusikan Melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

DALAM perspektif teori ekonomi, barang bersubsidi pada hakikatnya merupakan bagian dari barang...

Selat Hormuz
Gagasan

Setelah Hormuz, Ketegangan Geopolitik Bakal Beralih ke Selat Malaka

DINAMIKA geopolitik global tengah bergeser dari Teluk Hormuz menuju Selat Malaka. Kegagalan...