www.bisnistoday.co.id
Sabtu , 10 Oktober 2026
Home GLOBAL Penghentian Gas Rusia Bikin UE Kalang Kabut
GLOBALKawasan Global

Penghentian Gas Rusia Bikin UE Kalang Kabut

RUSIA HENTIKAN PASOKAN : Para pekerja tengah mengelas pipa gas di wilayah Rusia belum lama ini. Ancaman Rusia bukan isapan jempol belaka, hentikan pasokan gas ke UE.
Social Media

OSLO, Bisnistoday – Rusia menghentikan aliran gas melalui pipa utama, mengirimkan gelombang kejutan lain melalui ekonomi di kawasan yang masih berjuang untuk pulih dari pandemi. Hal ini sontak membuat harga gas Eropa melonjak, saham merosot dan euro tenggelam pada Senin (5/9) waktu setempat.

Sementara, Pemerintah Uni Eropa (UE) mengantisipai melalui paket multi-miliar euro untuk mencegah keterpurukan utilitas serta tekanan likuiditas rakyatnya dan untuk melindungi rumah tangga dari tagihan energi yang melonjak.

Harga bisa naik lebih lanjut, setelah Gazprom yang dikendalikan negara Rusia menyatakan akan berhenti memompa gas melalui jaringan pipa Nord Stream 1.

Disisi lain, Eropa menuduh Rusia penghentian pasokan energi sebagai pembalasan atas sanksi Barat yang dijatuhkan pada Moskow atas invasinya ke Ukraina. Sebaliknya, begitupun Rusia menyalahkan sanksi tersebut karena menyebabkan masalah pasokan gas, yang disebabkan oleh kerusakan pipa.

Karenaya, banyak distributor listrik Eropa telah runtuh dan beberapa generator besar dapat berisiko, terkena pembatasan yang membatasi kenaikan harga yang diberikan kepada konsumen. Bisa saja, terperangkap oleh upaya lindung nilai, dengan harga gas sekarang melonjak 400 persen lebih dari setahun yang lalu.

Terkait hal ini, Finlandia menawarkan 10 miliar euro (10 miliar dolar AS) dan Swedia 250 miliar krona Swedia (23 miliar dolar AS) untuk menjamin likuiditas perusahaan listrik mereka.

“Program pemerintah adalah opsi pembiayaan terakhir bagi perusahaan yang terancam bangkrut,” kata Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin.

Penyedia utilitas menjual listrik dengan harga dimuka untuk mengamankan harga tertentu tetapi harus mempertahankan deposit “margin minimum” dalam kasus gagal bayar sebelum mereka memasok listrik. 

Ini memacu lebih tinggi seiring melonjaknya harga listrik, membuat perusahaan mengingkan untuk transaksi secara uang tunai.

Harga acuan gas mengalami kenaikan 35 persen pada salah satu lokasi pada Senin (5/9) setelah Gazprom mengatakan pada Jumat kebocoran pada peralatan pipa Nord Stream 1. Ini berarti akan tetap ditutup setelah penghentian pemeliharaan tiga hari minggu lalu.

Guncang Pasar Keuangan

Pasar keuangan Eropa terguncang oleh berita tersebut, dan direspon Euro tenggelam ke level terendah 20 tahun dan saham berjatuhan. Nord Stream 1, yang mengalir di bawah Laut Baltik ke Jerman, memasok sekitar sepertiga dari gas yang diekspor Rusia ke Eropa. Meskipun sudah beroperasi, hanya mampu memasok 20 persen dari kapasitas sebelum penghentian pemeliharaan minggu lalu.

“Masalah dengan pasokan gas muncul karena sanksi yang dikenakan pada negara kami oleh negara-negara Barat, termasuk Jerman dan Inggris,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, Senin (5/9). “Tidak ada alasan lain yang menyebabkan masalah dengan pasokan,” tambah Peskov.

Dia juga mengatakan Rusia akan membalas jika negara-negara G7 memberlakukan batasan harga pada minyak Rusia.

Meskipun Rusia juga mengirim gas ke Eropa melalui pipa melintasi Ukraina, pasokan tersebut juga telah berkurang selama krisis, membuat Uni Eropa berlomba untuk menemukan pasokan alternatif guna mengisi ulang fasilitas penyimpanan gas untuk musim dingin.

Jerman Sangat Bergantung

Jerman, lebih bergantung daripada kebanyakan negara Uni Eropa pada gas Rusia, telah menawarkan dana talangan multimiliar Euro untuk utilitas listrik Uniper. Berlin mengatakan juga akan menghabiskan setidaknya 65 miliar euro untuk melindungi pelanggan dan bisnis dari melonjaknya inflasi, dipicu oleh melonjaknya harga energi.

Berlin mengatakan pada Senin (5/9) bahwa pihaknya berencana untuk menjaga dua dari tiga pembangkit listrik tenaga nuklir yang tersisa dalam keadaan siaga, melampaui batas waktu akhir tahun untuk membuang bahan bakar sama sekali, untuk memastikan memiliki listrik yang cukup selama musim dingin.

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Senin (5/9) bahwa langkah itu tidak berarti Berlin mengingkari janji lama untuk keluar dari energi nuklir pada akhir 2022.

Beberapa industri padat energi di Eropa, seperti pembuat pupuk dan produsen aluminium, telah mengurangi produksinya. Industri lain, yang sudah bergulat dengan kekurangan chip dan kebuntuan logistik, menghadapi tagihan bahan bakar yang meroket./Ant

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Anne Carson, peraih Nobel Sastra 2026 (Dok: Nobelprize.org)
HumanioraKawasan Global

Penyair asal Kanada Anne Carson Raih Nobel Sastra 2026

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Penulis puisi asal Kanada, Anne Carson meraih Nobel Sastra...

Polisi antihuru-hara berhadapan dengan siswa SMA saat unjuk rasa di Paris [Yves Herman/Reuters]
Kawasan Global

Ribuan Pelajar di Prancis Demo Tuntut Fasilitas Belajar yang Layak

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Aksi protes siswa sekolah menengah di Prancis terus berlanjut....

Perdagangan Global
HEADLINE NEWSKawasan Global

Menteri Perdagangan G20 Tolak Persoalan Pangan Dijadikan Alat Geopolitik

WISCONSIN AS, Bisnistoday.co.id – Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mengatakan, para Menteri...

Kawasan Global

Partai Gelora: Dinamika Sidang Umum PBB ke-81 Ubah Pergeseran Peta Diplomasi Global

Partai Gelora: Dinamika Sidang Umum PBB ke-81 Ubah Pergeseran Peta Diplomasi Global...