JAKARTA, Bisnistoday – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) kembali mempertegas perannya sebagai motor transisi energi nasional. Anak usaha Pertamina ini resmi menuntaskan dan menyerahkan dokumen teknis pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Unit 7 dan 8 kepada PT PLN (Persero), sebuah langkah krusial untuk mempercepat realisasi proyek energi bersih di Sulawesi Utara
PLTP Lahendong Unit 7 dan 8 dirancang memiliki kapasitas masing-masing 20 megawatt (MW), yang dikombinasikan dengan pembangkit binary unit berkapasitas 10 MW. Penyerahan dokumen teknis ini menjadi syarat utama bagi PLN dalam melakukan evaluasi pembelian listrik energi baru dan terbarukan (EBT) melalui skema Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL).
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, menyebut penyampaian dokumen tersebut sebagai milestone penting dalam pengembangan panas bumi nasional, khususnya di Lahendong yang telah beroperasi sejak Unit 5 dan 6 pada 2016.
“Ini menjadi langkah strategis bagi PGE untuk mendorong percepatan tahapan pengembangan berikutnya. Kami berharap PLN dapat segera melanjutkan proses evaluasi pembelian listrik dari pembangkit EBT ini,” ujar Edwil
Saat ini, PGE menyumbang sekitar 30 persen pasokan listrik di Sulawesi Utara dan sekitarnya. Dengan beroperasinya Unit 7 dan 8 serta binary unit, kontribusi tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 35 hingga 40 persen, memperkuat ketahanan energi regional sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbasis fosil.
Pengembangan PLTP Lahendong juga sejalan dengan target nasional peningkatan kapasitas pembangkit EBT hingga 76 persen pada periode 2025–2034. Proyek ini tercantum dalam Blue Book 2025–2029 Kementerian PPN/Bappenas sebagai salah satu dari empat proyek strategis panas bumi PGE, menandai perannya sebagai tulang punggung transisi energi Indonesia
Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Tak hanya berdampak pada sektor kelistrikan, menurut Edwil, industri panas bumi turut memberi kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Sepanjang 2010–2024, sektor ini mencatatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp21,43 triliun, serta Dana Bagi Hasil (DBH) ke daerah penghasil mencapai Rp10,82 triliun pada 2019–2024, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui efek berganda.
Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, PGE menargetkan kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW) dalam 2–3 tahun ke depan dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2033. Saat ini, PGE mengelola kapasitas 727 MW di enam wilayah operasi dan tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis lain, termasuk PLTP Hululais serta proyek co-generation bersama PLN Indonesia Power.
Langkah percepatan di Lahendong menjadi sinyal kuat bahwa panas bumi bukan sekadar energi alternatif, melainkan fondasi utama masa depan energi bersih Indonesia.//










































