JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah memperkirakan pertumbuhan Ekonomi pada Semester II 2023 berkisar antara 5-5,3%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi pada semester I-2023 diharapkan menembus kisaran 5-5,2%. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Selasa (11/7).
“Ini masih di bawah asumsi sampai dengan semester I pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih di 5,0-5,2 persen, nanti angka pastinya pada Agustus,” kata Sri Mulyani dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Menurut Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi dan ekspor yang masih terjaga. Di sisi lain, laju inflasi juga terjaga dengan terkendalinya inflasi pangan dan administered price. Pada semester I, laju inflasi tercatat sebesar 3,5 persen.
“Kementerian Keuangan memprediksi laju inflasi pada semester II-2023 berada di level 3,3 persen hingga 3,7 persen.
Bunga Utang
Sementara itu, lanjut Menkeu, suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun pada semester II-2023 diperkirakan berkisar 6,6 persen hingga 7,1 persen. Hingga semester I, suku bunga SUN 10 tahun berada di level 6,70 persen.
Sedangkan, perkiraan capaian sepanjang tahun di kisaran 6,6 persen hingga 6,9 persen, lebih dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar 7,9 persen.
Sri Mulyani mengutarakan, tren penurunan SUN 10 tahun dipengaruhi oleh inflasi yang terkendali, membaiknya minat investor, dan upaya pemerintah dalam mengendalikan suplai Surat Berharga Negara (SBN).
Selanjutnya mengenai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada semester II-2023 diperkirakan berkisar Rp14.950 hingga Rp15.400, lebih tinggi dari target APBN yang sebesar Rp14.800.
Menurut Menkeu, nilai tukar rupiah mengalami tekanan di tengah pengetatan kebijakan moneter global. Secara keseluruhan, Sri Mulyani memproyeksikan nilai tukar rupiah berkisar Rp15.000 hingga Rp15.250 untuk sepanjang tahun 2023./Ant/





































