DEPOK, Bisnistoday – Bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite mulai perlahan menghilang pasca Pemerintah bersama Pertamina menaikkan harga Pertamax menjadi Rp12.500 per liter. Warga cenderung memilih Pertalite ketimbang Pertamax dengan perbandingan atau selisih harga yang jauh.
“Kami mau membeli Pertalite di Jl. Lenteng Agung, dan Jalan Cinere tidak ada. Tertulis Pertalite sedang dikirim. Baru dapat Pertelite di Jl Raya Sawangan, namun banyak yang antre juga,” ujar Pratama (25 tahun) saat ditemui di SPBU, Depok, MInggu (3/4).
Ia berpendapat, apabila harga Pertalite saat ini, Rp7650 per liter dibanding dengan Pertamx jauh perbedaannya. Demikian juga, yang ingin membeli Pertelite dalam antrean juga mobilnya tergolong mahal. “Warga tetap memburu Pertalite, sepertinya. Bisa berhemat,” tuturnya.
Berita Terkait : Harga Pertamax Naik Menjadi Rp 12.500 per Liter Hari Ini
Sementara, Ekonom Senior Rizal Ramli dalam akun IG@rizalramli_official mengatakan, sebenarnya pemecahannya sederhana. Seperti di Malaysia, harga Pertamax yang RON nya sama dengan Indonesia dijual Rp8.800 per liter, kenapa dijual Rp12.500 per liter.“Ada inefisiensi di Pertamina sangat besar.”
Rizal mengatakan, dua setengah tahun lalu, pernah harga minyak mentah cukup rendah, sebenarnya Pertamina juga untung, anggaplah dua tahun lebih. Namun sayangnya, Pertamina tidak melakukan efisiensi, sehingga ketika dibutuhkan anggaran sudah tidak ada.
“Kalau kebutuhan pokok, pemerintah harus berpihak kepada masyarakat, dengan menyediakan pasokan yang cukup dan harga terjangkau,” tuturnya.
Sekarang ini, menurut Rizal Ramli, pemerintah mai lepas saja ke pasar, dan hal ini membahayakan bisa memicu persoalan sosial ekonomi. Semestinya ada cara untuk menningkatkan efisiensi Pertamina.
“Harga minyak dunia USD 60 per barel, dan sekarang diatas itu, sehingga masuk hitungan bisnis dan cadangan minyak cukuplah tinggi,” ujarnya.
Hal kedua, menurut Rizal Ramli, pemerintah tidak boleh serta merta dengan alasan keuangan langsung BBM dinaikkan. “Audt dulu dong. Pertamina efisien atau tidak, atau bocor, dan kalaupun disepakati ada caranya. Jangan seenaknya aja apa-apa dinaikkan saja. Kalau begini itu sih tak perlu sekolahan,” cetusnya./







































