BANDUNG, Bisnistoday – Program Gempolin (Gerakan Mengolah Data, Pilah, Olah, Manfaatkan Sampah Terintegrasi Berbasis Masyarakat) mendorong warga Kelurahan Gempol Sari, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung, untuk mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah.
Melalui Gempolin, warga tidak hanya diarahkan membuang sampah, tetapi mulai memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah dari rumah. Program ini juga didukung aplikasi yang memungkinkan warga mencatat jenis dan perkiraan berat sampah, menentukan titik pengumpulan, mengunggah foto, hingga mengajukan permintaan pengambilan.
Salah seorang warga RT 04 RW 04, Hesti, mengaku terbantu dengan program tersebut. Menurutnya, warga di lingkungannya mulai terbiasa memilah sampah meski masih membutuhkan pendampingan dalam pengolahan.
“Alhamdulillah sih terbantu sekali. Soalnya warga sini baru bisa memilah, belum bisa mengolah. Jadi dengan adanya Gempolin ini terbantu sekali,” ujar Hesti, Sabtu (22/8).
Lurah Gempol Sari, Ruslan Adidjaja, mengatakan Gempolin secara khusus diarahkan untuk menangani sampah organik yang belum terakomodasi program pengelolaan sampah lainnya.
“Gempolin itu salah satu program untuk penanganan sampah, khususnya organik di kelurahan. Warga didata dulu, yang sudah memilah maupun yang belum, kemudian kita edukasi,” kata Ruslan.
Menurut Ruslan, Gempolin mampu menangani sekitar 200 kilogram sampah organik per hari. Sampah yang telah dipilah diambil petugas Gober untuk kemudian diolah, antara lain menjadi pakan maggot dan kompos.
Perubahan perilaku warga juga mulai terlihat. Ruslan menyebut hampir 90 persen warga Gempol Sari kini telah memilah sampah.
Gerakan Pemilihan Sampah
Sementara itu, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Gempol Sari, Wahidin Sinaga, menjelaskan Gempolin bukan sekadar aplikasi, melainkan gerakan yang mengintegrasikan pendataan, pemilahan, pengolahan hingga pemanfaatan sampah.
Pendataan dilakukan oleh kader Gempolin yang berasal dari kelompok tani dan Dasawisma. Hingga kini, sebanyak 2.093 kartu keluarga atau sekitar 63 persen dari total KK telah terdata.
Untuk memperkuat edukasi, Gempol Sari melibatkan sekitar 300 kader Gempolin yang tersebar di 10 RW dan 67 RT. Para kader mendatangi rumah warga untuk melihat langsung kebiasaan pemilahan sampah sekaligus memberikan edukasi.
“Kalau sosialisasi dikumpulkan banyak biasanya kurang efektif. Kita punya kader-kader Gempolin yang berkeliling, mengetuk pintu untuk melihat kondisi keluarganya sudah memilah atau belum. Jadi diedukasi langsung,” ungkap Wahidin.
Pengolahan sampah juga disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah. Metodenya antara lain menggunakan komposter, bata terawang, loseda, rumah maggot hingga lubang kompos.
Sampah organik yang telah diolah kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kebun masyarakat di kawasan Buruan Sae Mekarwangi. Hasilnya berupa sayuran dapat dibagikan kepada warga, termasuk untuk mendukung penanganan stunting, atau dijual jika berlebih.
Dengan pendekatan tersebut, Gempolin tidak hanya membuat pengelolaan sampah lebih tertib, tetapi juga mendorong sampah organik menjadi sumber manfaat bagi masyarakat.E2







































