JAKARTA, Bisnistoday – Ditengah tingginya potensi bencana seperti perubahan iklim, ring of fire gunung api, Indonesia butuh program untuk pemberdayan dan mitigasi bencana. Ketika terjadi bencana, peran perempuan sangat penting dalam penaganan darurat serta mitigasi jangka panjang.
Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia, Irene Umar serta Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga) Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka saat Dialog Nasional dan Lokakarya, bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat, Peningkatan Kemandirian, dan Resiliensi Nasional dalam Memperkuat Kepemimpinan Nasional yang Strategis dan Inklusif” di Jakarta, Rabu (8/4).
Veronica Tan, Wamen PPA mengatakan, disaat terjadi bencana berbagai bantuan dari pusat tiba, seperti dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kemendagri, Satgas dan lainnya belum dikelola secara inklusif. “Masyarakat sebenarnya punya ketahanan, hanya tinggal diberi stimulus maka akan berjalan efektif,” urai Veronica.
Seperti fungsi Kepala Desa saat bencana, menurut Veronica Tan memiliki peran penting, karena mengoneksikan bantuan pusat ke area dituju. Apabila pengelolaannya belum secara inklusif maka bantuan bisa terhalang atau kurang smooth. Tentu, tegas Verocina, fungsi penanganan bencana akan berjalan efektif apabila kepala daerah memiliki perspektif dari sisi pandang ibu dan anak.
Irene Umar berkomentar mengenai bagaimana mengembangkan kreatifitas bagi kaum perempuan khususya bagi ibu rumah tangga. Menurutnya, kreatifitas bisa terbangun dimana mana, termasuk dalam kaum ibu rumah tangga. “Dalam era digital ini, kaum ibu bisa menghasilkan atau produktif walau di rumah.”
Sementara, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka memandang program pemerintah terhadap pemerintah sangat peting. Pembangunan keluarga merupakan inti sasaran program sehingga sasarannya komplek. Apabila ingin meningkatkan kualitas SDM, maka program keluarga harus ditangani serius.
“Siklus kehidupan ini yang menjadi sasaran, sejak 1000 kelahiran hingga tumbuh dewasa, bekerja produktif, masa pernikahan hingga masa tua atau pension, menjadi satu kesatuan. Termasuk bagaimana keterlibatan ayah dalam keluarga,” urainya. /




