JAKARTA, Bisnistoday – Pendidikan tinggi Indonesia dinilai tengah menghadapi krisis arah dan kualitas di tengah ketatnya persaingan global. Sejumlah akademisi dan pembuat kebijakan menilai, tanpa reformasi serius berbasis riset dan inovasi, perguruan tinggi nasional akan semakin tertinggal dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk “Evaluasi & Outlook Pendidikan Tinggi Riset Menuju Kampus Global” yang diselenggarakan Universitas Paramadina. Forum ini menghadirkan pemangku kepentingan strategis dari legislatif serta pimpinan perguruan tinggi nasional sebagai ruang refleksi kritis terhadap masa depan pendidikan tinggi Indonesia
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai kampus-kampus di Indonesia telah kehilangan momentum untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, riset, dan inovasi. Ia menyebut ketertinggalan Indonesia semakin nyata jika dibandingkan dengan negara seperti Singapura dan Malaysia yang secara konsisten membangun ekosistem pendidikan tinggi berbasis riset.
Baca Juga : Regulasi Satu Data Pendidikan Tinggi Disosialisasikan
“Kualitas perguruan tinggi sangat menentukan daya saing ekonomi suatu bangsa,” ujarnya. Prof. Didik mencontohkan Vietnam yang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 7,5 persen per tahun berkat keberhasilan membangun kualitas SDM melalui pendidikan tinggi. Ia juga mengkritik ekspansi masif perguruan tinggi negeri yang dinilai mengorbankan mutu, terutama terkait rasio dosen dan mahasiswa yang tidak sehat
Sorotan tajam juga diarahkan pada pembukaan kelas magister di sejumlah kampus negeri di Jakarta. Menurut Prof. Didik, langkah tersebut tidak berkorelasi dengan peningkatan kualitas akademik. “Itu lebih banyak menjadi sarana menambah pendapatan dosen, bukan meningkatkan riset dan inovasi,” tegasnya.
Berbagai Kendala Pendidikan
Sementara itu, Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, menyoroti persoalan mendasar pendidikan tinggi nasional yang mencakup akses, keterjangkauan biaya, serta ketimpangan kualitas antarwilayah yang masih terpusat di Pulau Jawa. Ia menegaskan bahwa tantangan riset dan inovasi semakin mendesak seiring perubahan kebutuhan industri dan masyarakat.
Menurut Hetifah, perguruan tinggi tidak lagi cukup berfungsi sebagai institusi pengajaran semata. Kampus harus bertransformasi menjadi pusat inovasi yang mampu menjawab tantangan strategis nasional, mulai dari energi terbarukan hingga ketahanan pangan dan penguasaan sains serta teknologi
Dari sisi transformasi kelembagaan, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc., IPU, menekankan pentingnya strategi jangka panjang berbasis perencanaan yang matang. Ia menyebut pemeringkatan global dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, bukan tujuan utama, dalam menentukan prioritas pengembangan kampus. Perguruan tinggi, katanya, harus bergerak dari teaching university menuju research university hingga entrepreneurial university atau “kampus berdampak”.
Obsesi Peringkat Global
Namun, kritik terhadap obsesi peringkat global disampaikan Prof. Andi Adriansyah, M.Eng. Ia menilai fokus berlebihan pada publikasi dan sitasi justru mendistorsi tujuan pendidikan tinggi. “Kampus seolah menjadi pabrik artikel ilmiah, tetapi dampak risetnya terhadap masyarakat tidak terukur,” ujarnya. Ia mendorong pergeseran paradigma dari global ranking menuju global relevance, yakni pengakuan internasional terhadap kampus yang benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat
Diskusi ini menegaskan bahwa masa depan pendidikan tinggi Indonesia bergantung pada keberanian melakukan reformasi menyeluruh. Tanpa perubahan orientasi dari pengajaran massal menuju riset dan inovasi berdampak, cita-cita mewujudkan kampus berkelas dunia dikhawatirkan hanya akan menjadi slogan./








































